Ilustrasi komentar warganet di media sosial. Sumber: Dokumentasi pribadi“Kuat banget aura kabupatennya”“Aura kabupatennya nggak bisa dipungkiri”Pernah lihat komentar seperti ini di TikTok?Belakangan ini, fenomena aura "cewek kabupaten" sering lewat di For Your Page (FYP). Komentarnya ramai, nadanya santai, bahkan sering dibungkus bercandaan.Namun, justru di situlah pertanyaan menarik muncul: Sebenarnya seperti apa sih aura kabupaten itu? Apakah untuk mengetahuinya kita perlu pergi ke Ki Prana Lewu? Atau sekalian saja cek, aura kita ini kabupaten, kecamatan, dusun, RW, atau RT?Kalau dilihat dari konten-konten yang beredar, aura cewek kabupaten biasanya dilekatkan pada gaya tertentu: outfit ketat, seperti crop top dan celana jeans ketat, atau makeup dengan ciri khas lipstik ombre panas dingin, bulu mata tebal, alis on point dan melengkung, lalu diiringi sound jedag-jedug yang sedang populer. Tubuh ditampilkan percaya diri, ekspresif, dan sadar kamera.Namun yang menarik bukan hanya visualnya, melainkan respons audiensnya. Kolom komentar dipenuhi kalimat seperti “kabupaten banget”, “ngampungnya, ngampung banget” atau “aura kabupatennya nggak bisa disembunyiin.”Ilustrasi komentar. Foto: SrideeStudio/ShutterstockAnehnya, komentar-komentar ini jarang dianggap sebagai bentuk penghakiman, justru sering diterima sebagai candaan yang lumrah.Di sinilah konsep common sense menjadi penting. Antonio Gramsci—yang gagasannya dijelaskan kembali oleh David Walton dalam Introducing Cultural Studies—menyebutkan bahwa common sense sebagai cara berpikir yang terasa alami karena terus diulang dalam kehidupan sehari-hari.Hal tersebut tidak hadir sebagai aturan resmi atau paksaan, tetapi sebagai kebiasaan yang diterima tanpa banyak pertanyaan. Dalam konteks ini, melabeli seseorang dengan aura kabupaten bekerja sebagai praktik sehari-hari yang dianggap biasa, ringan, bahkan lucu.Selera kerap dipahami sebagai pilihan pribadi. Soal suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok, sering dianggap pilihan masing-masing setiap individu. Namun di ruang digital, perbedaan selera justru sering berubah menjadi bahan penilaian.Ilustrasi ruang digital. Foto: photobyphotoboy/ShutterstockPenilaian ini tidak selalu hadir dalam bentuk kasar atau frontal. Hal tersebut muncul melalui bahasa santai, emoji tertawa, dan nada bercanda yang membuatnya terasa ringan. Karena dibungkus sebagai candaan, praktik menilai selera orang lain pun jarang dipersoalkan dan perlahan dianggap biasa.Seperti yang diungkapkan oleh Antonio Gramsci bahwa hegemoni justru bekerja paling efektif ketika hal itu tidak terasa sebagai dominasi. Ketika sebuah penilaian sudah dianggap wajar dan diulang terus dalam interaksi sehari-hari, hal tersebut berhenti terlihat sebagai kuasa dan berubah menjadi sekadar opini.Dalam konteks ini, komentar seperti “kabupaten banget” tidak lagi dibaca sebagai bentuk penilaian selera, tetapi sebagai ungkapan biasa yang lumrah di kolom komentar. Di titik inilah penilaian menjadi hal yang diterima tanpa banyak pertanyaan.Candaan tentang aura kabupaten yang terus diulang di berbagai video akhirnya membentuk kebiasaan kolektif. Bahasa yang digunakan tidak menyerang secara langsung, tapi cukup untuk memberi tanda seperti gaya mana yang dianggap pantas dan gaya mana yang layak dijadikan bahan komentar, sehingga akhirnya penilaian pun bergeser dari sesuatu yang problematis menjadi hal yang biasa.Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?Ilustrasi perempuan sedih. Foto: ShutterstockStandar aura kabupaten tidak muncul dari ruang hampa. Hal itu dibentuk oleh kelompok yang merasa memiliki selera “lebih pas”, “lebih rapi”, atau “lebih normal”. Pada posisi tersebut, mereka bisa menilai tanpa merasa sedang menghakimi. Sementara itu, mereka yang tampil lebih ekspresif dan tidak sesuai dengan standar tersebut terus berada di posisi sebagai pihak yang dinilai.Relasi ini menguntungkan mereka yang seleranya dianggap dominan karena mereka tidak perlu menjelaskan atau membela diri. Sebaliknya, kelompok dengan selera berbeda harus terus berhadapan dengan label meski tanpa konflik terbuka atau debat panjang. Semua berlangsung halus nyaris tanpa gesekan.Menariknya, di tengah kewajaran tersebut tetap muncul suara tandingan. Komentar seperti “asal mereka nyaman, nggak masalah” atau pertanyaan sederhana “terus kenapa kalau kabupaten?” menjadi celah kecil yang menggoyahkan common sense tadi. Suara-suara ini memang belum dominan, tetapi penting karena menunjukkan bahwa kewajaran itu tidak sepenuhnya diterima tanpa sisa.Dalam kerangka Antonio Gramsci, kemunculan pertanyaan semacam ini justru menandai bahwa penilaian yang dianggap biasa sebenarnya adalah hasil dari proses sosial yang bisa dipertanyakan, bukan kebenaran yang alamiah.Ilustrasi Perempuan mencoba gaya berpakaian. Foto: ShutterstockSelama gaya berpakaian tidak melanggar hak siapa pun, sulit rasanya mencari alasan mengapa hal tersebut perlu terus dikomentari. Cara seseorang berpakaian adalah bentuk ekspresi diri yang lahir dari selera, kenyamanan, dan lingkungan.Namun di ruang digital, ekspresi ini dengan mudah diberi label tertentu, seolah-olah ada standar tidak tertulis tentang gaya berpakaian yang dianggap pantas dan mana yang layak dipermasalahkan.Fenomena aura cewek kabupaten pada akhirnya mengajak kita becermin. Bukan hanya tentang outfit atau makeup, melainkan tentang kebiasaan menilai selera orang lain tanpa merasa sedang menghakimi.Candaan yang terasa ringan ternyata bisa membawa makna yang lebih dalam tentang siapa yang berhak menilai dan siapa yang terus dinilai. Mungkin yang perlu dipikirkan bukan lagi soal kabupaten atau bukan, melainkan kapan dan mengapa kita terbiasa mengomentari pilihan orang lain, seolah itu hal yang biasa.