Ketika Politik Lebih Sibuk Mengejar Viral daripada Kejujuran

Wait 5 sec.

Ilustrasi demokrasi. Sumber: FreepikHari ini, politik tidak perlu jujur untuk dipercaya. Ia hanya perlu viral. Dalam hitungan detik, potongan video tanpa konteks bisa mengalahkan laporan panjang dan pernyataan emosional lebih cepat dipercaya daripada penjelasan rasional. Demokrasi pun perlahan bergeser: dari ruang dialog menjadi panggung konten.Di ruang digital, kebenaran bukan lagi soal ketepatan, melainkan soal keterjangkauan. Apa yang muncul berulang kali di layar dianggap penting, meski isinya dangkal atau menyesatkan.Algoritma tidak peduli pada substansi, ia bekerja berdasarkan reaksi. Marah, takut, atau terharu, semua emosi itu jauh lebih berharga daripada argumen yang tenang. Dalam logika semacam ini, politik belajar satu hal penting: kejujuran sering kali tidak cukup menarik.Ilustrasi politik. Foto: Shutter StockMaka, tidak mengherankan jika politik hari ini tampil semakin teatrikal. Pernyataan dibuat singkat, tajam, dan mudah dipelintir. Isu kompleks disederhanakan menjadi slogan. Debat panjang dianggap membosankan, sementara konflik artifisial justru dirayakan.Politik tidak lagi sibuk menjelaskan, tetapi sibuk menciptakan momen. Dalam demokrasi yang terlalu viral, pencitraan terasa lebih efisien daripada pertanggungjawaban.Masalahnya, viralitas tidak pernah netral. Ia memilih siapa yang terlihat dan siapa yang tenggelam. Ia mengangkat narasi tertentu sambil menyingkirkan yang lain.Ilustrasi viralitas. Foto: photobyphotoboy/ShutterstockDalam kondisi seperti ini, kebenaran yang tidak ramah algoritma akan kalah bersaing. Kejujuran yang membutuhkan waktu, konteks, dan penjelasan panjang sering kali kalah cepat dari kebohongan yang dikemas rapi dan emosional.Ironisnya, demokrasi justru dirayakan sebagai semakin partisipatif. Angka keterlibatan meningkat, komentar membanjir, dan tagar berganti setiap hari.Namun, partisipasi yang ramai tidak selalu berarti partisipasi yang bermakna. Banyak orang hadir dalam percakapan, tetapi sedikit yang benar-benar mendengar. Demokrasi menjadi bising, bukan karena terlalu banyak gagasan, melainkan karena terlalu sedikit ruang untuk berpikir.Ilustrasi generasi muda. Foto: Odua Images/ShutterstockGenerasi muda berada di pusat pusaran ini. Mereka tumbuh bersama media sosial, terbiasa merespons cepat, dan tidak alergi pada isu politik. Namun, kedekatan dengan teknologi juga membawa paradoks. Di satu sisi, anak muda dianggap apatis.Di sisi lain, mereka justru kelelahan menghadapi politik yang terasa semakin tidak tulus. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu sering disuguhi politik yang tampak seperti konten, bukan komitmen.Banyak anak muda hari ini aktif secara digital, tetapi skeptis secara politik. Mereka berkomentar, membagikan, bahkan berdebat, tetapi tetap merasa jauh dari proses pengambilan keputusan. Demokrasi memberi mereka ilusi kedekatan, tetapi tidak selalu memberi ruang pengaruh. Dalam situasi seperti ini, viralitas hanya memperkuat rasa frustrasi: ramai di permukaan, kosong di kedalaman.Ilustrasi identitas kalah dengan algoritma. Sumber: FreepikMedia memiliki posisi yang tidak kalah problematis. Di tengah persaingan atensi, media dituntut cepat, relevan, dan menarik. Judul sensasional sering kali lebih menggoda daripada analisis mendalam.Ketika media ikut terseret dalam logika viral, fungsi kritisnya melemah. Bukan karena jurnalis tidak memahami etika, melainkan karena ekosistem informasi mendorong segalanya untuk bergerak lebih cepat daripada refleksi.Namun, menyalahkan media sosial atau generasi muda saja jelas tidak adil. Persoalannya lebih mendasar: demokrasi terlalu nyaman bergantung pada keramaian. Kita mengukur kesehatan demokrasi dari seberapa sering ia dibicarakan, bukan seberapa jujur ia dijalankan. Padahal, demokrasi tidak hidup dari sorotan, melainkan dari kepercayaan. Dan kepercayaan tidak bisa dibangun dari viralitas semata.Ilustrasi Demokrasi. Foto: Sorapop Udomsri/ShutterstockDalam demokrasi yang sehat, kejujuran memang tidak selalu populer. Ia sering terasa lambat, rumit, dan tidak memancing emosi. Namun, justru di sanalah nilainya. Ketika politik terus-menerus mengejar algoritma, kejujuran dianggap tidak efisien. Padahal tanpa kejujuran, demokrasi hanya menjadi pertunjukan yang ramai, tetapi rapuh.Pertanyaannya bukan apakah politik perlu viral. Di era digital, visibilitas memang tidak terhindarkan. Pertanyaan yang lebih penting: Sampai sejauh mana kita membiarkan viralitas menentukan arah demokrasi? Jika semua hal harus viral untuk dianggap penting, kita sedang menyerahkan masa depan politik pada mekanisme yang tidak pernah dirancang untuk menilai kebenaran.Pada akhirnya, demokrasi membutuhkan lebih dari sekadar perhatian. Ia membutuhkan keberanian untuk jujur, bahkan ketika kejujuran itu tidak sedang tren. Sebab demokrasi yang hanya hidup di linimasa akan cepat dilupakan. Namun, demokrasi yang berpijak pada kejujuran meski sunyi masih punya harapan untuk bertahan.