Kisah Penjual Bunga Tabur di Trotoar Rawa Belong

Wait 5 sec.

Bambang dan bunga dagangannya di trotoar Jalan Sulaiman, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (3/1/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparanPlastik tipis itu dibentangkan langsung di atas Jalan Sulaiman, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di atasnya, bunga melati, mawar, dan daun pandan disusun seadanya. Tidak ada meja, tidak ada alas tambahan. Kendaraan lalu-lalang hanya berjarak beberapa langkah dari lapak kecil milik Bambang. Di kawasan Rawa Belong yang dikenal sebagai sentra bunga terbesar di Jakarta, Bambang memilih berjualan bunga tabur dengan cara yang paling sederhana.“Saya dari awal memang jualannya begini, di pinggir jalan, yang penting bunganya rapi dan masih segar,” kata Bambang ketika ditemui kumparan saat tengah berdagang bunga tabur, Sabtu (3/1/2026).Setiap pagi, ia datang lebih awal untuk menggelar dagangannya. Bunga-bunga itu dibelinya dari pemasok di sekitar Rawa Belong, kawasan yang sejak lama menjadi pusat distribusi bunga potong dari berbagai daerah. Dari tangan petani hingga lapak pinggir jalan, bunga-bunga itu kembali diracik ulang sesuai kebutuhan pembeli.Bambang hanya menjual bunga tabur. Tidak ada bunga papan, buket, atau rangkaian dekoratif. Pilihan itu ia ambil karena pasar bunga tabur menurutnya jelas dan konsisten.“Orang ke sini biasanya sudah tahu mau beli apa. Kalau mau ziarah, ya pasti cari bunga tabur,” ujarnya.Proses meracik bunga dilakukan langsung di tempat. Bambang memilah bunga satu per satu, memisahkan yang layu, lalu mencampur bunga sesuai permintaan.“Ada yang minta melatinya dibanyakin, soalnya wangi. Ada juga yang minta pandan lebih banyak biar awet,” katanya sambil tangannya terus bergerak.Barang dagangan Bambang di trotoar Jalan Sulaiman, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (3/1/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparanInteraksi dengan pembeli berlangsung singkat, tetapi akrab. Sebagian pembeli berhenti dengan motor, turun sebentar, lalu melanjutkan perjalanan. Ada juga yang datang bersama keluarga.“Biasanya mereka nggak lama. Datang, beli, langsung jalan,” kata Bambang.Ritme penjualan bunga tabur mengikuti kebiasaan masyarakat. Pada hari biasa, pembeli tetap ada meski tidak terlalu ramai. Namun menjelang hari besar keagamaan, suasana berubah.“Kalau mau Ramadan atau Lebaran, atau seperti Natal kemarin, itu rame. Bunganya bisa cepat habis,” ujarnya.Harga bunga tabur menyesuaikan kondisi pasar. Dalam keadaan normal, satu kantong bunga tabur dijual sekitar Rp 80 ribu. Saat permintaan meningkat, harganya bisa naik.“Kalau lagi rame, bisa sampai Rp100 ribu. Itu juga ngikut harga dari sana,” katanya, merujuk pada pemasok.Selain bunga tabur, Bambang juga menjual air mawar. Bagi banyak pembeli, air mawar menjadi pelengkap ziarah.“Biasanya sekalian beli. Buat nyiram makam biar lebih wangi,” ucapnya.Berjualan di pinggir jalan bukan tanpa tantangan. Cuaca menjadi faktor utama. Panas membuat bunga cepat layu, hujan bisa datang tiba-tiba.“Kalau hujan ya buru-buru diberesin. Namanya juga jualan di luar,” katanya sambil tertawa kecil.Salah satu kios bunga di Jalan Sulaiman, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (3/1/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparanMeski di sekitarnya banyak kios floris besar yang menjual berbagai jenis bunga, Bambang tidak merasa tersaingi. Menurutnya, kebutuhan bunga tabur berbeda dengan bunga hias atau rangkaian.“Pasarnya beda. Yang mau bunga tabur pasti nyari yang praktis,” ujarnya.Baginya, kesederhanaan justru menjadi kekuatan. Tanpa banyak variasi dagangan, ia bisa fokus menjaga kualitas bunga.“Yang penting bunganya masih bagus. Itu aja,” katanya singkat.Di tengah riuh kawasan Rawa Belong, Bambang terus duduk di pinggir jalan, meracik bunga tabur di atas plastik tipis yang bersentuhan langsung dengan jalanan. Tanpa kemasan mewah, tanpa lapak besar, bunga-bunga itu tetap menemukan jalannya ke tangan pembeli yang datang dengan tujuan yang sama.