Udang Murah, Alarm Keberlanjutan Budidaya 2026

Wait 5 sec.

Ilustrasi udang. Foto: Jamal Ramadhan/kumparanPenurunan harga udang yang terjadi tajam pada akhir 2025 bukan sekadar dinamika pasar musiman. Ia adalah sinyal peringatan bahwa fondasi keberlanjutan budidaya udang nasional sedang diuji. Di berbagai sentra tambak, harga di tingkat petambak dilaporkan turun hingga 30—35% dibandingkan periode sebelumnya. Produksi tetap berjalan, kolam tetap panen, tetapi nilai jual terus tergerus.Penurunan ini kerap dijelaskan sebagai dampak kelebihan pasokan global atau melemahnya permintaan ekspor. Namun, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya memadai. Dibalik harga yang melemah, tersembunyi persoalan yang lebih mendasar: rapuhnya kepercayaan pasar terhadap konsistensi mutu dan keamanan produk udang Indonesia.Dua isu menonjol menjadi pemicu: penyakit udang yang tak kunjung teratasi dan munculnya isu keamanan pangan yang menyentuh aspek reputasi.Udang sebagai Komoditas StrategisUdang masih menjadi tulang punggung ekspor perikanan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia konsisten berada di jajaran lima besar eksportir udang dunia, dengan nilai ekspor yang pada 2024—2025 masih bertahan di kisaran USD 1,3—1,4 miliar. Perannya terhadap devisa, penyerapan tenaga kerja, dan ekonomi pesisir sangat signifikan.Ilustrasi kepala udang. Foto: ShutterstockNamun, sebagaimana diingatkan Asche et al. (2021), keunggulan volume produksi tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan daya saing jangka panjang. Industri perikanan yang tidak ditopang oleh konsistensi mutu, manajemen risiko, dan kepercayaan pasar cenderung rentan terhadap guncangan reputasi.Dalam konteks ini, udang Indonesia menghadapi tantangan struktural: intensifikasi produksi berjalan lebih cepat dibanding penguatan sistem kesehatan udang dan ketertelusuran rantai pasok.Isu Keamanan Pangan dan Efek Domino PasarPada pertengahan 2025, laporan Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mengenai temuan isotop radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada satu produk udang beku asal Indonesia mengguncang pasar.Secara ilmiah, kadar Cs-137 yang terdeteksi berada jauh di bawah ambang batas yang membahayakan kesehatan manusia. Namun dalam perdagangan pangan internasional, persepsi risiko sering kali lebih berpengaruh daripada penjelasan teknis.Ilustrasi zat radioaktif. Foto: andriano_cz/Getty ImagesFDA menerbitkan import alert terhadap fasilitas terkait, disusul penarikan produk dari pasar ritel dan pemusnahan di dalam negeri sebagai langkah pengamanan. Walau kasusnya terbatas dan terlokalisasi, efeknya meluas. Importir menahan kontrak, eksportir menghadapi permintaan diskon, dan tekanan harga kembali dirasakan di tingkat petambak.Fenomena ini sejalan dengan temuan Bush et al. (2022) yang menekankan bahwa pasar global semakin menerapkan prinsip zero tolerance terhadap risiko reputasi. Dalam situasi biologis yang rapuh, satu isu saja dapat memicu efek domino yang sistemik.Penyakit Udang: Beban Lama yang Belum TertuntaskanIsu radioaktif sejatinya hanyalah pemicu. Akar persoalan yang lebih lama mengendap berada di tambak: penyakit udang yang bersifat sistemik dan berulang, terutama pada sistem budidaya intensif dan superintensif.White Spot Syndrome Virus (WSSV) masih menjadi penyakit viral paling destruktif, dengan tingkat kematian yang dapat mendekati 100% dalam waktu singkat ketika biosekuriti dan kualitas air terganggu (Lightner et al., 2021).Ilustrasi UdangDokumen PribadiPada fase awal budidaya, Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) yang disebabkan oleh Vibrio parahaemolyticus memicu kematian dini dan panen terpaksa sebelum udang mencapai ukuran ekonomis (Kumar et al., 2022).Sementara itu, Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) yang sering berkorelasi dengan White Feces Disease (WFD) bekerja secara lebih senyap. Penyakit ini jarang mematikan, tetapi sangat merusak performa pertumbuhan, menyebabkan udang kerdil, rasio konversi pakan memburuk, dan ukuran panen tidak seragam, kondisi yang tidak disukai pasar (Stentiford et al., 2023).Bahkan, masalah dapat muncul sejak fase benur melalui Translucent Post Larvae Disease (TPD), yang menggagalkan siklus budidaya sejak hari-hari pertama. Adapun White Muscle Disease (WMD)—meskipun mortalitasnya relatif rendah—berdampak langsung pada kualitas visual udang dan berujung pada penolakan pasar atau penurunan harga.Kombinasi penyakit ini menciptakan tekanan berlapis: mortalitas tinggi, biaya operasional membengkak, panen dini, dan mutu produk yang tidak konsisten.Ilustrasi udang air tawar. Foto: Shutter StockBoyd et al. (2020) menegaskan bahwa intensifikasi tanpa pengendalian kualitas air dan kesehatan udang yang memadai justru meningkatkan risiko penyakit dan menurunkan efisiensi jangka panjang.Harga Murah dan Risiko Terjebak di Segmen RendahHarga udang yang murah sering dianggap menguntungkan konsumen, tetapi bagi industri hulu, kondisi ini adalah sinyal bahaya. Margin petambak menipis, kemampuan investasi ulang melemah, dan risiko keluar dari usaha semakin besar. Dalam jangka panjang, Indonesia berisiko terjebak sebagai price taker di segmen udang murah dengan risiko tinggi.Asche et al. (2021) menekankan bahwa kepercayaan pasar merupakan aset ekonomi strategis. Ketika kepercayaan menurun, harga akan jatuh, terlepas dari volume produksi yang tersedia.Traceability sebagai Pilar KepercayaanDalam konteks ini, traceability bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Pasar global semakin menuntut keterlacakan penuh, mulai dari benur, pakan, penggunaan saprotam, manajemen kesehatan udang, hingga proses panen dan pascapanen (Bush et al., 2022).Ilustrasi udang air tawar. Foto: Shutter StockTanpa sistem traceability dari sisi tambak, satu isu dapat dengan mudah digeneralisasi menjadi risiko nasional. Sebaliknya, dengan data yang transparan dan terdokumentasi, pelaku usaha memiliki alat untuk melindungi produknya dan membuktikan praktik budidaya yang bertanggung jawab.Preferensi konsumen juga bergerak ke arah yang sama. Jensen dan Lagerkvist (2021) menunjukkan bahwa konsumen semakin menghargai produk perikanan yang aman, konsisten mutunya, dan dapat ditelusuri asal-usulnya, bahkan bersedia membayar lebih untuk jaminan tersebut.Alarm 2026 dan Pilihan Masa DepanMurahnya harga udang pada akhir 2025 seharusnya dibaca sebagai alarm dini menuju 2026. Ia mengingatkan bahwa pendekatan lama yang bertumpu pada volume produksi telah mencapai batasnya. Keberlanjutan industri udang ke depan ditentukan oleh kemampuan memperkuat fondasi biologis, manajerial, dan kepercayaan pasar.Jika momentum ini direspons dengan pembenahan nyata, penguatan biosekuriti, traceability dari hulu, dan orientasi kualitas, Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai produsen udang besar, tetapi juga sebagai produsen udang yang sehat, transparan, dan tepercaya. Di era pasar global yang sensitif terhadap risiko, di situlah nilai yang paling menentukan masa depan industri udang nasional.