Bisakah Anda bayangkan sekelompok burung kapinis dan bangau yang tengah terbang? Bermigrasi dari delta sungai Tana di Kenya hingga semenanjung Tanduk Afrika. Kegigihan dan kebersamaan kawanan yang saling mengantarkan pada hangat tanah ‘benua hitam’ Sub-Sahara. Kepakan sayap yang tak berhenti bak melintasi cuaca dan udara dingin laut Mediterania.Adaptasi musim dingin dari sekelompok hewan yang ternyata tak hanya mengenalkan kita pada kemampuan navigasi alami mengikuti medan magnet bumi. Pun memberi makna simbolisasi dari rasa saling berbagi, melindungi, juga mengasihi.Ilustrasi seekor burung bangau putih yang bermigrasi dari benua Eropa. Photo by KantonZH on Pixabay Pola kebersamaan yang tidak hanya dilakukan oleh hewan penghuni langit di sana, tapi menjadi cermin perilaku budaya dari penduduk di banyak negara. Tarikan kuat untuk merasakan ikatan emosional dan spiritual atas hadirnya suatu kondisi di kehidupan. Keterlibatan hati yang menempatkan empati di atas semua ketetapan Tuhan.Empati, sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani kuno emphatia. Bentuk morfem ‘en’ yang berarti dalam, serta ‘phatia’ (pathos) dengan arti luas penderitaan juga kasih sayang. Daya welas asih yang muncul dari kedalaman jiwa bak melintasi samudra lepas di dua belahan Eurasia.Kebersamaan Turun-Temurun ‘Ubuntu’ di Afrika‘Saya ada karena kita ada’ꟷumuntu ngumuntu ngabantu, begitu sebuah suku di Afrika Selatan dalam Bahasa Zulu menyebutnya. Rangkai kata yang mungkin terdengar menggelitik di telinga, tapi mengandung makna peribahasa mendalam bagi penduduk di sana. Konsep kebersamaan serta keterhubungan bukan hanya kepada manusia, pun antara kosmik dan para roh leluhur mereka. ‘Ubu’ yang diartikan sebagai makhluk atau objek abstrak, sedangkan kata ‘ntu’ sebagai makhluk yang memiliki daya hidup dan terus bergerak di alam semesta.Pohon Baobab yang menjulang di antara penduduk Afrika Selatan. Photo by Elle Leontiev on UnsplashMirip seperti gambaran pohon besar Baobab yang mampu hidup ribuan tahun lamanya. The tree of life yang tak hanya tercipta untuk dimanfaatkan saja. Pohon asli Madagaskar yang menjalin ikatan kesatuan dengan seluruh keberadaan di sekitarnya. Interaksi kebersamaan antara manusia dengan hakikat penciptaan sang pohon penjaga air di alam semesta. Tradisi mengasihi dan menjaga seluruh keseimbangan tanah, tanpa perlu meniadakan keindahan pemberian-Nya.Berbagi Roti ‘Askida Ekmek’ di IstanbulLain lagi dengan tradisi empati di Istanbul, Turki. Cara mengasihi yang disebarkan melalui wangi hangat roti yang disajikan. Tradisi kebaikan Askida Ekmek yang telah ada sejak masa dinasti Turki Utsmani atau Ottoman. Ekspansi dahulu kala yang tak hanya meraih kejayaan, tapi turut meninggalkan jejak budaya mengasihi bagi yang membutuhkan. Askida Ekmek atau ‘roti yang digantungkan’ menjadi cara berbagi makanan yang telah turun-temurun dilakukan.Roti Gantung Simit panganan khas penduduk Istanbul, Turki. Photo by Kimia Kazemi on UnsplashSeorang pembeli yang akan membayar lebih dari harga rotinya. Disambut sang penjual yang akan meletakkan kelebihan roti ke dalam keranjang yang digantungkan. Roti khas berbentuk bulat cincin, Simitꟷkegemaran penduduk Anatolia ini pun siap untuk dibagikan. Panganan yang tak hanya menjadi simbol keramah-tamahan negara dua budaya Timur dan Barat. Tak ayal, menjadi pelengkap rasa kemanusiaan bak menaburi biji wijen di atas hangat roti yang disuguhkan.Kepekaan Sikap ‘Omoiyari’ di JepangApakah Anda pernah melihat seseorang memberikan atau menyodorkan sesuatu dengan kedua tangan? Etiket universal yang bagi masyarakat Jepang menjadi suatu budaya yang wajib dilakukan. Sebuah tradisi Omoiyari yang mengajarkan nilai-nilai penghormatan terhadap seluruh kehadiran yang diciptakan.Turunan kata ‘omoi’ yang berarti menghargai atau memerhatikan, serta ‘yari’ yang berarti menerapkan. Konsep altruistik melakukan kebaikan tanpa diminta, dengan penerapan kesadaran jiwa (diri) sepenuhnya. Salah satunya adalah duduk formal ala Jepang, Seiza yang membentuk tradisi kesantunan di sana.Tradisi duduk formal Seiza di suatu upacara di Jepang. Photo by Rod Long on UnsplashPosisi duduk dengan kedua kaki melipat ke belakang, disertai kedua tangan diletakkan tertelungkup ke depan. Sikap bertahan yang diperkenalkan pada banyak upacara minum teh, ritual keagamaan, serta perayaan. Tidak hanya sekadar etika yang diperkenalkan, tapi membangun nlai-nilai kesadaran dalam interaksi sosial di keseharian. Mampu merespons secara sigap, pandai membaca situasi, serta mengasah tingkat kepekaan. Ibarat duduk dalam perayaan tahun baru JepangꟷOshogatsu, sembari tetap menyambut tamu dengan penuh kehangatan.Hari Tetangga ‘Burendag’ di Belanda“Goedemorgen, Hoe gaat het met u?” Sebuah sapaan pagi hari yang biasa terdengar di negeri Belanda. Negara yang ternyata tak hanya terkenal dengan tata kota dan kanal-kanal indahnya. Pun memiliki budaya toleransi dalam menerima perbedaan dunia. Sejarah praktik kolonial dan akulturasi lintas benua, yang turut menyumbangkan cermin refleksi keterbukaan di sana.Orang-orang dari negeri Tiongkok, Maroko, Belgia sampai Indonesia pun mendapatkan hangat penerimaan yang setara. Seakan dapat duduk bersama menikmati indah pemandangan taman bunga musim semi Keukenhof di Lisse, Belanda.Ilustrasi warga kota yang berkumpul dalam perayaan Burendag. Photo by Spencer Davis on UnsplashTradisi Burendag atau perayaan ‘Hari Tetangga’ menjadi salah satu cermin kebersamaan yang selalu dinantikan. Mengetuk pintu, bercengkerama, dan berbagi hidangan sup kacang polongꟷerwtensoep tanpa membedakan.Semua berkumpul pada satu meja kayu panjang, diteduhi oleh sebuah tenda yang telah dihias bersama. Tak ada yang ditinggalkan. Tua, muda, penduduk pendatang hingga balita pun turut merasakan. Merayakan sederhana ikatan kemanusiaan, di negara ladang tulip yang tengah bermekaran.