Dopamin Dracin: Katarsis Instan di Balik Layar Vertikal

Wait 5 sec.

Ilustrasi Drama China. Sumber: Unsplash/Getty ImagesDi tengah proses saya menata ulang hidup—yang jujur saja, lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya—saya memutuskan untuk kembali ke kebiasaan lama: membaca. Saya membayangkan diri saya duduk di kafe, memegang buku The Myth of Sisyphus karya Camus, dan terlihat intelektual di hadapan mbak-mbak barista.Namun, realitas memang sering kali menjadi musuh bebuyutan ekspektasi. Konsentrasi saya justru buyar bukan karena karena seorang kawan yang sedang keranjingan menonton drama China (dracin) di pojokan.Dia tidak menonton di layar televisi atau laptop secara horizontal layaknya manusia normal. Dia memegang ponselnya tegak lurus, jempolnya bergerak cepat men-scrolling part demi part yang durasinya lebih singkat dari waktu yang saya butuhkan untuk menyeduh mi instan.Rasa penasaran akhirnya menang. Saya menyerah pada godaan algoritma dan menonton tiga judul sekaligus: 1) Putri Asli itu si Jenius, 2) Istriku Tiga, Takdirku Gila, dan 3) Hitung Mundur Takdir.Kesimpulan pertama saya: ceritanya jelek sekali. Klise, absurd, aktingnya terkadang lebay, dan logikanya sering kali minta ampun. Namun, ada satu "tapi" besar yang membuat saya malu mengakuinya: ini seru yang campur aduk dengan rasa geli.Menonton dracin format vertikal itu seperti makan cimin di pinggir jalan; kamu tahu itu isinya cuma tepung dan penyedap rasa yang tidak sehat, tapi lidahmu terus menagih karena dopaminnya meledak instan.Hal pertama yang menarik perhatian saya bukanlah plotnya, melainkan keberanian mereka menggarap format vertikal. Selama ini, saya didoktrin bahwa sinema yang "bermartabat" haruslah horizontal. Rasio 16:9 atau layar lebar adalah standar emas. Namun, dracin micro-drama ini justru merangkul keterbatasan ponsel pintar.Meski secara teknis punya banyak kelemahan—seperti framing yang sempit dan minimnya latar belakang yang megah—format vertikal ini adalah jawaban atas gaya hidup "rebahan" dengan 24 jam bersama ponsel kita.Ini adalah hiburan yang didesain untuk dikonsumsi sambil lalu, sebuah mobile entertainment yang benar-benar memahami bahwa manusia modern punya rentang perhatian (attention span) yang lebih pendek dari seekor ikan mas koki.Di titik ini, saya sebagai penonton anime ingin menyentil sedikit para otaku yang sering kadang mengolok-olok dracin sebagai tontonan "sampah" atau "rendahan". Wahai kawan-kawanku, sadarlah bahwa jika kita masih menonotn anime isekai kelas dua yang bertema harem atau karakter utama overpowered (OP) sebenernya selera kalian sama saja.Dracin dan anime isekai/overpower/harem mainstream kelas dua itu sebenarnya adalah saudara kembar yang beda ibu saja. Keduanya adalah bentuk wish-fulfillment atau pemenuhan angan-angan.Hubungan antara dracin dan anime isekai sejenis sebenarnya adalah cermin dari obsesi kita pada kekuatan yang tak masuk akal. Anime isekai biasanya mengenal sosok yang kekuatannya di luar nalar overpowered (OP), dracin menerjemahkan ini ke dalam realitas sosial-ekonomi.Tokoh utamanya adalah para CEO konglomerat, jenius, memiliki kekuatan suprarasional, jago beladiri—sebuah katarsis instan bagi kita yang setiap hari ditindas tenggat waktu kantor atau dikejar cicilan paylater. Kehadiran sosok "sakti" dengan saldo rekening tak terbatas ini memberikan kepuasan yang sama dengan jurus sihir: sebuah kekuatan mutlak untuk menegakkan keadilan di dunia yang sering kali tidak adil.Pola ini semakin kental dengan adaptasi struktur harem dan aroma isekai yang sudah lama menjadi candu bagi para wibu. Di dracin, struktur ini dikemas melalui second lead syndrome, di mana karakter utama selalu dikelilingi pemuja yang sempurna. Lebih jauh lagi, tren reinkarnasi dan balas dendam dalam dracin hanyalah bentuk lain dari fantasi isekai—sebuah pelarian ke "dunia lain" demi mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki hidup.Dengan memanfaatkan Zeigarnik Effect, dracin memanipulasi rasa penasaran kita lewat cliffhanger brutal di setiap akhir episode/partnya, memaksa otak kita untuk terus menagih kelanjutan cerita hingga dendam terbalaskan.Semua drama ini kemudian dibungkus dalam estetika visual yang nyaris tidak manusiawi. Melalui kehadiran para flower boys/girl dengan kulit tanpa pori-pori dan balutan kostum high-fashion, dracin menyajikan dunia yang dipoles sedemikian rupa hingga terlihat jauh lebih indah daripada realitas kita yang suram dan berdebu.Sinematografi yang kinclong ini bukan sekadar pemanis, melainkan cara dracin menciptakan simulasi kehidupan yang ideal, di mana kecantikan dan kekayaan selalu menjadi senjata utama untuk menaklukkan takdir yang gila.Sebagaimana dikatakan oleh Jean Baudrillard tentang Simulacra, kita lebih suka mengonsumsi citra dari realitas itu sendiri. Kita tahu bahwa dunia nyata tidak semulus kulit aktor dracin, tapi siapa yang peduli? Kita menonton untuk lari, bukan untuk diingatkan tentang realita hidup yang seringkali suram.Pada akhirnya, popularitas dracin di Indonesia—terutama di kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu —adalah bukti bahwa pasar tidak pernah bohong. Kita butuh hiburan yang cepat, emosional, dan tidak menuntut kita untuk berpikir keras setelah seharian bekerja.Dracin adalah bentuk katarsis emosional yang efisien. Ia menawarkan dunia di mana kita punya kekuatan untuk mengubah takdir, di mana orang jahat selalu kena azab dengan cepat, dan di mana cinta sejati selalu menang (setelah melalui 50 episode kesalahpahaman yang tidak perlu).Jadi, daripada kita saling ejek soal selera tontonan, mungkin ada baiknya kita mengakui satu hal: di hadapan algoritma dopamin, kita semua hanyalah budak yang sama. Baik itu menonton pria berbaju zirah di dunia fantasi atau CEO yang sedang mengamuk di layar vertikal, kita semua hanya sedang berusaha bertahan hidup dari kebosanan dunia yang itu-itu saja.