Indonesia di Penghujung 2025: Demokrasi yang Terengah-engah, Ekonomi Merangkak

Wait 5 sec.

Peta Baru Indonesia. Foto: Amanaturrosyidah/kumparanDi penghujung tahun 2025, Indonesia berdiri di persimpangan yang membingungkan. Demokrasi kita bernapas dengan berat, seperti pelari yang kelelahan namun dipaksa terus berlari. Ekonomi kita bergerak, tetapi seperti merangkak di jalur yang penumbuh ranjau ketimpangan. Sebagai bangsa yang 27 tahun lalu merayakan reformasi dengan gegap gempita, kita kini disuguhi sebuah ironi: prosedur demokrasi berjalan, tetapi ruhnya menguap; angka pertumbuhan ekonomi dipamerkan, tetapi rasa keadilan sosial semakin menjauh.Tulisan ini bukan sekadar kritik, melainkan potret diagnostik berdasarkan data, teori, dan pengamatan langsung di lapangan— khususnya dalam dinamika pemerintahan daerah yang sering menjadi cermin miniatur Indonesia.Secara teori, demokrasi bukan hanya tentang pemilu, melainkan juga accountability, partisipasi, dan kebebasan berekspresi.Namun, menurut The Economist Intelligence Unit (2024), Indeks Demokrasi Indonesia turun ke peringkat 65 dunia dengan skor 6,48. Penurunan ini bukan kebetulan.Di tingkat akar rumput, partisipasi politik warga makin menipis. Data KPU (2024) mencatat partisipasi pemilu hanya 81,78%, terendah dalam dua dekade terakhir. Ini gejala democratic fatigue: rakyat lelah dengan politik transaksional, kampanye hitam, dan janji yang menguap pasca-pemilu.Teori delegative democracy (O’Donnell, 1994) relevan di sini: pemimpin terpilih memerintah dengan mandat luas, tetapi mekanisme check and balance lemah. Akibatnya, kebijakan sering reaktif, tidak partisipatif, dan lebih mengutamakan kepentingan elite politik daripada publik.Di daerah, situasi lebih memprihatinkan. Pilkada kerap dibayangi politik uang dan dinasti. Ruang dialog seperti musrenbang sering menjadi formalitas belaka. Hasilnya, kebijakan daerah kerap tak menyentuh kebutuhan riil masyarakat.Ekonomi yang Tumbuh tapi PincangPertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 diproyeksikan sekitar 5,0%—angka yang tampak gemilang di atas kertas. Namun, seperti ditegaskan teori inclusive growth(World Bank), pertumbuhan harus dibarengi pemerataan akses dan peluang. Di sini Indonesia gagal.Data BPS September 2024 menunjukkan Gini Ratio tetap tinggi di 0,384. Artinya, kesenjangan antara si kaya dan si miskin nyaris tak beranjak. Yang lebih mengkhawatirkan: 20% kelompok terbawah hanya menikmati 6,5% dari total pengeluaran nasional, sementara 20% teratas menguasai hampir separuhnya.Kita juga terjebak dalam middle-income trap: pertumbuhan ditopang konsumsi dan ekspor komoditas, bukan inovasi atau industri bernilai tambah tinggi. Investasi asing langsung (FDI) memangmasuk, tetapi sering ke sektor ekstraktif yang minim penciptaan lapangan kerja berkualitas.Di tingkat daerah, ketergantungan pada transfer pusat (DAU dan DAK) mencapai 70% dari APBD di banyak kabupaten. Otonomi daerah malah jadi kutukan ketika kapasitas fiskal dan SDM terbatas. UMKM—yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi lokal—kesulitan akses pembiayaan dan pasar.Pemerintahan yang TerfragmentasiTeori multi-level governance menekankan pentingnya koordinasi antar tingkat pemerintahan. Namun, dalam praktiknya, Indonesia lebih mirip multi-level confusion. Menurut Bappenas (2024), hanya 30% RPJMD yang selaras dengan RPJMN. Akibatnya, program pusat kerap mentah di tingkat daerah.Contoh nyata: program pengentasan stunting. Meski dana digelontorkan, prevalensi stunting di sejumlah daerah justru stagnan karena salah sasaran dan tumpang tindih program. Ini cermin policy incoherence yang mahal harganya: anggaran membengkak, hasil minim.Birokrasi kita juga masih terjebak dalam silo mentality. Setiap kementerian dan dinas daerah bekerja sendiri-sendiri, tanpa sinergi. Pelayanan publik masih lambat dan berbelit, meski jargon "digitalisasi" terus digaungkan. E-budgeting, misalnya, baru diterapkan di 45% daerah. Sisanya masih manual—dan rentan korupsi.Titik Tumpu: Daerah sebagai Harapan Terakhir?Dalam konteks ini, pemerintahan daerah bukan hanya bagian dari masalah, tetapi juga kunci solusi. Sayangnya, banyak kepala daerah lebih fokus pada proyek fisik yang kasat mata—jalan, jembatan, balai kota—daripada pembangunan kapasitas, inovasi layanan, atau pemberdayaan masyarakat.Studi lapangan di Jawa Barat dan Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa di daerah dengan kepemimpinan yang visioner dan partisipatif, indeks demokrasi lokal dan pertumbuhan inklusif bisa lebih baik. Namun, contoh seperti ini masih menjadi pengecualian, bukan norma.Rekomendasi: Tidak Ada Jalan PintasKita tidak bisa mengandalkan waktu atau momentum. Perbaikan harus dimulai sekarang, dengan langkah konkret:• Pemulihan Demokrasi Substansial- Perkuat Bawaslu dan DKPP dengan kewenangan investigasi independen.- Wajibkan keterbukaan pendanaan partai politik dan kampanye.- Hidupkan kembali musrenbang dengan mekanisme partisipatif yang riil, bukan seremonial.• Transformasi Ekonomi yang Berpihak pada Rakyat- Alihkan insentif fiskal dari sektor ekstraktif ke ekonomi hijau dan industri kreatif serta UMKM- Bangun sistem pembiayaan UMKM yang sederhana, cepat, dan terjangkau.- Perkuat sistem jaminan sosial yang inklusif untuk menyangga kelompok rentan.• Pemerintahan yang Kolaboratif dan Cerdas- Gunakan platform digital untuk sinkronisasi perencanaan pusat-daerah.- Berikan reward bagi daerah yang berhasil menurunkan ketimpangan dan meningkatkan kualitas demokrasi lokal.- Reformasi birokrasi dengan merit system dan pengupahan yang layak.• Membangun Kembali Kepercayaan Publik- Transparansi anggaran dari level desa hingga pusat melalui portal terbuka.- Libatkan masyarakat dalam monitoring dan evaluasi kebijakan.- Jadikan data bukan sekadar angka, tetapi alat akuntabilitas.Penutup: 2025, Titik Balik atau Titik Terendah?Potret buram Indonesia di penghujung 2025 bukan takdir, melainkan konsekuensi dari pilihan kebijakan dan politik yang salah arah. Kita masih punya waktu untuk membalikkan keadaan, tetapi diperlukan keberanian politik yang langka: keberanian untuk mengutamakan rakyat di atas kepentingan elite, keberanian untuk berpikir jangka panjang di tengah euforia elektoral, dan keberanian untuk mengatakan yang benar meski pahit.Jika tidak, demokrasi yang terengah-engah dan ekonomi yang merangkak bukan hanya menjadi metafora, melainkan batu nisan bagi cita-cita Indonesia yang adil dan makmur.