Bukan Diesel, Toyota Hardtop Bensin Jadi Favorit di Bromo

Wait 5 sec.

Pesona Toyota Land Cruiser 'Hardtop' FJ40 di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Foto: kumparanDi sela perjalanan kumparan Eco Journey Toyota Veloz Hybrid EV Lintas Nusa, kami berkesempatan berbincang dengan Ketua Paguyuban Jip Trans Bromo, Arlex Mardiyansyah. Obrolan singkat tersebut membuka gambaran menarik soal preferensi mesin yang digunakan armada Jip wisata di kawasan Gunung Bromo.Menurut pria yang karib disapa Ardi, dari dua jenis mesin yang umum digunakan—bensin dan diesel, operator Jip di Bromo justru lebih banyak memilih mesin bensin. Faktor cuaca ekstrem menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan tersebut.“Kalau favorit di sini lebih ke yang bensin. Karena bensin tidak beku. Kalau solar, di kondisi tertentu bisa beku,” kata Ardi kepada kumparan baru-baru ini.Pesona Toyota Land Cruiser 'Hardtop' FJ40 di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Foto: kumparanKawasan Bromo dikenal memiliki suhu yang bisa turun drastis, terutama saat musim kemarau. Ardi menjelaskan, pada periode tersebut suhu udara bisa mencapai titik minus, berbeda dengan musim hujan yang cenderung lebih hangat.“Kalau musim kemarau itu bisa sampai minus. Makanya sempat viral ada salju atau bunga es di Bromo. Di kondisi seperti itu, solar bisa membeku,” ujarnya.Selain faktor suhu, karakter mesin bensin juga dinilai lebih sesuai untuk medan khas Bromo yang didominasi tanjakan curam. Respons mesin menjadi nilai tambah tersendiri bagi pengemudi Jip wisata.Toyota Hardtop Lintas Nusa di Bromo. Foto: Fitra Andrianto/kumparan“Kalau bensin, pas tanjakan ke penanjakan itu lebih responsif. Tenaganya terasa lebih enak dan lebih tenang,” jelasnya.Meski demikian, dari sisi perawatan, Ardi menegaskan tidak ada perbedaan signifikan antara Jip bermesin bensin dan diesel. Perbedaan utama justru terletak pada biaya operasional harian.Toyota Hardtop Lintas Nusa di Bromo. Foto: Fitra Andrianto/kumparan“Perawatannya sebenarnya sama saja. Cuma biaya bensinnya lebih mahal, karena lebih boros dibanding diesel,” pungkasnya.Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa di medan ekstrem seperti Bromo, aspek keandalan mesin dan adaptasi terhadap kondisi alam kerap menjadi faktor penentu, bahkan mengalahkan pertimbangan efisiensi bahan bakar semata.