Harga Minyak Sawit Anjlok Imbas Turunnya Ekspor Malaysia

Wait 5 sec.

Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTOHarga minyak sawit dunia kembali melemah dan menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir. Pelemahan ini dipicu oleh tekanan dari turunnya harga minyak mentah global serta melemahnya kinerja ekspor Malaysia.Mengutip Bloomberg pada Sabtu (3/1), mengacu harga perdagangan Jumat (2/1), kontrak berjangka minyak sawit turun hingga di bawah level MYR 4.000 ringgit per ton.Tekanan juga datang dari pergerakan minyak kedelai, yang merupakan pesaing utama minyak sawit di pasar pangan dan bahan bakar, setelah komoditas tersebut ditutup melemah 1,8 persen pada perdagangan Rabu (31/12) lalu.Pelemahan harga sawit sejalan dengan kondisi pasar energi global. Harga minyak mentah mencatatkan penurunan tahunan terdalam sejak 2020, di tengah meningkatnya pasokan global serta ketidakpastian geopolitik.Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,9 persen dan ditutup di level USD 57,42 per barel, sekaligus menandai penurunan sekitar 20 persen sepanjang 2025.Selain faktor energi, kinerja ekspor Malaysia turut menjadi sentimen negatif bagi pasar minyak sawit. Negara produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia itu mencatatkan penurunan ekspor sebesar 5 persen secara bulanan menjadi 1,2 juta ton pada Desember, berdasarkan data survei kargo dari AmSpec.Menurut Kepala perdagangan dan strategi lindung nilai di Kaleesuwari Intercontinental, Gnanasekar Thiagarajan, lemahnya ekspor tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak sawit. Namun, ia menilai peluang pembelian di harga rendah mulai muncul seiring mendekati periode permintaan musiman."Pembelian dengan harga murah di pasar kelapa sawit diperkirakan akan terjadi, karena pembelian selama musim festival dapat menekan harga di bawah 4.000 ringgit per ton," ujar Gnanasekar.Dia melanjutkan, permintaan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan pada Februari 2026 berpotensi mendorong harga minyak sawit kembali menguat setelah tekanan yang terjadi.