Makeup atau Tidak Perempuan Tetap Disalahkan, Seolah Tak Pernah Ada Benarnya

Wait 5 sec.

ilustrasi perempuan menggunakan makeup (sumber: shutterstock)Di tengah kemajuan zaman dan keterbukaan media, perempuan masih menghadapi tekanan sosial terkait penampilan. Ketika memakai makeup, mereka dianggap berlebihan. Namun saat tampil natural, mereka justru dinilai kurang merawat diri. Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan kerap berada dalam posisi serba salah di mata masyarakat.Komentar terhadap penampilan perempuan tampaknya sudah menjadi hal yang dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan seperti “terlalu menor” atau “terlihat pucat” sering muncul tanpa diminta, seolah tubuh dan wajah perempuan adalah ruang publik yang bebas dikomentari.Tekanan semacam ini muncul di berbagai lingkungan. Mulai dari tempat kerja, pertemanan, hingga media sosial. Perempuan dituntut untuk selalu terlihat menarik, namun tidak berlebihan. Mereka harus tampil percaya diri, tetapi tidak boleh terlalu menonjol. Akibatnya, banyak perempuan merasa terjebak dalam standar yang tidak jelas dan sulit dipenuhi.Konstruksi Sosial dalam Standar KecantikanFenomena ini tidak terlepas dari konstruksi sosial yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat. Sejak lama, perempuan diajarkan bahwa penampilan adalah bagian penting dari identitas dan nilai diri.Ilustrasi perempuan memakai lipstik. Foto: zEdward_Indy/ShutterstockDessy Kania, dosen dan peneliti komunikasi Universitas Bakrie—dalam risetnya berjudul "Menyikapi Mitos Kecantikan dan Beauty Privilage"—menjelaskan bahwa standar kecantikan yang berlaku di masyarakat bukan sesuatu yang alami, melainkan hasil konstruksi sosial yang dibentuk dan diperkuat oleh media serta industri kecantikan.Kita hidup dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa kecantikan memiliki ukuran tertentu. Padahal, ukuran itu dibentuk dan diperkuat oleh media serta kepentingan industri. Kondisi tersebut membuat perempuan terus mengejar standar kecantikan yang ditentukan pihak lain, sehingga industri kecantikan diuntungkan dan perempuan kerap merasa tidak pernah cukup dengan dirinya sendiri.Peran Media Sosial dalam Membentuk PersepsiKehadiran media sosial semakin memperkuat tekanan tersebut. Di beberapa platform media sosial—seperti Instagram dan TikTok—konten bertema kecantikan mendominasi. Wajah sempurna dengan kulit tanpa cela, bibir berkilau, dan tren “no makeup dan makeup look” menciptakan ilusi bahwa tampil cantik adalah kewajiban.Ilustrasi perempuan makeup . Foto: Hananeko_Studio/ShutterstockHal ini mendorong perempuan untuk terus membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis. Banyak di antara mereka merasa bersalah saat tampil apa adanya karena takut dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi publik.Fenomena ini dikenal sebagai bentuk beauty privilege, yaitu keuntungan sosial yang diperoleh individu karena memenuhi standar kecantikan yang berlaku. Dalam dunia kerja, misalnya, perempuan yang dianggap “menarik” cenderung lebih mudah diterima, sementara yang tidak sesuai standar sering kali diabaikan.Antara Pilihan dan TekananPadahal, keputusan untuk memakai atau tidak memakai makeup seharusnya merupakan bentuk kebebasan pribadi, bukan ukuran nilai diri. Bagi sebagian perempuan, makeup adalah sarana untuk mengekspresikan diri dan meningkatkan kepercayaan diri. Bagi yang lain, tampil tanpa riasan adalah wujud kenyamanan dan penerimaan terhadap diri sendiri.Selama pilihan tersebut dilakukan secara sadar dan bukan karena tekanan sosial, keduanya sama-sama valid. Seperti yang dijelaskan Dessy Kania, “Perempuan harus memiliki kendali penuh terhadap tubuh dan penampilannya sendiri, karena itu merupakan bagian dari hak dasar manusia untuk berdaulat atas dirinya.”Mengubah Cara Pandang terhadap PerempuanIlustrasi perempuan. Foto: NT_Studio/shutterstockPermasalahan utama bukanlah pada makeup atau tidak makeup, melainkan pada cara masyarakat melihat perempuan. Budaya yang terbiasa menilai perempuan dari penampilan membuat mereka sulit merasa bebas. Wajah dan tubuh perempuan seakan menjadi milik publik yang boleh dikomentari kapan saja.Perubahan cara pandang menjadi hal yang sangat penting. Masyarakat perlu belajar untuk menghormati pilihan perempuan tanpa mengaitkannya dengan moralitas atau profesionalitas. Menghargai perempuan berarti memberi mereka ruang untuk menjadi diri sendiri, dengan atau tanpa makeup.Kecantikan seharusnya tidak diukur dari seberapa banyak riasan yang digunakan atau seberapa sempurna penampilan seseorang. Kecantikan adalah tentang rasa nyaman dan keberanian untuk menerima diri apa adanya.Hari ketika masyarakat berhenti menilai perempuan dari penampilannya akan menjadi langkah awal menuju kebebasan yang sesungguhnya. Karena pada akhirnya, setiap perempuan berhak merasa cukup, berharga, dan percaya diri tanpa harus menyesuaikan diri dengan standar siapa pun.