Ilustrasi Pendidikan Tinggi (Sumber: https://unsplash.com/id/foto/pemandangan-udara-lulusan-yang-mengenakan-topi-YZsvNs2GCPU0)Pendidikan kerap disebut sebagai kunci utama untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik. Namun, di Indonesia masih hidup stigma bahwa pendidikan cukup berhenti sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Setelah lulus, banyak anak muda didorong untuk segera bekerja, menikah, atau membantu ekonomi keluarga.Pandangan ini seolah menempatkan pendidikan tinggi sebagai pilihan sekunder, bukan kebutuhan. Padahal, di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang pesat, cara pandang semacam ini justru berpotensi menghambat kemajuan generasi muda. Berikut beberapa faktor yang biasa terjadi.1. Faktor Ekonomi dan Kekhawatiran Orang Tua Stigma bahwa pendidikan berhenti sampai SMA tidak muncul begitu saja. Faktor ekonomi menjadi alasan yang paling sering dikemukakan. Biaya pendidikan tinggi dianggap mahal dan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.Tidak sedikit orang tua yang khawatir anaknya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk kuliah, tetapi tetap sulit mendapatkan pekerjaan. Akibatnya, bekerja setelah lulus SMA dipandang sebagai pilihan yang lebih realistis dan aman secara finansial. 2. Faktor Budaya dan Narasi Kesuksesan tanpa Pendidikan Tinggi Ilustrasi siswa SMA. Foto: Agewib/ShutterstockSelain ekonomi, faktor budaya juga turut memengaruhi. Di beberapa daerah, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi belum menjadi tradisi. Ada anggapan bahwa kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh gelar akademik.Contoh-contoh individu yang berhasil tanpa kuliah sering dijadikan pembenaran untuk mengabaikan pentingnya pendidikan lanjutan. Sayangnya, narasi ini kerap mengabaikan fakta bahwa tidak semua orang memiliki peluang dan keberuntungan yang sama.Tekanan Sosial dan Terhambatnya Potensi Anak Muda Dampak stigma ini sangat terasa bagi generasi muda. Banyak pelajar yang sebenarnya memiliki potensi akademik dan minat belajar tinggi, tetapi mengurungkan niat untuk melanjutkan pendidikan karena tekanan lingkungan. Mereka merasa kuliah adalah sesuatu yang “tidak perlu” atau bahkan dianggap membuang waktu.Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi, karena akses terhadap pendidikan tinggi masih menjadi salah satu faktor penting dalam mobilitas sosial. Ilustrasi tuntutan dunia kerja. Foto: Shutter StockDi era globalisasi dan digitalisasi, tuntutan dunia kerja semakin kompleks. Pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi untuk memperoleh ijazah, tetapi juga membekali individu dengan kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, dan memecahkan masalah.Kampus menjadi ruang pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa memahami realitas sosial, mengasah keterampilan, dan membangun jejaring yang berguna di masa depan. Tanpa pendidikan lanjutan, banyak anak muda berisiko tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat.Namun demikian, pendidikan lanjutan tidak harus selalu dimaknai sebagai kuliah di universitas. Pendidikan vokasi, politeknik, dan pelatihan keterampilan juga merupakan bentuk pendidikan yang sah dan relevan. Yang terpenting adalah keberlanjutan proses belajar setelah SMA, sesuai dengan minat dan potensi masing-masing individu.Mengubah Cara Pandang demi Masa Depan Generasi Muda Menghapus stigma bahwa pendidikan berhenti sampai SMA membutuhkan upaya bersama. Pemerintah perlu memperluas akses dan dukungan terhadap pendidikan lanjutan, sementara masyarakat harus mulai memandang pendidikan sebagai investasi jangka panjang.Ilustrasi generasi muda. Foto: Getty ImagesLebih dari itu, generasi muda perlu didorong untuk berani bermimpi dan percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk memperluas pilihan hidup. Pendidikan tidak seharusnya berhenti di SMA, melainkan menjadi proses berkelanjutan demi masa depan yang lebih adil dan bermakna. Kesimpulan Stigma bahwa pendidikan cukup sampai jenjang SMA merupakan ancaman serius bagi masa depan Gen Z karena berpotensi membatasi kapasitas intelektual, keterampilan, dan daya saing mereka di tengah tantangan global yang semakin kompleks.Pandangan ini tidak hanya mengerdilkan makna pendidikan sebagai sarana pengembangan diri dan mobilitas sosial, tetapi juga memperlebar kesenjangan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.Ilustrasi era digital. Foto: Getty ImagesDi era digital dan industri berbasis pengetahuan, jenjang pendidikan lanjutan menjadi kebutuhan strategis untuk membekali Gen Z dengan kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan inovatif.Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, dan negara untuk menghapus stigma tersebut melalui peningkatan akses pendidikan tinggi, penguatan pendidikan vokasi, serta perubahan cara pandang terhadap nilai pendidikan.Pendidikan bukan hanya soal gelar, melainkan juga investasi jangka panjang bagi individu dan bangsa. Jika stigma pendidikan cukup sampai SMA terus dibiarkan, Indonesia berisiko kehilangan potensi emas Gen Z sebagai motor penggerak kemajuan di masa depan.