Nilai Tambah Industri yang Hilang Imbas Bencana Sumatera Capai Rp 15 T

Wait 5 sec.

Kondisi jalanan dan rumah warga di sekitar Sungai Muara Pisang, Nagari Maninjau, Sumatera Barat pascabanjir pada Kamis (1/1). Foto: Abid Raihan/kumparanMenteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap dampak banjir di Sumatera dan Aceh diperkirakan menahan nilai tambah manufaktur nasional pada kisaran Rp 11 triliun hingga Rp 15 triliun.Agus menyebut, angka ini merupakan nilai tambah yang hilang atau tertunda sementara, bukan kerusakan permanen terhadap kapasitas industri nasional.Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), industri yang beroperasi di Sumatera Utara tercatat sebanyak 3.520 industri kecil, 115 industri menengah, dan 490 industri besar.Sementara itu, di Sumatera Barat terdapat 3.464 industri kecil, 17 industri menengah, dan 78 industri besar, sedangkan di Aceh tercatat 1.954 industri kecil, 7 industri menengah, dan 46 industri besar.“Dari hasil laporan yang kami himpun hingga 30 Desember 2025, dampak paling besar pada sektor IKM terjadi di Aceh dengan 1.647 industri terdampak, diikuti Sumatera Barat sebanyak 367 industri, dan Sumatera Utara sebanyak 52 industri. Selain itu, terdapat pula dampak pada sektor industri agro, ILMATE, serta industri kimia, farmasi, dan tekstil,” ujar Agus dalam keterangannya, Sabtu (3/1).Dalam rapat mengenai program restarting bagi industri kecil yang terdampak bencana alam di wilayah Sumatera, Agus memastikan pemulihan sektor industri bisa berjalan cepat, terkoordinasi.Secara umum dampak bencana terhadap sektor industri tidak hanya disebabkan oleh kerusakan fisik fasilitas produksi, tetapi lebih banyak dipicu oleh gangguan sistemik pada rantai pasok dan logistik.Gangguan tersebut seperti terputusnya akses jalan dan jembatan, terganggunya distribusi BBM, juga ketidakstabilan pasokan listrik dan air yang memaksa industri menghentikan sementara kegiatan produksi atau mengurangi kapasitas produksi.Warga berada di sebuah bangunan yang sudah terendam air di bantaran sungai Batang Air Dingin, Lubuk Minturun, Padang, Sumatera Barat, Selasa (30/12/2025). Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO“Bagi industri manufaktur yang bersifat just-in-time dan padat logistik, gangguan pasokan bahan baku selama beberapa hari saja sudah cukup untuk menghentikan lini produksi dan menimbulkan kehilangan output yang tidak kecil,” imbuhnya.Lebih lanjut Agus menjelaskan dalam jangka pendek, dampak dari hilangnya potensi nilai tambah industri dirasakan terutama oleh agroindustri, makanan dan minuman, kimia dasar, serta industri berbasis komoditas. Sebab subsektor industri tersebut yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi regional.Agus menilai dampak gangguan tersebut tidak sebanding dengan skala industri di wilayah terdampak, karena Sumatera berperan strategis sebagai pusat logistik dan pemasok input bagi daerah lain, termasuk Jawa. Dengan demikian gangguan di satu wilayah dapat menekan output manufaktur nasional.“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketahanan industri nasional tidak hanya ditentukan oleh lokasi pabrik, tetapi juga oleh ketahanan infrastruktur, sistem logistik, dan jaringan distribusi antarwilayah,” jelasnya.Agus membahas rencana pemulihan industri kecil pascabencana yang dilakukan bertahap dan terukur. Pada 2025, fokus pada koordinasi, pendataan industri terdampak, serta pemetaan kebutuhan pemulihan dengan progres awal sekitar 20 persen.Pada 2026, pemulihan dilanjutkan melalui penetapan penerima bantuan, pemberian mesin dan peralatan, pemulihan produksi, serta pendampingan teknis lintas kementerian/lembaga. Intervensi mencakup bantuan alat sederhana, starter kit usaha, pengembangan produk kebutuhan dasar, pendampingan, dan fasilitasi kemitraan untuk memperluas akses pasar.“Melalui program restarting ini, kami berharap pemulihan industri kecil tidak hanya mengembalikan kapasitas produksi seperti sebelum bencana, tetapi juga memperkuat ketahanan dan keberlanjutan usaha agar lebih siap menghadapi risiko di masa mendatang,” pungkas Agus.