Ilustrasi mahasiswa khawatir. Foto: fizkes/ShutterstockPendidikan tinggi kerap disebut sebagai jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Namun di Indonesia, mimpi untuk mengenyam bangku kuliah tidak selalu sejalan dengan realita yang dihadapi banyak keluarga. Biaya kuliah yang terus meningkat menjadi salah satu hambatan terbesar bagi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.Secara normatif, negara menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan. Namun dalam praktiknya, akses pendidikan tinggi masih sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Kuliah bukan lagi sekadar soal kemampuan akademik, melainkan juga soal kemampuan finansial.Biaya Kuliah yang Tidak Lagi TerjangkauSaat ini, biaya kuliah di Indonesia sangat bervariasi, tergantung jenis perguruan tinggi dan jalur masuk. Di perguruan tinggi negeri, sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) memang diterapkan untuk menyesuaikan biaya dengan kondisi ekonomi mahasiswa.Namun pada kenyataannya, banyak mahasiswa yang merasa penetapan UKT belum sepenuhnya adil. Tidak sedikit kasus mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah justru mendapatkan UKT tinggi, sementara mekanisme banding sering kali rumit dan memakan waktu.Ilustrasi kampus. Foto: ShutterstockDi sisi lain, perguruan tinggi swasta menawarkan kualitas pendidikan yang tidak kalah baik, tetapi dengan biaya yang relatif tinggi. Selain uang pangkal dan biaya semester, mahasiswa juga harus menanggung biaya tambahan, seperti praktikum, buku, penelitian, hingga tugas akhir. Akumulasi biaya tersebut membuat kuliah menjadi beban besar, khususnya bagi keluarga dengan penghasilan terbatas.Beban Ganda Mahasiswa dan KeluargaTingginya biaya kuliah sering kali memaksa mahasiswa untuk bekerja sambil kuliah. Bagi sebagian orang, hal ini memang melatih kemandirian. Namun tidak dapat dimungkiri, bekerja sambil kuliah juga membawa konsekuensi serius, seperti kelelahan, menurunnya fokus belajar, hingga keterlambatan kelulusan.Di sisi keluarga, orang tua harus mengorbankan banyak hal demi membiayai pendidikan anaknya. Tidak jarang mereka harus berutang, menjual aset, atau menekan kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi masih menjadi “barang mahal” yang tidak sepenuhnya inklusif.Beasiswa: Solusi yang Belum MerataPemerintah sebenarnya telah menyediakan berbagai program beasiswa, seperti KIP Kuliah. Program ini menjadi harapan besar bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Namun, jumlah penerima beasiswa masih belum sebanding dengan jumlah pendaftar. Selain itu, proses administrasi yang rumit dan keterbatasan kuota membuat banyak calon mahasiswa akhirnya tersingkir. Ilustrasi beasiswa. Foto: ShutterstockBeasiswa dari pihak swasta dan perguruan tinggi juga ada, tetapi sering kali mensyaratkan prestasi akademik yang sangat tinggi atau komitmen tertentu. Akibatnya, beasiswa belum sepenuhnya menjadi solusi menyeluruh atas persoalan mahalnya biaya kuliah.Dampak Jangka Panjang bagi Generasi MudaJika kondisi ini terus dibiarkan, kesenjangan akses pendidikan tinggi akan semakin lebar. Anak-anak dari keluarga mampu akan lebih mudah melanjutkan kuliah, sementara mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu terpaksa mengubur mimpi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperkuat ketimpangan sosial dan menghambat mobilitas ekonomi.Lebih dari itu, mahalnya biaya kuliah juga melahirkan stigma bahwa pendidikan tinggi bukan untuk semua orang. Banyak anak muda akhirnya memilih langsung bekerja setelah lulus SMA; bukan karena tidak mampu secara intelektual, melainkan karena tidak sanggup secara finansial.Perlu Komitmen BersamaRealita biaya kuliah di Indonesia seharusnya menjadi refleksi bersama. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan pendidikan yang lebih berpihak pada akses dan keadilan, termasuk evaluasi sistem UKT dan perluasan beasiswa. Perguruan tinggi juga diharapkan lebih transparan dalam penetapan biaya dan tidak menjadikan pendidikan sebagai komoditas semata.Ilustrasi pendidikan. Foto: exam student/ShutterstockPendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang bagi lahirnya generasi unggul, bukan ladang seleksi berdasarkan kemampuan ekonomi. Selama biaya kuliah masih menjadi tembok tinggi bagi banyak anak muda, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa belum sepenuhnya terwujud.Kesimpulan Pada akhirnya, realita biaya kuliah di Indonesia bukan sekadar soal angka di lembar tagihan, melainkan juga tentang mimpi yang harus dinegosiasikan dengan keadaan. Banyak anak muda memiliki semangat dan kemampuan untuk belajar lebih tinggi, tetapi langkah mereka terhenti bukan karena kurang cerdas, melainkan karena keterbatasan biaya. Pendidikan seharusnya menjadi tangga untuk memperbaiki nasib, bukan justru menjadi tembok yang memisahkan mereka yang mampu dan tidak mampu. Jika akses pendidikan tinggi masih terasa berat bagi sebagian besar generasi muda, yang perlu dibenahi bukan hanya sistemnya, melainkan juga keberpihakan kita sebagai bangsa.Karena masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang paling mampu membayar, tetapi oleh siapa yang diberi kesempatan untuk berkembang.