Pulang yang Tertahan: Pergulatan Mahasiswa Perantau di Akhir Tahun

Wait 5 sec.

Ilustrasi mahasiswa rantau pulang. Sumber: Dokumentasi pribadiMenjadi mahasiswa perantau berarti memaknai pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan emosi yang mendalam. Di akhir tahun, ketika kota-kota mulai dihiasi lampu-lampu hiasan, group chat keluarga semakin sering bertanya "Kapan pulang?", dan udara terasa lebih dingin dari biasanya, kerinduan itu seolah-olah ditarik ke permukaan.Namun, tidak semua mahasiswa memiliki kemewahan untuk langsung pulang. Kalender akademik belum selesai, tugas menumpuk, ujian susulan menanti, bahkan beberapa kampus masih aktif hingga awal Januari.Bagi mahasiswa perantau, kondisi ini menciptakan ruang jeda yang ganjil: hati sudah sampai di rumah, tapi tubuh masih tertahan di kota rantau.Antara Tanggung Jawab dan RinduTidak ada yang salah dengan rindu rumah. Bahkan, itu adalah hal yang paling manusiawi. Namun, pendidikan tinggi sering kali menyodorkan realitas yang kurang romantis. Jadwal akademik tidak selalu selaras dengan kalender sosial.Ketika perusahaan sudah tutup buku, sekolah berhenti mengajar, dan sebagian besar orang bersiap liburan, mahasiswa perantau masih berkutat dengan laporan, revisi, praktikum, atau bimbingan skripsi.Di ruang kos yang mulai sepi karena teman-teman sudah pulang lebih dulu, suara ransel yang dikemasi terasa seperti ajakan. Tiket kereta atau pesawat dicek berulang-ulang. Tabungan dihitung, kalender dibolak-balik. Namun lagi-lagi, ada tanggung jawab yang belum bisa ditinggalkan.Ilustrasi Merantau. Foto: ShutterstockDi titik inilah, kedewasaan diuji: memilih tetap bertahan di rantau bukan karena tidak ingin pulang, melainkan karena sadar ada komitmen yang harus diselesaikan.Rumah yang Tidak Pernah HilangBagi banyak orang, rumah adalah tempat untuk pulang. Namun bagi mahasiswa perantau, rumah juga bisa menjadi sumber rasa bersalah. Ada yang merasa tidak enak hati menolak ajakan keluarga. Ada yang takut dianggap "lupa rumah" hanya karena tidak bisa libur. Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu.Rumah tidak pernah pergi. Yang berubah hanya jarak dan waktu.Pulang bukan hanya soal tanggal merah atau musim liburan. Pulang adalah proses menemukan kembali diri sendiri. Ketika seorang mahasiswa memilih bertahan lebih lama di kota rantau, ia tidak sedang menjauh dari keluarga—ia sedang menata masa depan yang kelak juga akan kembali kepada mereka.Namun, bukan berarti rasa sepi tidak ada. Justru sebaliknya: kesepian menjadi teman yang setia. Makan malam terasa lebih sunyi dan malam pergantian tahun mungkin hanya ditemani mi instan dan notifikasi media sosial tentang pesta, acara keluarga, atau foto bersama di kampung halaman. Di situ, perantau belajar diam-diam: kuat bukan berarti tidak rapuh—kuat adalah soal tetap berjalan meski rindu berat.Kampus dan Realitas yang Perlu DipahamiMasalahnya, banyak kampus yang masih bertahan pada kultur bahwa mahasiswa bisa "menyesuaikan diri". Sistem akademik sering lupa bahwa tidak semua mahasiswa berasal dari kota yang sama, apalagi provinsi yang sama. Perjalanan bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan hari, dan biaya tidak selalu murah.Ilustrasi kampus. Foto: ShutterstockDi era kampus merdeka yang penuh jargon fleksibilitas, rasanya wajar jika perguruan tinggi mulai memikirkan kalender akademik yang lebih manusiawi. Bukan hanya untuk dosen dan pegawai, melainkan juga untuk mahasiswa perantau.Libur bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan.Bukan berarti kampus harus tunduk pada romantisme tahun baru. Namun, ada ruang untuk kompromi, ruang untuk jeda, dan ruang untuk memahami bahwa mahasiswa juga manusia yang punya keluarga, rindu, dan kebutuhan untuk pulang.Tentang Ketabahan yang Tidak TerlihatDi balik status mahasiswa perantau yang sering dipuji mandiri, ada banyak hal yang jarang terlihat.- Menahan diri agar tidak menangis saat video call.- Berhemat agar tabungan tidak habis duluan.- Menyembunyikan rasa lelah agar orang tua tidak khawatir.- Menghadapi tekanan akademik tanpa support system langsung.Akhir tahun menjadi cermin: mereka yang bertahan di rantau belajar memeluk diri sendiri lebih erat, belajar bertahan tanpa banyak sorotan.Dan itu bukan hal kecil.Pulang Bukan Soal JarakPada akhirnya, pulang tidak selalu berarti kembali secara fisik. Kadang, pulang adalah menemukan tenang di tengah ketidakpastian. Pulang bisa berarti memberi kabar rutin pada keluarga. Pulang bisa berupa doa yang dikirim diam-diam. Pulang bisa hadir dalam bentuk harapan bahwa tahun depan keadaan akan lebih baik.Ilustrasi waktu. Foto: ShutterstockNamun, ketika waktunya tiba—ketika tugas selesai, ketika tiket akhirnya dipesan—momen pulang itu menjadi jauh lebih berarti. Tidak ada yang mengalahkan rasa ketika kaki pertama kali menjejak halaman rumah setelah sekian lama. Semua lelah terasa lunas.PenutupJika kamu adalah mahasiswa perantau yang akhir tahun ini belum bisa pulang, ketahuilah: rasa yang kamu bawa itu valid. Rindu itu nyata. Namun, keputusanmu bertahan juga mulia.Kamu tidak kurang cinta pada rumah hanya karena belum pulang. Kamu justru sedang menyusun tangga masa depan, pelan-pelan agar suatu hari pulangmu tidak lagi penuh beban.Dan untuk keluarga, semoga kita bisa lebih memahami: kadang, anak yang tidak pulang bukan karena lupa rumah, melainkan karena sedang menjaga mimpinya tetap menyala.Akhir tahun bukan hanya soal pesta dan kembang api. Bagi mahasiswa perantau, akhir tahun adalah tentang kesabaran, kerinduan, dan keyakinan bahwa suatu hari, semua perjalanan akan berujung pada satu kata yang paling dirindukan: pulang.