Timeline Penuh Kembang Api, Hati Penuh Kecemasan

Wait 5 sec.

Ilustrasi pesta kembang api tahun baru. Foto: tiket.comSetiap pergantian tahun, kita menyaksikan lonjakan postingan kembang api, countdown, dan ucapan selamat Tahun Baru di berbagai platform media sosial. Warna-warni feed seakan mencerminkan optimisme kolektif. Namun di balik gemerlap digital itu, banyak hati yang tak terlihat, yang diam-diam berjuang dengan kecemasan, perbandingan sosial, dan tekanan untuk tampak baik-baik saja.Fenomena ini bukan sekadar sensasi hipebolik. Berbagai penelitian menunjukkan hubungan kuat antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental, terutama kecemasan dan kesepian. Misalnya dalam tinjauan terhadap 114 studi ilmiah, mayoritas penelitian (78,6%) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan atau pasif berkolerasi dengan peningkatan depresi, kecemasan, perasaan terisolasi, dan mood negatif.Studi longitudinal lainnya yang melacak ribuan anak dan remaja dalam beberapa tahun, menemukan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan di dunia digital, semakin rendah tingkat kesejahteraan subjektif mereka. Dalam penelitian yang melibatkan hampir 3.700 anak dan remaja, ditemukan peningkatan gejala psikologis dan penurunan kebahagiaan serta kehidupan yang puas seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial.Tentu, media sosial bukan sekadar sumber masalah. Ia juga memungkinkan koneksi yang memperkuat ikatan sosial dan dukungan emosional. Sebuah studi terbaru bahkan menemukan bahwa berbagi pengalaman hidup di media sosial kadang dapat meningkatkan kesejahteraan mental dengan mengurangi stres dan kecemasan, terutama setelah peristiwa kehidupan yang berat. Namun, manfaat ini sering kali tertutupi oleh sisi gelap algoritma yang memaksa kita untuk terus men-scroll, membandingkan hidup kita dengan versi highlight reel orang lain.Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin diperkuat oleh desain platform yang memicu keterlibatan tanpa henti. Banyak pengguna, terutama generasi muda, menghabiskan lebih dari dua jam per hari di aplikasi sosial, dan sepertiga dari mereka melaporkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan stres.Pada momen Tahun Baru, tekanan untuk menunjukkan “tahun terbaik kita” di linimasa sosial sering kali justru memperparah perasaan tidak cukup: tidak cukup bahagia, tidak cukup sukses, tidak cukup berarti. Padahal, kenyataannya, Tahun Baru bukan soal sorotan kamera dan ucapan, melainkan tentang keberanian bertahan, sembuh, dan memaknai hidup secara bijak.Apa Artinya Bagi Kita Sekarang?1. Refleksi Sejati > Feed IndahTahun Baru seharusnya memanggil kita untuk introspeksi hati, bukan sekadar mempercantik feed. Kita perlu memberi ruang bagi kejujuran emosional, bukan hanya estetika digital.2. Batasi Algoritma, Perbanyak Kehadiran NyataMen-setting batas waktu penggunaan aplikasi atau digital detox terbukti membantu menurunkan kecemasan. Memulai tahun dengan kontrol digital adalah bentuk self-care yang nyata.3. Empati di Era Lepas KendaliMengetahui bahwa banyak orang diam-diam berjuang, kita dapat memilih untuk saling mendengar dan memberi dukungan yang lebih tulus, kecuali hanya sekadar like atau komentar singkat.Pergantian tahun bukan hanya tentang fireworks, tapi juga tentang keheningan batin yang butuh ruang untuk diakui. Jika media sosial bisa menjadi cermin kita, mari gunakan refleksi itu untuk menguatkan hubungan manusiawi, bukan sekadar engagement metrics.Bagaimanapun, hati yang tenang lebih berarti daripada feed yang sempurna.