Ilustrasi pantai. Foto: Dok. Kemenparekraf RISemilir angin dari Pantai Barat Pangandaran membawa aroma air kelapa yang baru dibuka. Di bawah bayangan sebuah pohon besar dan payung biru, seorang pria berkumis tipis sedang mengupas kelapa muda. Pria itu mengenakan topi dan kaos polo abu yang warnanya mulai memudar, celana hijau yang nyaman untuk bergerak, dan sandal selop hitam yang sudah menempuh banyak halaman hidup.Kulitnya sawo matang, sedikit belang karena matahari. Matanya sesekali menatap kami, kurang percaya diri, tetapi tidak pula berusaha menghindar, seperti seseorang yang sudah terlalu lama berurusan dengan banyak mata di sepanjang hidupnya sebagai pedagang. Dialah Ono (35), seorang pedagang es kelapa muda yang telah mengikuti irama Pantai Pangandaran selama 25 tahun penuh.Gerobak berwarna biru cerah terlihat sudah lama menemaninya dan berdiri tepat di bawah pohon besar yang batangnya seperti pelindung alami dari panas yang menyengat. Gerobaknya tidak selalu mangkal di tempat yang sama.Es kelapa muda Ono. Sumber: Dokumentasi pribadiIa berpindah-pindah mengikuti arus wisata, mencari tempat yang teduh atau dekat hotel. Hari itu kebetulan gerobaknya berada di depan Hotel Menara Laut, tepat di sepanjang Jalan Pantai Barat Pangandaran. Lokasinya strategis, cukup teduh, dan nyaman untuk menunggu pembeli.Tempat esnya tampak tua, tetapi masih cukup dingin untuk menyelamatkan hari wisatawan dari terik matahari. Sebuah handuk kecil berwarna hijau tergantung di sisi gerobak. Deretan gelas kaca berjajar rapi, seperti pasukan kecil yang sudah terbiasa menghadapi gelombang wisatawan yang datang dan pergi. Ada sendok, ada sedotan, bahkan ada kantong plastik hitam yang menjadi tempat sampah sederhana, kecil, tapi rapi; tua, tapi terawat dengan penuh kebiasaan.Cara berbicara tidak dibuat-buat. Tidak ada intonasi promosi, tidak ada bahasa khas pedagang yang mencoba menarik simpati. Ono berbicara seperti sedang menjawab pertanyaan di warung kopi, sederhana, datar, tetapi jujur. Ia hanya sesekali menatap mata kami, sekadar memastikan bahwa yang ia ucapkan memang sampai ke telinga, bukan ke catatan semata.Pantai Madasari di Pangandaran. Foto: ShutterstockTas selempang kecil abu-abu melintang di tubuhnya, menjadi teman setia setiap hari dari jam setengah tujuh pagi hingga pukul lima sore, waktu kerja yang ia jalani tanpa keluhan berarti. “Tergantung rezeki,” katanya ketika ditanya apakah dagangannya selalu habis atau tidak.Ono sudah berdagang es kelapa sejak tahun 2000. “Dulu pernah kerja di BCA,” ujarnya sambil tersenyum lebar, sebelum buru-buru menambahkan, “Bangunan Can Anggeus.”Ucapan itu terdengar seperti gurauan ringan untuk menjelaskan bahwa pekerjaan lamanya bukan di bank sungguhan, melainkan sebagai kuli bangunan. “Tapi ya… rezeki mah yang penting barokah,” katanya kemudian.Suasana PantaI Pangandaran jelang Hari Natal, Jumat (10/12). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanDi Pantai Pangandaran sendiri, pedagang kaki lima tidak terikat dengan aturan sewa menyewa tempat, hanya cukup membayar uang kebersihan setiap minggunya. “Sekarang mah paling bayar uang kebersihan, dua ribu seminggu,” ujarnya, bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai bagian dari rutinitas yang tidak pernah ia pertanyakan.Kadang saat sepi, ia menghabiskan waktu dengan cara yang tidak kami duga. “Liat HP sambil karaokean,” ucapnya sambil sedikit tertawa, seperti malu tertangkap basah memiliki hiburan sederhana. Bahkan, ia bercanda bahwa dirinya suka “numpang Wi-Fi” jika berjualan di satu titik yang menyediakan Wi-Fi. Konflik antarpedagang katanya jarang. Justru lawan terbesarnya adalah cuaca. Hujan membuat es kurang diminati karena jika cuaca dingin, biasanya orang lebih tertarik mencari minuman hangat. Ia menyebut Juni, Juli, Agustus sebagai bulan harapan, musim turis, saat hotel penuh, dan saat pedagang kecil seperti Ono ikut mendapatkan rezeki tambahan.Wisatawan menikmati pantai Pangandaran. Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa“Harapannya mah banyak pengunjung, biar pedagang sama hotel naik omzetnya.” Ono tidak bicara hanya tentang dirinya, ia bicara seperti bagian dari ekosistem yang lebih besar.Dari semua menu yang ia jual, yang paling sering dibeli adalah es kelapa gula merah. Minuman sederhana yang bagi wisatawan hanya sekadar pelepas dahaga, tetapi bagi Ono adalah sumber nafkah, tabungan harapan, dan masa depan anaknya.Ketika kami bertanya apa yang membuat ia terus bersemangat, ia menatap kami sebentar, lalu berkata singkat, “Buat anak sekolah.” Ia tidak banyak bicara soal masa depan yang besar, tetapi ia memiliki cita-cita, meski tidak diucapkan dengan bahasa megah.“Mudah-mudahan bisa usaha sendiri. Laris terus, sedikit-sedikit tapi mengalir.” Kalimat itu tidak terdengar seperti ambisi, tetapi seperti doa yang sudah lama ia ulang setiap hari dari balik gerobak biru itu.Ilustrasi Air Kelapa. Foto: ShutterstockLalu kami bertanya, apakah ia bangga menjadi pedagang es kelapa? Ono tersenyum kecil, “Walaupun penghasilan sedikit, tapi barokah buat anak sama istri.” Ia tidak ingin terlihat hebat, ia hanya ingin tetap berguna.Di akhir wawancara, sebelum kami pamit, Ono memberi pesan, bukan nasihat dan bukan imbauan, lebih seperti harapan yang mewakili banyak pedagang di pinggir pantai. “Harus sering-sering main ke Pangandaran, biar omzet pedagang juga naik,” katanya. Es kelapa Ono mungkin hanya minuman dingin, tetapi di bawah payung biru itu ada 25 tahun hidup yang perlahan, sabar, dan tidak pernah menyerah untuk mengalir, seperti air kelapa itu sendiri: dingin, manis, tetapi cukup untuk bertahan.