Saat Kata-kata Kasar Menjadi Bahasa Sehari-hari Anak

Wait 5 sec.

Ilustrasi anak-anak. Sumber: Pixabay/ TylijuraSudah tak jarang kita temui anak-anak dari sekolah dasar menendengan lancarnya menggunakan bahasa kasar dalam percakapan sehari-harinya. Istilah yang dulu hanya dipakai oleh orang dewasa kini keluar dari mulut anak-anak, baik saat mereka bermain, di jalanan, maupun di ruang publik. Bahasa Kasar yang Dinormalisasi Sejak DiniPada dasarnya, anak adalah peniru aktif (copycat). Penggunaan bahasa kasar dan kata-kata tak pantas yang digunakan orang dewasa serta terus menerus muncul di sosial media, membuat anak cenderung menganggapnya sebagai hal normal dalam komunikasi. Dalam konteks tersebut, kebiasaan anak dalam menggunakan bahasa kasar tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial yang membentuknya. Bahasa tersebut kian dinormalisasi oleh mereka melalui percakapan sehari-harinya, tontonan digital, dan interaksi kepada teman sebaya. Pengaruh Media Digital terhadap Pola Bahasa AnakIlustrasi anak bermain media sosial. Foto: Thanaphat Somwangsakul/ShutterstockPerkembangan teknologi kian menjadi penyebab yang mempercepat proses menormalisasi penggunaan bahasa kasar. Anak-anak kini terpapar konten digital sejak usia dini, baik melalui game online, video pendek, ataupun konten-konten yang ada di sosial media. Pada konten hiburan yang viral, kerap kali content creator nya menggunakan kata-kata kasar sebagai unsur candaan atau ungkapan marah di dalam video tersebut. Tanpa pendampingan, anak akan memproses kata-kata tersebut dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa filter.Berbagai studi global menunjukkan bahwa mayoritas anak tidak lagi memenuhi pedoman penggunaan layar atau screen time yang direkomendasikan untuk anak. Bahkan, pada Indonesia sendiri, pemerintah melaporkan rata-rata screen time anak bisa mencapai lebih dari 7,5 jam per hari, yang mana jauh dari batas yang dianggap sehat. Keteladanan Orang Dewasa yang Kian MemburukIlustrasi ibu bersama anak. Foto: Prathankarnpap/ShutterstockDalam keseharian, tidak sedikit orang tua dengan kesibukannya lebih memilih memberikan gawai kepada anak agar tidak rewel. Namun, praktik ini tidak disertai dengan pengawasan yang benar terhadap konten yang ditonton anak. Masalah ini kian diperparah oleh minimnya koreksi dari orang dewasa.Kebiasaan orang dewasa yang menormalisasi penggunaan kata-kata kasar memperkuat kondisi ini. Bahasa—yang seharusnya dibatasi—kerap kali digunakan secara terbuka, baik dalam percakapan sehari hari ataupun di sosial media. Tanpa disadari, sebetulnya hal ini juga menyebabkan normalisasi lingkungan linguistik dengan penggunaan bahasa kasar.Tanggung Jawab BersamaFenomena ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyalahkan anak. Anak memang sebagai peniru aktif, sementara lingkungan juga berperan dalam membentuk kebiasaan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memperbaiki lingkungan sosial anak. Berikut beberapa upaya tersebut. 1. Keteladanan Bahasa di Lingkungan KeluargaKeluarga adalah tempat pertama anak belajar. Keteladanan orang tua akan pemilihan kata yang digunakan saat percakapan sehari-hari akan menjadi pendukung untuk membentuk kebiasaan berbahasa anak.Ilustrasi keluarga bahagia. Foto: Tirachard Kumtanom/Shutterstock2. Pendampingan dalam Penggunaan Media Digital Orang dewasa perlu mendampingi anak sebagai mediator dalam membantu anak mengenali hal-hal yang pantas ditiru atau sebaliknya, bukan hanya dimaknai sebagai pembatasan durasi screen time.3. Peran Sekolah dan Lingkungan SosialPembiasaan bahasa santun tidak hanya relevan dengan pendidikan moral, tetapi juga mampu mendukung anak agar memperoleh praktik komunikasi yang sehat.4. Kesadaran tentang Tanggung Jawab SosialBahasa anak lahir terbentuk dari percakapan di rumah hingga di ruang publik. Oleh karena itu, pentingnya kesadaran publik agar tidak lagi menormalisasi penggunaan kata-kata kasar, terutama di hadapan anak-anak. Semua hal tadi dimaksudkan agar menciptakan lingkungan komunikasi yang lebih baik untuk perkembangan anak.Ketika kata-kata kasar menjadi bahasa sehari-hari anak, persoalannya bukan hanya pada anak, melainkan juga pada lingkungan yang membentuk cara mereka berkomunikasi.Karena itu, upaya perbaikan bahasa anak sangat menuntut tanggung jawab orang dewasa untuk menciptakan ruang komunikasi yang baik, baik di rumah, sekolah, maupun dalam konten digital.