Perahu penyeberangan tradisional melintas tenang di Bengawan Solo, menjadi penghubung utama warga Sewu dan Gadingan. Foto : Dok. PribadiPagi di Bengawan Solo datang dengan perlahan. Kabut tipis menggantung rendah di atas permukaan air, memberi kesan tenang sebelum aktivitas dimulai. Dari kejauhan, sebuah perahu kayu bergerak pelan, digerakkan oleh seutas tali yang membentang dari satu tepian ke tepian lain. Setiap tarikan tangan menimbulkan riak kecil di permukaan sungai, seolah menandai awal denyut kehidupan di dua wilayah yang saling terhubung.Bagi orang luar, perahu itu mungkin hanya alat penyeberangan biasa. Namun bagi warga Kampung Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, dan Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, perahu ini menjadi bagian dari rutinitas harian. Di atasnya, warga membawa barang, menyeberangkan kendaraan, dan menggantungkan ketepatan waktu untuk bekerja maupun bersekolah.Sebelum Jembatan Mojo dan Jembatan Jurug dibangun, jalur air Bengawan Solo menjadi satu-satunya akses penyeberangan tercepat bagi warga. Perahu ini telah digunakan secara turun-temurun dan kini dikelola oleh Bagong bersama beberapa rekannya. Mereka bergantian menarik tali, mengatur keluar masuk penumpang, hingga menjaga perahu saat aktivitas berhenti.“Dari dulu perahu ini dipakai untuk membantu warga menyeberang supaya tidak perlu memutar jauh. Sampai sekarang fungsinya masih sama,” ujar Bagong, pengelola perahu penyeberangan Bengawan Solo, Jumat, 12 Desember 2025.Sejak sekitar pukul enam pagi, perahu mulai beroperasi tanpa henti hingga sore hari. Waktu paling sibuk terjadi pada pagi dan sore, saat warga berangkat serta pulang kerja. Jalur sungai mampu memangkas waktu tempuh belasan hingga dua puluh menit dibandingkan harus melalui jalur darat, selisih waktu yang bagi sebagian warga sangat berarti.Pelajar, pekerja, hingga ibu rumah tangga memanfaatkan jasa perahu untuk menghindari jalur darat yang memutar jauh. Foto : Dok. PribadiPerahu kayu ini memiliki panjang sekitar sepuluh meter dan lebar dua meter. Dalam satu kali perjalanan, perahu mampu mengangkut beberapa sepeda motor beserta penumpangnya. Meski terlihat tenang di permukaan, Bengawan Solo memiliki arus yang dapat berubah cepat di beberapa titik. Kondisi ini menuntut keterampilan dan pengalaman operator agar perahu tetap stabil saat menyeberang.“Kalau air sedang naik atau arusnya terlalu deras, penyeberangan langsung dihentikan. Keselamatan penumpang tetap jadi prioritas,” kata Bagong, Jumat, 12 Desember 2025.Tidak ada tarif resmi yang ditetapkan bagi pengguna jasa penyeberangan ini. Warga membayar seikhlasnya sesuai kemampuan. Tradisi tersebut telah berlangsung puluhan tahun. Selama itu pula, tidak pernah tercatat kecelakaan fatal, karena setiap keputusan selalu mempertimbangkan kondisi alam dan keselamatan bersama.Pedagang keliling dan para pengguna motor bergantian naik ke perahu untuk menyeberangi sungai dengan jalur tercepat. Foto : Dok. PribadiMenjelang sore, cahaya matahari memantul di permukaan sungai, menghadirkan suasana yang tenang. Perahu yang bergerak perlahan menjadi bagian dari lanskap Bengawan Solo yang nyaris tak berubah dari waktu ke waktu. Di momen inilah terlihat bahwa perahu ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan ruang perjumpaan yang mengikat dua tepian dan dua kehidupan yang saling bergantung.Warga menyeberang bersama kendaraan mereka, memanfaatkan perahu sebagai jalur cepat antar dua tepian. Foto : Dok. PribadiDi tengah perkembangan transportasi modern, perahu kayu sederhana ini tetap bertahan. Bukan karena kecanggihan teknologi, melainkan karena kebutuhan dan kedekatan masyarakat terhadap tradisi yang tumbuh bersama mereka. Perahu ini tidak hanya menyambungkan wilayah, tetapi juga ingatan, perjalanan kecil, dan kehidupan yang terus bergerak mengikuti aliran sungai.Hingga kini, perahu itu masih melintas di Bengawan Solo. Dituntun seutas tali dan digerakkan tangan-tangan yang setia, ia terus menjaga agar kehidupan di tepian sungai tetap mengalir sebagaimana arus yang tak pernah berhenti.