Mengenal Super Flu yang Kini Masuk RI, Gejala dan Cara Menanganinya

Wait 5 sec.

Ilustrasi Anak Flu Foto: ShutterstockPenyakit super flu yang berasal dari AS kini sudah masuk dan menyebar di Indonesia. Sebanyak 62 kasus penyakit super flu terdeteksi di sejumlah provinsi, termasuk Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Selatan.Hal tersebut terungkap dari sistem surveilans nasional hingga akhir tahun 2025. Juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), drg Widyawati, menjelaskan temuan tersebut berasal dari laporan 88 sentinel influenza like illness (ILI) dan severe acute respiratory infections (SARI) yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka meliputi puskesmas, balai kesehatan, dan rumah sakit.Apa Itu Super Flu?Meski istilah “super flu” kini ramai diperbincangkan di masyarakat, para ahli menegaskan sebutan tersebut bukan istilah ilmiah resmi. Secara medis, kondisi yang disebut super flu umumnya merujuk pada infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza tertentu atau virus pernapasan lain, seperti rhinovirus, adenovirus, atau respiratory syncytial virus (RSV).Gejala yang muncul bisa berupa demam tinggi, batuk, pilek berat, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan ekstrem, hingga gangguan pencernaan pada sebagian pasien.Menurut James Hay, Peneliti Rekanan, Pemodelan Penyakit Menular di Oxford University, tingkat penyebaran virus dan tingkat keparahan penyakit super flu ini masih berada dalam kategori normal.Virus influenza memang terus berevolusi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Itulah sebabnya vaksin flu harus diperbarui secara berkala. Dalam tahun-tahun tertentu, mutasi virus bisa lebih signifikan, dengan perubahan besar biasanya terjadi setiap empat hingga lima tahun.Subtipe flu yang dominan tahun ini adalah influenza A (H3N2) subclade K, yang sebenarnya sudah ada sejak 1968 dan telah mengalami banyak perubahan dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, fenomena yang disebut “super flu” sebenarnya muncul setiap beberapa tahun sekali.Ilustrasi Anak Flu Foto: ShutterstockApa Bedanya Super Flu dengan Flu Biasa?Data terbaru CDC mengindikasikan strain H3N2, khususnya subvarian K, menjadi varian dominan di AS dan dinilai lebih menular dibandingkan strain flu lainnya. Saat ini, H3N2 menyumbang hampir 90 persen dari seluruh kasus flu yang dilaporkan di AS.“Jelas terlihat varian ini mengungguli strain flu lainnya, yang mengindikasikan tingkat penularannya lebih tinggi,” ujar Dr. David Weber, spesialis penyakit menular dari UNC Health, kepada The Observer.Sejumlah penelitian dan laporan pemantauan juga menunjukkan musim flu yang didominasi H3N2 cenderung dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah, serta angka rawat inap dan kematian yang lebih tinggi, terutama pada kelompok lanjut usia. Dampaknya dinilai lebih berat dibandingkan strain lain seperti H1N1 dan influenza B.Mengapa Kasus Super Flu Banyak Terjadi pada Anak dan Remaja?Anak-anak dan remaja lebih rentan terinfeksi flu karena tingkat kontak yang tinggi di sekolah, tempat penyebaran virus sering terjadi. Selain itu, sistem kekebalan mereka masih tidak sekuat orang dewasa dalam menghadapi virus influenza.Pada orang dewasa, risiko terinfeksi umumnya lebih rendah karena frekuensi kontak yang lebih sedikit dan kekebalan yang lebih terbentuk. Namun, lansia di atas 64 tahun lebih berisiko mengalami gejala berat jika terinfeksi, karena banyak di antaranya memiliki penyakit penyerta dan sistem imun yang melemah akibat proses immunosenescence. Bayi juga termasuk kelompok rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang sempurna.Efektivitas Vaksin Lebih Rendah pada LansiaData terbaru menunjukkan vaksin flu mampu menurunkan risiko rawat inap akibat flu sekitar 30 hingga 40 persen pada lansia. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan vaksin untuk beberapa virus lain, tapi masih sejalan dengan efektivitas vaksin flu pada tahun-tahun sebelumnya.Karena itu, vaksinasi tetap menjadi langkah terbaik untuk melindungi diri sekaligus mengurangi infeksi super flu. Vaksin terbukti efektif mencegah flu berat. Anak-anak yang divaksin memiliki risiko 70 hingga 75 persen lebih rendah untuk dirawat di IGD atau dirawat di rumah sakit akibat flu. Sementara pada orang dewasa, penurunannya sekitar 30 hingga 40 persen.Seorang warga mendapat vaksin influenza di cabang Asosiasi Promosi Kesehatan Korea di Seoul, Korea Selatan, Jumat (23/10). Foto: Kim Hong-Ji/REUTERSPerbedaan ini sebagian karena jenis vaksin yang digunakan. Anak-anak diberikan vaksin semprot hidung, sedangkan orang dewasa menerima suntikan. Penelitian menunjukkan vaksin semprot hidung lebih efektif pada anak-anak, tapi kurang optimal pada orang dewasa.Faktor lain adalah kekebalan yang sudah terbentuk sebelumnya. Orang dewasa telah terpapar banyak virus flu sepanjang hidupnya, sehingga manfaat tambahan dari satu dosis vaksin mungkin lebih kecil, meski tetap penting.Jika Terkena Flu, Harus ke Mana?Jika merasa sakit, tetaplah di rumah, istirahat, dan lakukan langkah pencegahan agar tidak menularkan ke orang lain. Flu memang terasa sangat tidak nyaman, tetapi kebanyakan orang akan mengalaminya bisa pulih dengan sendirinya.Namun, tetap ikuti panduan kesehatan yang berlaku mengenai kapan harus mencari bantuan medis, termasuk menghubungi layanan kesehatan atau rumah sakit terdekat, segera datang ke IGD jika kondisi memburuk.Apakah Terlambat Vaksinasi Sekarang?Tidak. Masih ada waktu, dan semakin cepat semakin baik. Meski kasus di RI masih tergolong rendah, namun risiko penularan masih ada, sehingga perlindungan tambahan dari vaksin tetap sangat bermanfaat.Lonjakan kasus flu musim ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan belum boleh kendor. Di tengah dominasi varian H3N2, langkah pencegahan sederhana dan vaksinasi masih menjadi kunci untuk menekan dampak “super flu” yang kini merebak.Cara Melindungi Diri dari FluSejumlah langkah pencegahan yang dianjurkan tenaga kesehatan antara lain:Gunakan masker, terutama di dalam ruangan dan tempat ramai, karena flu menyebar lewat partikel udara.Lakukan vaksinasi, baik untuk anak-anak, orang dewasa, maupun lansia. Lakukan pengobatan dini jika gejala flu melanda, seperti meminum antivirus oral, yang paling efektif jika diberikan dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul. Namun, tetap harus konsultasi dahulu dengan dokter.Terapkan kebiasaan dasar pencegahan, seperti menutup mulut saat batuk atau bersin, rajin mencuci tangan, meningkatkan sirkulasi udara, dan tetap di rumah saat sedang sakit.