IHSG Kinclong di Perdagangan Pertama 2026, Optimisme Investor Terus Meningkat

Wait 5 sec.

Seorang pria mengamati layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat, (12/12/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTOPasar keuangan Indonesia membuka 2026 dengan sentimen sangat positif, ditandai lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,17 persen ke level 8.748,13 pada hari perdagangan pertama tahun ini, Jumat (2/1). Penguatan tersebut memperkuat keyakinan bahwa Indonesia memasuki tahun baru dengan fondasi fundamental yang solid, di tengah membaiknya sentimen global dan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko.Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, mengatakan penguatan IHSG di awal tahun merupakan sinyal kuat dari pasar.“Pasar saham Indonesia telah memberikan sinyal yang sangat jelas. Pada hari perdagangan pertama 2026, IHSG melonjak 1,17 persen ke level 8.748,13, dan ini menetapkan nada optimistis untuk tahun yang berpotensi menjadi tahun terobosan," kata Shan, dikutip Sabtu (3/1).Shan menambahkan, prospek pasar saham Indonesia ke depan dinilai semakin menarik.“Konsensus saat ini memperkirakan potensi kenaikan pasar sebesar 8 hingga 10 persen sepanjang 2026, ditopang oleh permintaan domestik yang tangguh dan meningkatnya kepercayaan investor,” ujarnya. Dari sisi valuasi, ia menilai pasar saham Indonesia masih berada di bawah rata rata historisnya.“Bagi investor global yang selektif, Indonesia semakin menjadi pilar utama pasar berkembang dengan kualitas tinggi,” kata Shan.Konferensi pers penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia, di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (30/12/2025). Foto: Muhammad Fhandra/kumparanOptimisme tersebut sejalan dengan pandangan Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, yang melihat penguatan IHSG sebagai bagian dari reli regional Asia.“IHSG meningkat sekitar 1,2 persen ke level 8.748 seiring dengan kenaikan luas bursa saham Asia, didorong oleh aksi beli kembali saham oleh investor setelah profit taking di akhir 2025," terangnya. Andry juga menyoroti kondisi makro domestik yang tetap terjaga. PMI manufaktur Indonesia memang melandai ke 51,2 pada Desember, namun masih berada di zona ekspansi, dengan permintaan domestik tetap menjadi penopang utama. Dari sisi aliran dana, investor asing mencatatkan arus masuk bersih sekitar Rp 1,1 triliun ke pasar saham, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 6,05 persen. "Ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia," terang Andry.Dengan kombinasi penguatan pasar saham, masuknya dana asing, serta penurunan yield obligasi, Indonesia dinilai memulai 2026 dari posisi yang kuat.Dukungan kebijakan yang kredibel, permintaan domestik yang solid, dan valuasi pasar yang masih atraktif membuat Indonesia semakin dipandang sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara, bukan sekadar reli jangka pendek, melainkan fase penguatan yang lebih berkelanjutan.