Monyet Ini Bisa Berkeringat Hanya Lewat Telapak Tangan dan Kaki

Wait 5 sec.

Monyet Bajing hanya berkeringat melalui telapak tangan dan kaki (Foto: Dokumen Penulis)Pagi di hutan tropis Amerika selalu terdengar hidup. Dedaunan berdesir, burung bersahutan, dan di antara cabang-cabang tinggi tampak gerak kecil yang lincah. Di sanalah monyet bajing beraksi. Tubuhnya melesat cepat, ekornya melengkung seperti tanda seru, dan matanya menyala penuh rasa ingin tahu. Monyet bajing, atau sering disebut monyet tupai, adalah primata kecil Dunia Baru yang terkenal ramah, cerdas, dan sangat sosial. Rasa ingin tahu monyet ini sebagai kunci utama kemampuan bertahan hidupnya. Mereka bukan sekadar hewan lucu penghuni kebun binatang. Mereka adalah potret kecil kecerdasan alam yang bekerja senyap di balik rimbunnya hutan.Jika kita menengok dunia monyet secara keseluruhan, keragamannya luar biasa. Penelitian Groves dalam Primate Taxonomy (2001) mencatat lebih dari 260 spesies monyet di dunia. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu monyet Dunia Lama yang hidup di Afrika dan Asia, serta monyet Dunia Baru yang hidup di Amerika. Monyet bajing termasuk kelompok Dunia Baru. Secara ilmiah, mereka berada dalam genus Saimiri. Monyet bajing merupakan satu-satunya anggota subfamili Saimirinae. Hingga kini, para ilmuwan mengakui lima spesies utama monyet bajing, yang kemudian berkembang menjadi sejumlah subspesies. Dua kelompok besar monyet bajing dibedakan berdasarkan bentuk pola putih di atas mata. Perbedaan kecil ini penting, karena menjadi penanda evolusi dan wilayah hidup yang berbeda.Nama Saimiri berasal dari bahasa Tupi, bahasa penduduk asli Amerika Selatan. Artinya sederhana, “monyet kecil”. Nama ini terasa akrab dan pas, seperti memperkenalkan seorang teman baru. Sebagian besar monyet bajing hidup di hutan hujan Amazon yang luas. Wilayah ini seperti kota raksasa hijau yang menyediakan makanan, tempat berlindung, dan jalur petualangan. Namun, tidak semua monyet bajing hidup bersama. Spesies Saimiri oerstedii hidup terpisah di Kosta Rika dan Panama. IUCN Red List (2023) mencatat bahwa wilayah hidup mereka kini terfragmentasi. Hutan yang dulu menyatu kini terpotong oleh jalan, perkebunan, dan permukiman manusia. Monyet bajing harus beradaptasi dengan rumah yang terus menyempit.Dari segi fisik, monyet bajing memang mungil. Panjang tubuhnya hanya sekitar 25 hingga 35 sentimeter. Namun, ekornya bisa mencapai 42 sentimeter, lebih panjang daripada tubuhnya sendiri. Ekor ini bukan alat memanjat, melainkan penyeimbang, seperti tongkat atlet senam. Berat monyet bajing jantan berkisar antara 750 hingga 1.100 gram, sedangkan betina lebih ringan. Wajah mereka sangat khas. Kombinasi warna hitam dan putih membuatnya tampak seperti memakai topeng. Di beberapa negara Eropa, mereka bahkan dijuluki “monyet kepala kematian”. Julukan itu terdengar menyeramkan, tetapi siapa pun yang melihat tingkahnya pasti tersenyum.Bulu monyet bajing pendek dan rapat. Warnanya perpaduan hijau zaitun, kuning keemasan, dan hitam. Bagian bahu lebih gelap, sedangkan punggung dan kaki tampak lebih cerah. Matanya besar dan tajam, selalu bergerak cepat mengikuti perubahan sekitar. Tatapan itu seolah berkata, “Aku siap kapan saja.” Mereka aktif pada siang hari dan menghabiskan sebagian besar waktunya di kanopi tengah hutan. Rowe dalam The Pictorial Guide to the Living Primates (1996) menggambarkan gerakan monyet bajing sebagai salah satu yang tercepat di antara primata kecil. Mereka melompat dari dahan ke dahan dengan presisi tinggi, seperti penari akrobat yang tak pernah ragu.Karakteristik Monyet Bajing (Gambar: Dokumen penulis)Keunikan monyet bajing yang paling menarik adalah cara mereka mengatur suhu tubuh. Tidak seperti manusia yang berkeringat hampir di seluruh tubuh, monyet bajing hanya bisa berkeringat melalui telapak tangan dan kaki. Schulte dalam Journal of Thermal Biology (2011) menjelaskan bahwa mekanisme ini sebenarnya tidak cukup untuk mendinginkan tubuh di lingkungan tropis yang panas dan lembap. Karena itu, monyet bajing mengembangkan strategi lain. Mereka mencari tempat teduh, mengubah posisi tubuh untuk mengurangi paparan matahari, dan melakukan perilaku yang terdengar aneh bagi manusia, yaitu mencuci tangan dan kaki dengan urin. “Ini bukan kebiasaan aneh, melainkan strategi bertahan hidup,” tulis Schulte (2011). Urin yang menguap membantu menurunkan suhu tubuh mereka secara perlahan.Selain kemampuan termoregulasi yang unik, monyet bajing juga memiliki kelebihan dalam hal penglihatan warna. Sebagian betina monyet bajing memiliki penglihatan trikromatik, mirip manusia. Artinya, mereka mampu melihat spektrum warna yang lebih luas. Pejantan biasanya hanya dikromatik. Kemampuan ini sangat berguna saat mencari buah matang di tengah dedaunan hijau. Warna menjadi petunjuk penting tentang mana makanan yang siap dimakan. Penelitian tentang mata monyet bajing bahkan membantu ilmuwan memahami penyakit penglihatan pada manusia. Hutan pun berubah menjadi laboratorium alami yang penuh pelajaran.Monyet bajing adalah makhluk yang sangat ramai. Mereka hidup dalam kelompok besar yang bisa berjumlah hingga ratusan individu. Namun, kelompok besar ini sering terpecah menjadi kelompok kecil saat mencari makan. Kehidupan berkelompok memberi banyak keuntungan, seperti perlindungan dari predator. Monyet bajing memiliki berbagai jenis suara untuk berkomunikasi. Ada suara khusus untuk memperingatkan datangnya elang dari atas. “Awas bahaya,” kira-kira begitu pesan yang dikirimkan. Selain suara, mereka juga menggunakan aroma untuk menandai wilayah. Bau menjadi bahasa tak terlihat yang hanya dipahami sesama mereka.Soal makanan, monyet bajing termasuk omnivora sejati. Buah-buahan menjadi menu utama. Namun, mereka juga memakan serangga, laba-laba, telur burung, bahkan kadal kecil. Ketika buah sulit ditemukan, daun, biji, dan bunga menjadi alternatif. Fleksibilitas pola makan ini membuat monyet bajing mampu bertahan di berbagai kondisi. Mereka mencari makan secara berkelompok, menyebar di area hutan seperti jaring hidup. Setiap pohon diperiksa dengan teliti. Hutan seolah menjadi buku besar yang mereka baca setiap hari.Monyet Bajing koleksi Lembang Park & Zoo. Panjang tubuhnya hanya sekitar 25 hingga 35 sentimeter. Namun, ekornya bisa mencapai 42 sentimeter, lebih panjang daripada tubuhnya sendiri (Foto: Dokumen Penulis)Perkembangbiakan monyet bajing mengikuti ritme musim. Musim kawin biasanya terjadi pada waktu tertentu dalam setahun. Betina hamil selama sekitar 150 hingga 170 hari dan umumnya melahirkan satu anak. Bayi monyet bajing akan digendong di punggung induknya selama berbulan-bulan. Menariknya, hanya betina yang merawat anak. Jantan tidak terlibat langsung dalam pengasuhan. Jadi, peran induk betina sangat dominan. Meski begitu, beberapa betina lain membantu merawat anak melalui perilaku alloparental. Kebersamaan menjadi fondasi kuat kehidupan mereka.Pilihan pasangan dalam dunia monyet bajing juga menarik. Betina cenderung memilih jantan yang lebih besar saat musim kawin. Ukuran tubuh jantan meningkat secara signifikan akibat lonjakan hormon androgen. Boinski dalam Hormones and Behavior (2005) menjelaskan bahwa testosteron pada jantan mencapai puncaknya selama musim kawin. Jantan yang lebih besar dianggap lebih menarik. Alasan evolusionernya belum sepenuhnya jelas. Namun, salah satu hipotesis menyebut bahwa jantan besar lebih waspada dan mampu melindungi anak. “Ukuran menjadi sinyal kesiapan,” tulis Boinski (2005). Seleksi alam bekerja lewat pilihan-pilihan kecil yang terus berulang.Apakah monyet bajing termasuk hewan langka? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Beberapa spesies monyet bajing masih berstatus aman. Namun, ada juga yang terancam punah. Saimiri oerstedii dan Saimiri vanzolinii tercatat sebagai spesies rentan hingga terancam punah menurut IUCN Red List (2023). Populasi Saimiri oerstedii di Kosta Rika menurun drastis sejak 1970-an. Wong dalam laporan konservasi (2019) mencatat penurunan dari sekitar 200.000 individu menjadi kurang dari 5.000. Penyebab utamanya adalah hilangnya habitat akibat aktivitas manusia.Monyet bajing mengajarkan kita banyak hal. Tubuhnya kecil, tetapi strategi hidupnya luar biasa. Ia beradaptasi dengan panas, hujan, predator, dan perubahan lingkungan. “Kami kecil, tetapi kami tangguh,” seolah begitu pesan yang tersirat dari setiap tatapan mereka.