Resolusi 2026: Antara Janji Manis dan Realitas Pahit Gen Z

Wait 5 sec.

Ilustrasi Catatan Resolusi Janji Manis. Foto: Ilustrasi AISetiap pergantian tahun, media sosial kita dibanjiri postingan resolusi. Mulai dari yang realistis seperti "tahun ini harus rajin olahraga" sampai yang absurd seperti "tahun ini harus jadi milyarder". Namun, pertanyaannya: Berapa banyak dari kita yang benar-benar menepati resolusi tahun lalu?Saya sendiri termasuk orang yang dulu skeptis dengan resolusi. Buat apa bikin janji ke diri sendiri kalau ujung-ujungnya cuma bertahan sampai Februari?Namun pengalaman tahun 2025 mengubah pandangan saya. Bukan karena saya berhasil mencapai target—justru sebaliknya. Saya belajar bahwa kegagalan dalam resolusi bukan berarti kita lemah, melainkan cara kita merumuskan tujuan yang masih keliru.Ketika Resolusi Jadi BebanIlustrasi resolusi. Foto: Melly Meiliani/kumparanAwal Januari 2025, saya menulis 15 resolusi di notes HP. Isinya macam-macam: diet, belajar bahasa Jepang, nabung 10 juta, baca 24 buku, dan sederet target ambisius lainnya. Bulan pertama masih semangat. Bulan kedua mulai kendor. Maret? Sudah lupa ada resolusi.Yang saya rasakan bukan motivasi, melainkan justru tekanan. Setiap kali buka notes, yang muncul bukan semangat, melainkan rasa bersalah. "Kok belum juga mulai?" "Sudah hampir setengah tahun, tapi apa yang sudah dicapai?" Resolusi yang seharusnya jadi pendorong malah jadi cambuk mental.Ternyata saya tidak sendirian. Riset dari University of Scranton menyebutkan bahwa hanya 8% orang yang benar-benar mencapai resolusi tahun barunya. Sisanya? Menyerah di tengah jalan atau bahkan tidak pernah memulai sama sekali.Belajar dari KegagalanIlustrasi tahun 2025. Foto: ShutterstockPertengahan tahun 2025, saya bertemu teman lama yang penampilannya berubah drastis. Dia lebih bugar, lebih percaya diri. Ketika saya tanya rahasianya, jawabannya sederhana: "Gue nggak bikin resolusi. Gue cuma fokus bikin kebiasaan kecil setiap hari."Kalimat itu mengubah perspektif saya. Masalahnya bukan pada niat untuk berubah, melainkan pada cara kita mendefinisikan perubahan itu sendiri. Resolusi sering kali terlalu besar, terlalu abstrak, dan tidak punya langkah konkret. "Tahun ini mau sehat" itu bukan rencana—itu cuma wishful thinking.Saya mulai membaca tentang konsep Atomic Habits yang dipopulerkan James Clear. Intinya sederhana: perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten. Alih-alih menargetkan "olahraga 5 kali seminggu", lebih baik mulai dengan "push up 10 kali setiap pagi". Kelihatannya sepele, tapi dampak jangka panjangnya luar biasa.Optimisme yang MembumiIlustrasi tahun 2026. Foto: ShutterstockMemasuki 2026, optimisme saya bukan lagi yang naif dan penuh ekspektasi berlebihan. Ini adalah optimisme yang membumi—optimisme yang paham bahwa perubahan itu tidak instan, bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, bahwa konsistensi lebih penting daripada intensitas.Saya tidak lagi bermimpi untuk menjadi versi sempurna dari diri saya dalam semalam. Yang saya inginkan adalah menjadi sedikit lebih baik setiap harinya. Kalau hari ini saya bisa jalan kaki 15 menit, besok mungkin bisa 20 menit. Kalau bulan ini saya bisa baca satu buku, bulan depan mungkin bisa dua. Progres yang lambat, tapi pasti.Yang juga berubah adalah cara saya menyikapi kegagalan. Dulu, sekali gagal langsung menyerah. Sekarang, saya paham bahwa tidak ada perjalanan yang mulus. Ada hari-hari di mana saya malas, ada minggu-minggu di mana saya kendor. Namun, hal itu bukan akhir dari segalanya. Yang penting adalah bangkit lagi dan melanjutkan kebiasaan baik yang sudah dibangun.Bukan Tentang Sempurna, tapi Tentang KonsistenIlustrasi resolusi di tahun 2020. Foto: Shutter StockResolusi 2026 saya sederhana: menjadi konsisten. Tidak perlu sempurna, tidak perlu spektakuler. Cukup konsisten dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang sudah saya tetapkan. Karena pada akhirnya, kehidupan yang bermakna tidak dibangun dari momen-momen heroik, tetapi dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari.Buat kamu yang juga punya resolusi tahun ini, ingatlah: kamu tidak sendirian. Kita semua berjuang dengan tantangan masing-masing. Yang penting bukan seberapa cepat kita mencapai garis finish, melainkan seberapa tulus kita menikmati perjalanannya. Dan kalau di tengah jalan kamu tersandung atau bahkan jatuh, tidak apa-apa. Berdiri lagi, tepuk debu di baju, dan lanjutkan melangkah.Karena pada akhirnya, resolusi terbaik adalah komitmen untuk terus tumbuh—sedikit demi sedikit, hari demi hari.Selamat menjalani 2026. Semoga tahun ini membawa kita semua pada versi terbaik dari diri kita masing-masing.