Cerita Tetangga soal Awal Penemuan Jasad Sekeluarga Tewas di Warakas

Wait 5 sec.

TKP Rumah kontrakan kasus kematian sekeluarga di Warakas, Jakarta Utara, Jumat (2/12). Foto: Rayyan/KumparanDetik-detik penemuan tiga anggota keluarga yang tewas di rumah kontrakan kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, diwarnai kepanikan dan teriakan histeris dari anak kedua Siti Soliha, Khadafi.Khadafi adalah orang yang pertama menemukan keluarganya dalam kondisi tak bernyawa dan kritis usai dia pulang bekerja.“Waktu itu tanggal 2 pagi ya, kebetulan saya tanggal 31 itu kan nginep di rumah adik saya di Karawaci. Nah pulang tanggal 2 itu, naik grab mobil kan, pulang sekitar sampai kurang lebih setengah 8 itu. Saya sampai, saya belum masuk rumah, baru mau masuk rumah kebetulan anak kedua dari korban itu datang pulang bekerja,” cerita tetangga korban, Aryuni Wulan Febri (51), saat ditemui di rumahnya, Sabtu (3/1).“Nah itu cuma saya lihat, cuma enggak menyapa, memang saya lihat aja gitu, oh masnya sebelah gitu. Pas sudah masuk, enggak lama sekitar 5 menit itu mas-nya teriak-teriak gitu. Saya kedengeran kan kirain saya mungkin berantem gitu,” tambah Wulan.Ia kemudian keluar rumah setelah mendengar teriakan tersebut. “Ibu minta tolong dong tolong, ibu saya keracunan gitu,” ujar Aryuni menirukan teriakan Khadafi.Aryuni Wulan Febri (51) tetangga Keluarga Siti Soliha di Warakas, Jakarta Utara, Sabtu (3/1/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan“Kalau Khadafi-nya kan histeris terus, histeris, aku pengin bunuh diri enggak punya siapa siapa lagi gitu. Kita kan ikut sedih juga kan,” ujarnyaSaat masuk ke dalam rumah korban, Wulan mengaku terkejut melihat kondisi para korban.“Pas saya lihat udah, adiknya, ibunya sama kakaknya di dalam kamar itu udah, kalau adiknya di ruang tamu itu udah pada berbusa, kaku gitu,” ungkapnya.Ia merinci posisi para korban saat pertama kali ditemukan. “Di kamar, kamar tidurnya masing-masing. Ibunya (Siti Soliha) di kamar pertama, kakaknya yang perempuan (Afiah Al Adilah Jamaludin) di kamar kedua. Kalau adiknya (Adnan Al Abrar Jamaludin) yang kecil itu di ruang tamu, udah tergeletak semua,” jelas Wulan.Menurut Wulan, kondisi para korban sudah tidak bergerak dan mengeluarkan busa dari mulut. Karena panik, Wulan segera keluar rumah dan menghubungi ketua RT.Relawan bersama petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) memindahkan jenazah korban diduga keracunan ke mobil ambulance di Warakas VIII, Jakarta Utara, Jumat (2/1/2026). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO“Itu udah pada berbusa, kaku gitu. Kan saya takut,” ujarnya.“Jadi saya nggak berani gitu. Nggak berani pegang atau masih hidup apa nggak, saya nggak berani kan. Harus keluar, saya panggil Pak RT dulu biar tau kan. Jadi biar pihak yang bersangkutan lah biar ditelepon gitu,” katanya.Tak berselang lama, pihak RT menghubungi ambulans dan kepolisian untuk menangani kejadian tersebut.Polisi hingga kini masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kematian tiga korban dan menunggu hasil uji toksikologi dari proses autopsi yang telah dilakukan.Sementara, satu korban yang berada di dalam rumah saat kejadian, satu anggota keluarga lainnya, Abdullah Syauqi Jamaludin (23), hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.