Sepuluh Jam dari Penjara

Wait 5 sec.

Dan Nismuh menutup gerbang penjara itu, lalu memulai perjalanan dengan berjalan kaki. Jarak yang harus ia tempuh kurang lebih empat ratus kilometer.llustrasi masjid berseberangan dengan gereja (foto: Al-generated)Sudah hampir tiga jam Soleh menunggu di simpang empat, tempat ia biasanya mendapat banyak penumpang. Ia terus mengibas-ngibaskan tangannya ke arah jalan, memanggil penumpang. “Kuta Batu, Kuta Batu, yok… yok...” teriaknya.Biasanya, menjelang sore harusnya dia sudah berangkat meninggalkan ibu kota provinsi. Dikarenakan sepi penumpang, ia rela mengulur waktu.“Setidaknya ada satu penumpang saja untuk ongkos minyak, mobil ini akan langsung berangkat.” gumamnya sambil bersandar di bagian belakang mobil L300 tua miliknya.Seorang pria muda muncul dari ujung simpang, menenteng tas lusuh. Mata Soleh langsung awas, seperti elang yang sedang mengintai mangsa. Begitu jarak dengan pria itu tinggal beberapa meter, ia langsung memanggil.“Kuta Batu, dik?”Pria itu berhenti. Menatap ragu.“Maaf, Pak. Saya nggak punya uang. Di kantong cuma ada dua puluh delapan ribu. Itu pun pemberian teman di penjara.”Kata penjara membuat kumis Soleh sedikit bergetar. Degup jantungnya ikut naik.“Penjara?”“Iya, Pak. Saya baru bebas. Sekarang mau pulang ke kampung. Mau lihat anak dan istri. Isu yang beredar kampung saya tenggelam karena banjir.”“Di mana kampungmu, dik?”“Kuta Simpang, Pak. Di Ujung Tapak, dekat jembatan balai.”Soleh terkejut. Ia tahu betul, dari berita yang beredar Kuta Simpang termasuk wilayah terparah dilanda banjir.“Terus… bagaimana kabar mereka sekarang?”“Saya belum dapat kabar mereka, Pak. Saya hanya berharap anak dan istri saya selamat. Saya rindu mereka.” Suara Nismuh bergetar. Tangannya mengusap mata.Soleh terdiam sesaat. Ia belum tahu nama pria itu, tapi hatinya ikut sedih.“Tenang anak muda. Insya Allah anak dan istrimu baik-baik disana. Kalau begitu naiklah, aku akan mengantarmu ke kampung halaman.“ kata Soleh seraya tersenyum.“Tenang, dik. Insya Allah anak dan istrimu baik-baik disana. Kalau begitu, naiklah ke mobilku, aku akan mengantarmu ke kampung halaman.” Ia tersenyum kecil.Tanpa berpikir panjang, Soleh menekan pedal gas. Ia tak lagi menunggu penumpang lain. Kemanusiaan baginya lebih penting dari segalanya.“Nama saya Soleh bin Spono. Begitulah cara Soleh memperkenalkan diri kepada setiap penumpangnya. Kalau adik sendiri siapa namanya?.”“Baik Pak Soleh. Nama saya Nismuh.”“Jangan panggil pak, panggil bang saja. Gini-gini saya masih muda. Rambut saja yang putih, faktor kebanyakan mikir. Aslinya saya masih berumur nggak lebih 50 nggak kurang 40.” katanya sambil tertawa kecil, sembari membenarkan rambut putih belah tengahnya.“Terima kasih bang Soleh sudah memberi saya tumpangan. Bolehkah saya membayar dua puluh delapan ribu.”“Tak usah anak muda. Nanti kau bisa pakai uang itu untuk keperluan lain.” jawab Soleh cepat, tapi matanya berkaca.Perjalanan satu jam pertama dipenuhi dering telepon. Dari agen, dari rumah, dari loket. Semua membuat Soleh kesal dan lelah.“Ah kau ini, kenapa baru kau bilang sekarang, aku sudah di jalan pegunungan ini. Kau kasih ke mobil lain saja, aku buru-buru ini.” itu telepon dari agen.“Halo, Nak. Apa? Mati lampu? Ya sudah malam ini kamu ngaji di rumah saja. Bilang sama mamak, ayah agak telat pulang. Karena harus mengantar penumpang ke Kuta Simpang.” itu telpon dari rumah.“Nggak, hari ini saya nggak bawa paket, penumpang juga sepi.” bisa dipastikan telepon terakhir itu dari loket.Ia menutup telepon, lalu menghela napas.“Maaf dik, beginilah kerja sopir lintas, dik.”Mobil terus melaju, kali ini sedikit lebih lambat. Beberapa saat kemudian, Soleh teringat sesuatu. Lututnya sedikit bergetar.“Maaf ya, dik. Kalau boleh tahu… kasus apa sampai masuk penjara?” tanya Soleh sekilas ia melirik kaca spion tengah.Tatapannya bertemu dengan rambut awut-awutan dan jenggot lebat pria duduk di sampingnya. Matanya juga merah, seperti kurang tidur. Menguatkan gambaran wajahnya yang kusut. Ada letih pula yang ditangkap Soleh.“Tenang bang Soleh. Sepanjang jalan tadi, beberapa orang juga menanyakan hal yang sama. Saat saya bilang baru keluar penjara, mereka semua berubah jadi takut pada saya.”“SAYA MASUK PENJARA karena kasus kurir narkoba. Saya dijebak. Dua tahun setengah vonisnya, tapi saya jalani dua tahun tiga bulan.” kalimat itu dikeraskan oleh Nismuh untuk melawan deras angin sore karena Soleh membiarkan kaca mobil terbuka.Soleh mengangguk, tetap mendengar. “Kenapa demikian?” timpalnya sedikit keras juga.“Saya juga menanyakan hal yang sama kepada Kepala Lapas. Kepala lapas bilang saya dibebaskan lebih cepat karena beliau sering lihat saya menangis. Teman-teman satu sel juga bantu. Uang dua puluh delapan ribu itu dari mereka.” kata Nismuh.Soleh mengangguk-angguk keras pula, memperlihatkan bahwa dirinya merespons. Soleh merasa dadanya longgar. Ia tahu, wajah seperti itu tak pandai berbohong.Tapi saat dia mendengar perkataan dan melihat senyum di wajah Nismuh, Soleh tau itu, soalnya ia sudah puluhan tahun jadi sopir travel dan selama itu pula dia telah mengangkut ribuan orang. Jadi, mudah saja bagi Soleh menilai orang.“Adik berdoa saja, agar keluarga diberikan keselamatan. Kalau adik ingin istirahat, silahkan tarik kursi itu agak ke belakang.”Tiga kabupaten sudah dilalui dengan mulus tanpa hambatan. Tiga jam berlalu begitu cepat, karena Soleh juga mengemudi sedikit lebih cepat dari biasanya. Sore sudah berganti malam.Setelah melewati tikungan tajam di depannya, Soleh memperlambat laju. Dan ia menurunkan kecepatan mobilnya karena lima puluh meter di depannya ada genangan air.Tiba-tiba Nismuh membuka pintu mobil, saat Soleh ingin mencegatnya tiba tiba pandangannya tertuju ke arah seorang perempuan renta bertubuh bungkuk yang berdiri di tepi jalan. Air setinggi lutut.Ia kelihatan kebingungan antara menyeberang atau tetap di tempat, namun arus sungai yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri cukup deras dan berbahaya, terutama bagi penyeberang serupa nenek itu.Banyak orang di tepi jalan, hanya menatapi nenek-nenek itu. Tak ada gelagat memberi bantuan. Mungkin mereka sedang berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri.Nismuh datang memberikan isyarat kepada pengemudi kendaraan lain untuk memperlambat laju. Tanpa ragu, Nismuh menolongnya menyeberang, membawa nenek itu ke tempat lebih tinggi, dekat masjid.Setelah menyeberangkan perempuan itu dengan membawanya ke tempat yang sedikit lebih tinggi ke dekat masjid Nismuh kembali ke mobilnya.“Gila kamu dik, salut saya sama kamu, tak pantas orang seperti kamu berada di penjara. Negara ini memang kacau masalah hukum. Ibarat kata, pisau di atas, alah lupa saya.” kata Soleh setelah Nismuh kembali.“Tumpul ke atas tajam ke bawah bang.” Nismuh membenarkan. “Nah, itu maksud saya.”Mobil kembali melaju, menerobos genangan air. Namun pengalaman mobil tua milik Soleh itu berhasil melalui perintang yang di depan. Mobil lembali melaju pelan di jalan yang debit airnya mulai berkurang.Sepanjang jalan hujan masih terus mengguyur dan angin malam yang deras menjadi berkali lipat derasnya hujan.Dalam gelap, yang hanya sesekali diterangi oleh lampu jalan dan lampu dari mobil lewat, Soleh melirik kaca spion. Terlihat Nismuh kelelahan. Wajahnya tampak di penuhi putus asa, kekecewaan dan penuh harapan.Sepanjang Soleh melihatnya matanya terus berkaca-kaca, mungkin dia ingin menangis, tapi sebagai laki-laki kita selalu dipaksa kuat, dipaksa menahan air mata dan tegar melewati segala macam cobaan, meskipun hati berkata lain. Dan Nismuh menyimpan itu semua, entah kapan dia akan meluapkan semuanya.Sang sopir sebenarnya hendak bertanya banyak tentang hidupnya, tentang perjuangan selama di dalam penjara, tentang keadilan, tentang nasib orang kecil. Namun ujungnya ia hanya tersenyum kecil. Ia merasa pertanyaannya tak ada artinya. Karena Nismuh sudah lebih dulu terlelap.Sesaat kemudian suasana terasa lengang, Soleh menarik napas panjang, sebab ia merasa begitu prihatin pada Nismuh. Bukan hanya pada pria itu, juga pada anak dan istrinya. Bahkan sampai detik itu keberadaan mereka masih menjadi tanda tanya.“Bagaimana jika seandainya anak dan istrinya terbawa banjir? Bagaimana jika pria malang ini tak bisa lagi melihat senyum anak istrinya lagi.” seruan batinnya itu menyeruak karena ia mengingat beberapa jam lalu ia baru saja ngobrol dengan anaknya di depan Nismuh.Mata Soleh menyorot jalanan dengan tatapan tajam yang fokus. Membayangkan perasaan Nismuh, dada Soleh ikut bergemuruh. Nafasnya tak beraturan. Bahkan, kunang-kunang yang terbang di luar mobil tak ia hiraukan.Klakson sebuah truk yang hendak menyalip mobilnya akhirnya membangunkan Nismuh. “Sialan! Kau mau kami mati?!” bentak Soleh dari dalam mobilnya.“Kenapa, Bang?!” mendengar suara Nismuh membuat Soleh tersadar telah mengganggu tidurnya. “Nggak apa-apa dik, mobil besar itu main serobot saja.”Saat matanya melirik ke arah arloji di lengan kirinya, ia sadar bahwa masih tersisa empat jam lagi untuk sampai ke tujuan. Kini mobil sudah mulai memasuki kawasan bencana. Akan melewati tiga titik lokasi banjir sebelum tiba di Kuta Simpang.Selama perjalanan di kawasan bencana itu pula, Nismuh mulai banyak diam. Pandangannya tertuju pada kondisi pemukiman warga kiri dan kanan jalan nasional yang dihantam banjir bandang.Disela itu, Nismuh sempat bercerita pada sopir, ia menikah dengan istrinya tahun 2021 pasca korona. Dia dengan istrinya teman satu kelas saat di SMA. Takdir kembali mempertemukan mereka saat sama -sama sudah siap untuk menikah.Setelah setahun menikah, tahun 2022 di karunia seorang putri cantik. Setahun umur putrinya, nasib sial menimpanya yang membuatnya harus berakhir di dalam sel.Sebelum memasuki kawasan Kuta Simpang, Soleh sempat berhenti disalah satu warung makan. “Nggak apa-apa, ini saya yang bayar.” ucap Soleh, Nismuh kembali untuk kesekian kalinya berterima kasih pada sopir yang baik hati itu.Singkatnya, mobil telah memasuki Kuta Simpang.“Rumah adik di kecamatan apa?” Soleh bertanya untuk menghela sedikit ketidaktenangannya karena melihat suasana yang mencekam. Lampu mati diseluruh penjuru. Ia mengurangi laju mobil.“Di Ujung Tapak, sebelum jembatan, bang. Tapi nggak papa-papa turunkan saya di Masjid Jamik saja bang. Kata orang di warung makan tadi, warga Desa Ujung Tapak mengungsi di Masjid Jamik. Mudah-mudahan anak dan istri saya ada disana.”“Oh siap adik,” sambut Soleh.Desa Ujung Tapak berada percis di samping sungai. Ditempati oleh para warga miskin. Di daerah itu, ada ribuan lahan sawit yang di tanam beberapa tahun lalu. Namun, hanya sepuluh persen warga disana yang menikmati hasilnya, selebihnya oligarki di negeri ini yang menikmatinya.Jika musim hujan tiba, pasti air naik ke rumah rumah warga. Kali ini untuk pertama kalinya banjir terparah terjadi disana. Air dari sungai itu meluap, menenggelamkan apa yang ada.Soleh tak mau lagi melirik kaca spion mobilnya, sebab tak sanggup mendapati wajah Nismuh yang mau menumpahkan air.“Agak cepat, Bang,” pinta Nismuh ketika mereka mendekati jalan masuk ke Desa Ujung Tapak. “Saya mau mencari anak dan istri saya.“Soleh menekan pedal gas sedikit lebih keras hingga menerbangkan lumpur di bagian belakang ban mobilnya, mempercepat laju mobil. “Bang Soleh, bagaimana cara abang pulang, sementara kota abang sudah lewat.”“Tak usah adik pikirin saya, saya hanya berdoa anak dan istrimu ada di pengungsian.”“Aamiin bang.” sambut Nismuh cepat-cepat.“Terima kasih, Bang. Tidak usah masuk, disini saja, nanti mobil abang susah keluar. Hanya Allah yang akan membalas kebaikan abang.”Ucapan Nismuh di pintu gerbang masuk masjid jamik tak digubris oleh Soleh. Ia sedang ingin berbuat baik kepada penumpangnya yang malang itu.Termyata Soleh tak sanggup membendung air matanya yang sengaja ia tutupi sepanjang jalan, dan tetap berusaha menghibur penumpangnya itu.Nismuh mulai berjalan tertatih-tatih memasuki pekarangan masjid jamik. Tapi siapa sangka, seorang perempuan dan seorang anak kecil berlari ke arahnya.Nismuh membuka lebar tangannya, memeluk kedua perempuan yang sangat ia cintai. Tangisnya pun pecah. Dia meraba-raba pipi anak dan istrinya, mencium mereka.Di ujung jalan, Soleh menyaksikan semuanya. Air matanya jatuh. Dia menangis tersedu, merindukan anak dan istrinya di rumah.Lalu, dia memutar setir mobil, membunyikan klakson. Nismuh, istri dan anaknya melambai tangan ke arahnya.Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, Soleh merasa benar-benar berguna sebagai manusia.