Yang Perlu Diketahui soal Penyakit Super Flu

Wait 5 sec.

Ilustrasi orang demam dan flu. Foto: Africa Studio/ShutterstockFenomena yang disebut super flu — terkait dengan influenza A (H3N2) subclade K — tengah jadi perbincangan setelah sejumlah kasus terdeteksi di Indonesia dan lonjakan kasus rawat inap di Amerika Serikat. Berbagai pihak, termasuk DPR, Kemenkes, dan ahli kesehatan, memberi penjelasan terkait risiko, perbedaan dengan flu biasa, serta imbauan kepada publik agar tak panik.Berikut sejumlah pandangan terkait superflu, dari DPR, ahli kesehatan, hingga Kementerian Kesehatan.Penyakit Super Flu Masuk RI, Komisi IX DPR Minta Publik Tidak PanikAnggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyampaikan sikapnya tentang kondisi super flu yang sudah terdeteksi di Indonesia:“Informasi dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa varian ini sudah terpantau dan hingga kini belum terbukti menyebabkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan influenza sebelumnya. Ini penting disampaikan agar masyarakat tetap tenang, rasional, dan mengikuti anjuran kesehatan,” ujar Netty di Jakarta, Rabu (31/12).Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani. Foto: PKSDalam penjelasan panjangnya, Netty juga menyatakan apresiasi pada Kemenkes soal pemantauan dan keterbukaan informasi kepada publik, dan mengingatkan tentang pentingnya langkah pencegahan dasar seperti menjaga kebersihan serta penggunaan masker di kondisi tertentu.62 Kasus Super Flu yang Heboh di AS Sudah Masuk RI, Terbanyak di JatimJuru bicara Kemenkes RI, drg Widyawati, mengungkapkan data dari surveilans nasional terkait temuan kasus super flu hingga akhir Desember 2025:“Berdasarkan pemeriksaan dari 88 sentinel ILI SARI di seluruh Indonesia yang diperiksa di laboratorium kesehatan masyarakat serta laboratorium rujukan berstandar biosafety level 3 (BSL-3), hingga akhir Desember tercatat total 62 kasus di delapan provinsi,” kata drg Widyawati dalam keterangannya, dikutip Jumat (2/1).Tangkapan layar Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati. Foto: HO-Kementerian Kesehatan/ANTARADari delapan provinsi, kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Dalam artikel itu juga disebut pernyataan ahli yang menjelaskan istilah super flu yang ramai dibicarakan sebagai penyakit flu akibat H3N2 subclade K.Kasus Rawat Inap Super Flu di AS Naik Jadi 19.053 Orang, Kematian MeningkatEks Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, memberi penjelasan atas tren global super flu, termasuk di Amerika Serikat:“Kalau mau ditelusuri ke belakang lagi, pernah ada peningkatan kasus flu dunia yang cukup besar di tahun 1968 yang juga akibat virus influenza A H3N2, walaupun waktu itu belum yang sub clade K,” kata Tjandra dalam keterangan tertulis, Jumat (2/1).Ilustrasi foto dari virus H3N2. Foto: Celso Pupo/ShutterstockIa juga menyampaikan data terbaru tentang angka rawat inap di AS:"Informasi terakhir per 30 Desember 2025 dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa influenza ada dalam kategori tinggi atau sangat tinggi di 32 negara bagian negara itu. Angka 32 itu meningkat dari 17 negara bagian di minggu sebelumnya," kata Tjandra."Angka perawatan pasien influenza di rumah sakit di Amerika Serikat juga meningkat menjadi 19,053 dari 9.944 di minggu sebelumnya," sambungnya.Siapa Saja Kelompok Rentan yang Harus Dijaga dari Super Flu?Dalam penjelasan Kemenkes RI tentang kondisi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia, dr. Prima Yosephine menyampaikan sejumlah fakta epidemiologi dan kelompok rentan:“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar dr. Prima dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (2/1).dr. Prima Yosephine, Direktur Imunisasi Kemenkes RI dalam acara Kelas Jurnalis 2025: Lawan Misinformasi Kanker Leher Rahim di Era AI, di Jakarta Selatan, Senin (17/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparanIa juga menjelaskan bahwa hingga akhir Desember 2025 tercatat 62 kasus super flu di delapan provinsi, dengan mayoritas terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak. Untuk perlindungan, masyarakat diimbau menerapkan PHBS serta vaksinasi influenza tahunan, terutama untuk lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.Dokter Bilang Super Flu Bikin Badan Remuk, Jelaskan Bedanya dengan Flu BiasaDr. Ngabila Salama dari UI menjelaskan perbedaan gejala antara flu biasa dan gambaran yang disebut super flu dalam persepsi masyarakat.“Flu biasa ditandai dengan pilek, bersin, batuk ringan, sakit tenggorokan, demam ringan atau bahkan tanpa demam, serta badan yang terasa agak pegal,” katanya.Kepala Seksi Surveillance, Epidemologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta dr Ngabila Salama, MKM. Foto: Instagram/@ngabilasalamaIa kemudian menjelaskan konsep super flu secara awam:“Seluruh badan ‘kena’, jauh lebih melumpuhkan,” katanya.Gejalanya antara lain demam tinggi mendadak dengan suhu di atas 38,5 derajat Celsius, nyeri otot berat hingga badan terasa remuk, sakit kepala hebat, batuk kering yang kuat, serta lemas ekstrem hingga penderitanya sulit bangun dari tempat tidur.“Super Flu juga bisa disertai mual, muntah, atau diare,” ujar Ngabila.Dari sisi durasi, Super Flu cenderung berlangsung lebih lama, yakni sekitar 7 hingga 14 hari. Kondisi ini juga berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru dan sinusitis berat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta.Menkes soal Super Flu: Tidak Mematikan Seperti COVID-19, Tak Usah KhawatirMenteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pandangan resmi pemerintah tentang risiko super flu.“Superflu ini sebenarnya influenza tipe A. Sudah ada dari dulu. Virusnya namanya H3N2. Cuma variannya varian K,” kata Budi.Ia membandingkan varian flu tersebut dengan varian pada virus COVID-19 yang sempat merebak sebelumnya.Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (tengah) bersama Dirut BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti (kiri) menyampaikan paparan saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/11/2025). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO“Ini kan ada Omicron, Delta, inget kan dulu kan? Ini sama, ini virus. Virusnya H3N2. Kalau dulu kan virusnya COVID-19. Ini virusnya H3N2. Variannya varian K,” ujarnya.Ia juga membandingkan super flu dengan virus yang menyebabkan COVID-19, menekankan bahwa influenza H3N2 merupakan virus lama yang terus beredar. Masyarakat pun diimbau tetap menjaga imunitas, istirahat cukup, dan kesehatan tubuh untuk menghadapi penyakit tersebut bila terinfeksi.“Yang penting buat teman-teman, ya jaga kesehatan, imunitasnya, istirahatnya cukup. Sehingga kalau kena, sama seperti flu biasa, bisa kembali lagi,” ujarnya.“Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak, ini adalah flu biasa. Influenza H3N2.”