Jurit Malam

Wait 5 sec.

Ilustrasi jurit malam. Foto: https://www.istockphoto.com/photos/creepy-forestSore itu udara Kiara Payung terasa dingin. Aku dan Lexi masuk ke dalam tenda yang telah kami bangun. Keheningan perkemahan membuat semuanya terasa nyaman dan tenang. Di antara bunyi berbagai makhluk alam dan rintik hujan, Lexi bertanya, “Malam ini beneran ada jurit malam ga sih? Ga sabar banget gua.”“Eh iya, gua ga pernah jurit malam, jadi ga sabar deh,” jawabku dengan semangat seakan itu tujuan utama kami dalam kemah ini.Kami mulai membayangkan bagaimana suasana jurit malam yang akan kami jalani nanti. Dalam benak kami, terlintas gambaran jalan setapak yang gelap, hutan yang hanya diterangi senter kecil, dan udara yang sejuk ditemani suara suara alam.Kami begitu antusias, seolah perjalanan itu sudah ada di depan mata. Bayangan itu terasa menegangkan sekaligus membuat kami semakin penasaran. Obrolan kecil kami mengalir begitu saja, mengisi sore yang dingin dengan campuran antara antusiasme dan rasa tegang yang pelan-pelan tumbuh di dalam diri kami.Malam pun tiba dan jurit malam pun dimulai. Dengan penuh semangat, kami berbaris sambil membawa senter kecil. Namun, tanpa aba-aba, hujan deras tiba-tiba turun. Tidak ada payung, tidak ada tempat berteduh. Kami tetap berjalan menembus derasnya hujan ditemani senter kecil.Di sisi kanan jalan terbentang jurang gelap yang tak terlihat dasarnya. Dan di sisi kiri, terdapat hutan lebat bagaikan dinding hitam. Senter hanya mampu menembus beberapa langkah ke depan. Suara hujan menghantam daun dan tanah, bercampur dengan petir yang menyambar tanpa henti.Suasananya saat itu sangat menakutkan bagiku. “Lexi? Lu masih di sebelah gua kan?” tanyaku setiap beberapa detik melangkah. “Iya, masih kok. Lu juga jangan ninggalin gua ya,” jawab Lexi.Ilustrasi jalan. Foto: Ju Jae-young/ShutterstockAku dan Lexi berjalan sambil menggigil. “Masa iya jurit malam seseram ini?” tanya Lexi sambil menggigil. Udara begitu dingin hingga rasanya menusuk tulang, seluruh tubuhku terasa kaku dan sulit untuk bergerak.Di tengah langkah yang rapuh, terdengar sebuah suara, suara gemuruh air. Suara itu seperti air terjun besar dan datang dari sisi kiri hutan yang gelap. Lexi menoleh cepat, “Lu denger ga? Itu… curug?” Aku pun mendengar suara itu. “Iya gua denger, kayanya sih itu curug ya, suaranya khas banget.”Kami terus membicarakan suara itu untuk mencairkan suasana mencekam dan perasan takut di tengah kegelapan yang begitu dingin. Kami mulai membayangkan keindahan air terjun yang jernih, aliran yang deras, dan embun dingin yang menyebar di sekitarnya.Namun, semakin kami bahas, suara itu justru terdengar semakin dekat. Seolah-olah air terjun itu hanya beberapa langkah di depan kami. Padahal, yang terlihat hanyalah kegelapan dan cahaya yang bersumber dari senter kecil kami.“DUAARRR!!” Tiba-tiba petir menyambar. Cahaya yang begitu terang menerangi langit selama beberapa detik. Suaranya yang sangat keras membuat semua orang panik dan berbalik arah, berusaha kembali ke area perkemahan. Langkah kami perlahan berubah menjadi larian terburu-buru. Senter berayun-ayun dengan cepat, menerangi wajah-wajah yang basah oleh hujan. Aku panik dan berlari secepat yang aku bisa.Ketika berlari, kakiku tiba-tiba lemas. Lututku seperti kehilangan tenaga. Tubuhku jatuh ke tanah yang basah dan berlumpur. Dalam sekejap pandanganku menggelap, seperti seluruh cahaya diserap oleh malam. Tubuhku rasanya seperti tidak bisa bergerak, sementara suara curug itu terdengar semakin keras, hampir seperti tepat berada di samping telingaku.Tanganku terasa di tarik, ”Woy, cepet lari!” kata makhluk itu. “Genggamannya..siapa yang menggenggamku..?” pikirku dalam hati. Ia menyeretku, entah siapa makhluk itu. “Di mana Lexi?” “Terus yang menarik tanganku siapa?” pertanyaan itu terus muncul dalam pikiranku.Ilustrasi berkemah di tempat yang seram Foto: Shutter StockSesampainya di tenda, tubuhku begitu lemas. Tidak sempat memikirkan keadaan yang baru saja terjadi, aku langsung tertidur.Aku terbangun saat subuh. Udara masih dingin dan suara hujan sisa malam terdengar menetes dari dedaunan. Di tengah kesunyian itu, samar-samar terdengar suara asing, seperti bisikan berat yang datang dari arah luar tenda, “Ayo.. kita kunjungi air terjun itu...”Aku tidak tahu itu suara siapa. Namun, aku bisa merasakannya. Itu bukan suara manusia. Dengan rasa takut, aku memaksakan diri untuk kembali tidur. Namun, suasana subuh itu begitu asing, seperti hampa, dan membuat tubuhku merinding.Pagi harinya, hawa segar memenuhi perkemahan. Aku dan Lexi duduk di depan tenda sambil memikirkan kejadian semalam. “Lexi, di mana kamu saat semua orang berlari kemarin?” tanyaku kepada Lexi. Namun, ia tidak menjawab dan hanya tersenyum. Aku heran dan mulai melontarkan pertanyaan lain.“Curug itu ada di mana, ya?” tanyaku. “Ayo.. kita kunjungi saja...” jawab Lexi. “Jawaban itu..? Kenapa tidak asing bagiku?” Jantungku mulai berdegup kencang, hatiku mulai gelisah, suara itu bukan suara Lexi. Suara itu adalah suara yang aku dengar saat subuh tadi.Ilustrasi hutan yang dalam dan sepi. Foto: Shutter StockTak lama, warga sekitar lewat dan mendengar percakapan kami. Ia berhenti, memandangku dengan alis terangkat dan wajahnya yang terlihat heran. “Dek, kamu bicara dengan siapa?” tanyanya kepadaku.Aku menoleh, bingung. “Dengan teman saya, Pak..? Kami sedang membahas air terjun di daerah sana,” jawabku sembari menunjuk daerah air terjun. Warga itu terlihat ketakutan, langkahnya mundur perlahan. “Teman..? B-baiklah..? Dan curug..? Di sini tidak ada curug, d-dek..” jawabnya gagap.Aku terdiam, sementara udara pagi yang dingin berubah seperti menusuk kulit. Dalam diam itu, rasa heran dan takut bercampur menjadi satu. Jika warga berkata tidak ada air terjun di sini, suara apa yang semalam ku dengar? Dan jika ia tidak melihat siapa pun di sampingku, dengan siapa aku sebenarnya menjalani jurit malam itu?Di mana Lexi? Apa benar ia berjalan bersamaku, atau hanya bayangan yang kubawa sepanjang malam? Aku hanya duduk mematung, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi kepadaku malam itu.