Ilustrasi kerangka logika pasar. Foto: ShutterstockTahun Baru 2026 telah tiba. Biasanya warganet ramai bicara soal resolusi. Mulai dari yang idealis hingga pragmatis. Ada yang sederhana, ada juga yang detail dan kompleks. Apa pun itu, kualitas sebuah resolusi tentu diukur lewat potensi ketercapaiannya. Apakah logis atau malah utopis.Contoh sederhananya begini. Tiap hari saya berdoa pada Tuhan agar saya lekas jadi orang kaya. Namun kerjaan saya tiap hari mager dan cuma scrolling di lini masa media sosial. Bisa sih jadi kaya karena siapa tahu saya bisa mendapat cuan dari internet.Namun pertanyaannya: Apakah sudah ada usaha yang dilakukan untuk menjadi kaya? Jika belum, itu namanya tidak logis dan bahkan utopis. Jangan dulu bahas tawakkal untuk menjelaskan itu karena tawakkal adalah syarat cukup. Sedangkan, syarat perlu berupa ikhtiar belum terpenuhi.Selain resolusi, adakah hal lain yang dibicarakan di momentum Tahun Baru? Tentu saja, yaitu perayaannya. Hasil polling kumparan baru-baru ini menunjukkan, sekitar 79% dari total 1070 responden merayakan liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) bersama keluarga. Sisanya merayakan bersama teman dan pacar (masing-masing sekitar 4%) dan sendirian saja (sekitar 12%).Ini tentu kabar baik dan wajar, mengingat momen bersama keluarga (family time) menjadi "barang langka" di dunia yang semakin sibuk seperti saat ini. Namun, apakah hasil polling tersebut dapat diterjemahkan lain, atau dimaknai secara lebih luas?Ilustrasi Perayaan Natal dan Tahun Baru. Credit: Sora ChatGPT.Logika PasarDalam sistem ekonomi—khususnya ekonomi kapitalistik—seluruh aktivitas manusia dapat diletakkan dalam kerangka logika pasar. Tak terkecuali di momentum perayaan tahun baru ini.Hasil polling kumparan tersebut dapat digunakan sebagai "teropong sederhana" untuk melihat bagaimana arah pasar akan bergerak. Pertama-tama, kita tahu bahwa mayoritas liburan tahun baru dihabiskan bersama keluarga. Artinya, aktivitas liburan dilakukan secara komunal atau bergerombol.Liburan kerap dimaknai dengan aktivitas wisata dan rekreasi (meskipun tidak selalu demikian). Kita dapat melihat fenomena itu ketika liburan tiba, termasuk libur Nataru. Objek-objek wisata mendadak ramai dipadati pengunjung. Mal-mal dan tempat perbelanjaan penuh sesak.Roda perekonomian akhirnya menggeliat. Permintaan barang dan jasa melonjak, sehingga mendorong kenaikan jumlah penawaran dan memicu kenaikan harga pasar. Demikianlah logika pasar bekerja pada saat liburan tiba.Namun, bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Maksudnya, bagaimana jika banyak keluarga akhirnya memutuskan untuk menghabiskan liburannya di rumah atau di lingkungan sekitar, mengingat kondisi perekonomian yang cenderung lesu akhir-akhir ini, terutama bagi kelas menengah ke bawah?Logika pasar akan tetap berlaku: permintaan stabil atau bahkan menurun, penawaran stagnan dan bahkan lesu, dan akhirnya geliat perekonomian melambat.Peran Wirausaha, Industri, dan PemerintahIlustrasi perusahaan e-commerce. Foto: Iqbal Firdaus/kumparanMomentum liburan Nataru tentu tidak akan disia-siakan dan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh berbagai pihak untuk mendorong permintaan. Wirausaha dan industri di berbagai sektor akan meningkatkan produktivitasnya dan mulai gencar melakukan promosi dan marketing jauh-jauh hari sebelumnya, terutama di sektor pariwisata, hotel dan penginapan, ritel, transportasi, dan juga UMKM setempat yang biasanya “ketiban berkah” di momen liburan seperti Nataru ini.Pemerintah juga menyiapkan skema untuk mendorong permintaan. Salah satunya adanya kebijakan Work From Mall (WFM) yang digaungkan oleh Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana.WFM ini sebetulnya adalah bentuk pengembangan dari Work From Anywhere (WFA) atau bekerja dari mana aaja yang ditetapkan pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) yang berlaku sejak tanggal 29-31 Desember 2025.Perlunya Kesiapan EkosistemBerbagai kebijakan yang diambil pemerintah saat ini menunjukkan bahwa momentum liburan Nataru cenderung ditundukkan untuk mengikuti logika pasar, khususnya dalam rangka mendorong permintaan. Hal ini wajar mengingat komitmen pemerintah dalam mengejar ketercapaian target pertumbuhan delapan persen selama periode pemerintahan Prabowo-Gibran.Namun, kebijakan tersebut seharusnya dibarengi dengan kesiapan ekosistem dari pihak-pihak terkait. Misalnya, kebijakan WFA di mana tidak semua instansi, lembaga, maupun entitas perusahaan siap dan mampu memberlakukannya. Andaikan bisa, tentu perlu waktu dan strategi yang tepat untuk mekanisme pelaksanaannya.Ilustrasi Mal. Foto: ShutterstockBegitu pula terkait kebijakan Work from Mall (WFM). Misalnya terkait kejelasan konsep yang dijalankan seperti apa, penyiapan model workspace-nya dan lain-lain, yang tentu perlu kerja sama dan koordinasi antara manajemen mal dengan pihak-pihak terkait. Dan lagi-lagi, hal itu tentu memerlukan cukup waktu untuk menyiapkannya secara lebih matang.Keseimbangan Nilai Tukar dan Nilai GunaMelihat kondisi tersebut, kebijakan pemerintah seolah cenderung menempatkan logika pasar pada posisi sentral, khususnya terkait dengan aktivitas konsumtif pada momentum liburan seperti saat ini.Dalam hal ini, nilai tukar ekonomi lebih diutamakan karena mudah dikalkulasi dalam mendorong permintaan, ketimbang perhatian terhadap nilai guna dari aktivitas liburan itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat antara lain dari kebijakan-kebijakan yang lahir tanpa dibarengi dengan kesiapan yang matang dan daya dukung ekosistem yang memadai.Dengan demikian, penyiapan ekosistem yang mengitari kebijakan-kebijakan pemerintah menjadi penting untuk diperhatikan agar logika pasar dapat bekerja secara optimal. Dalam hal ini, kebijakan dalam kerangka logika pasar juga harus memperhatikan nilai guna agar masyarakat benar-benar dapat merasakan manfaatnya. Kebijakan yang dibarengi dengan kesiapan ekosistem yang matang diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara nilai tukar dan nilai guna. Keseimbangan dua nilai tersebut selanjutnya akan meningkatkan efisiensi sumber daya, harga yang adil, dan kesejahteraan konsumen yang optimal, yang pada akhirnya akan menciptakan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.