Kegiatan konvoi 50 Isuzu Menemani di Jalan. Foto: Fitra Andrianto/kumparanIsuzu Motors memilih jalur berbeda dalam menghadapi tantangan industri kendaraan niaga global. Alih-alih hanya mengandalkan penjualan unit baru, pabrikan asal Jepang itu memperkuat bisnis mesin truk rekondisi sebagai strategi jangka panjang, untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus memperpanjang usia pakai kendaraan komersial.Berdasarkan laporan Nikkei Asia, Isuzu menargetkan pengiriman mesin rekondisi mencapai sekitar 8.000 unit per tahun pada 2030. Target tersebut melonjak sekitar 60 persen dibandingkan volume pengiriman di tahun 2025 yang berada di kisaran 5.000 unit per tahun."Kita bisa membangun ulang mesin-mesin itu agar hampir setara dengan yang baru. Ketersediaan mesin-mesin hasil perbaikan ini membuat Isuzu menjadi pilihan yang lebih layak," kata Head of Business Isuzu di headquarter Hokkaido.Mesin truk Isuzu yang belum direkondisi (kiri) dan setelah direkondisi (kanan). Foto: Sota Tanaka/Nikkei AsiaEkspansi ini dilakukan di tengah perlambatan pasar kendaraan niaga di sejumlah wilayah utama seperti Thailand, serta meningkatnya tekanan biaya dan tarif di Amerika Utara. Dalam kondisi tersebut, layanan purnajual dinilai menjadi penopang penting untuk menjaga loyalitas pelanggan.Seluruh proses rekondisi mesin dilakukan di fasilitas khusus Isuzu di Hokkaido, Jepang. Mesin truk bekas yang mengalami kerusakan dikirim dari berbagai wilayah untuk dibongkar sepenuhnya. Setiap komponen diperiksa, dibersihkan, dan diperbaiki, sementara bagian yang tidak memenuhi standar akan diganti.Setelah dirakit ulang, mesin rekondisi tersebut menjalani pengujian menyeluruh dengan standar yang setara mesin baru. Langkah ini dilakukan untuk memastikan performa, daya tahan, dan keandalannya tetap terjaga sebelum kembali digunakan oleh pelanggan.Fasilitas di Hokkaido, Jepang jadi pusat rekondisi mesin truk Isuzu. Foto: Sota Tanaka/Nikkei AsiaMesin-mesin yang telah selesai direkondisi kemudian disimpan di pusat distribusi Isuzu di Tochigi. Dengan sistem ini, penggantian mesin dapat dilakukan jauh lebih cepat dibandingkan perbaikan konvensional yang memakan waktu lama.Bagi pelaku usaha logistik dan transportasi, kehadiran mesin rekondisi menjadi solusi untuk menekan waktu downtime kendaraan. Jika perbaikan mesin biasa bisa memakan waktu lebih dari satu bulan, penggantian dengan mesin rekondisi hanya membutuhkan waktu beberapa hari hingga dua pekan.Selain mempercepat operasional, strategi ini juga memungkinkan truk lama termasuk model yang sudah tidak lagi diproduksi tetap beroperasi secara optimal. Pendekatan tersebut sekaligus membantu menekan biaya kepemilikan kendaraan dalam jangka panjang.Truk Isuzu Giga. Foto: dok. IsuzuKe depan, Isuzu tidak hanya berhenti pada pengembangan mesin rekondisi. Perusahaan juga mulai menyiapkan fondasi menuju software-defined vehicles, di mana fungsi kendaraan dapat diperbarui atau ditingkatkan melalui perangkat lunak sepanjang siklus hidupnya.Langkah ini menegaskan perubahan arah bisnis Isuzu, dari sekadar produsen kendaraan menjadi penyedia solusi mobilitas komersial yang berfokus pada keberlanjutan.Bagi industri truk, termasuk di Indonesia, strategi tersebut menunjukkan bahwa masa depan kendaraan niaga tidak hanya ditentukan oleh model baru, tetapi juga bagaimana kendaraan lama tetap dijaga produktivitasnya di jalan.