Meski Turun, PMI Manufaktur RI Desember 2025 Ekspansif Disokong Permintaan Baru

Wait 5 sec.

Sejumlah mobil parkir di pabrik otomotif di Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (23/8/2023) Foto: ANTARA FOTO/ Fakhri HermansyahKinerja industri manufaktur Indonesia kembali ekspansif atau berada di atas angka 50 pada Desember 2025. Dengan demikian manufaktur Indonesia tercatat ekspansi dalam lima bulan berturut-turut.Berdasarkan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun dari 53,3 pada bulan November menjadi 51,2 pada bulan Desember. Meski turun, angka ini menunjukkan PMI manufaktur Indonesia masih ekspansif didorong oleh kenaikan permintaan baru.“Perusahaan mencatat ekspansi tingkat sedang pada pesanan baru, ketenagakerjaan, dan aktivitas pembelian, meskipun produksi hanya meningkat marginal karena sejumlah perusahaan mencatat dampak kelangkaan bahan baku,” tutur Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti dalam keterangannya, Minggu (3/1).Pesanan baru yang mendukung kinerja manufaktur pada Desember ini berasal dari dalam negeri, sebab Indonesia masih mengalami penurunan permintaan ekspor produk industri selama empat bulan berturut-turut.Ilustrasi Pabrik Manufaktur. Foto: AuthenticVision/ShutterstockMeski demikian, peningkatan total pesanan baru mendorong peningkatan produksi lebih lanjut selama dua bulan berturut-turut. Namun kelangkaan bahan baku membatasi laju pertumbuhan sehingga output meningkat hanya marginal.Sejalan dengan itu, produsen meningkatkan jumlah tenaga kerjanya pada Desember. Laju penciptaan lapangan kerja tergolong marginal, lebih lambat dibandingkan November, namun sejalan dengan rata-rata yang tercatat sepanjang tahun 2025.Meski jumlah tenaga kerja meningkat, masih ada indikasi tekanan pada kapasitas sebagai dampak dari pertumbuhan pesanan baru. Oleh karena itu, perusahaan mencatat kenaikan tumpukan pekerjaan dua bulan berturut-turut.Namun Usamah melihat prospek kinerja industri manufaktur pada 2026 akan membaik dibandingkan dengan 2025. Hal ini dilihat dari tingkat optimisme pengusaha yang tercatat terkuat dalam tiga bulan terakhir.Dampaknya perusahaan berupaya meningkatkan persediaan barang praproduksi dan pascaproduksi guna menjaga efisiensi proses produksi dan penyelesaian pesanan.“Meskipun berkurang dibanding bulan sebelumnya, inflasi biaya masih tergolong kuat di sektor manufaktur Indonesia. Perusahaan juga memilih untuk membebankan kenaikan biaya kepada klien, dengan kenaikan harga jual terbaru tercatat lebih kuat dibandingkan rata-rata sepanjang tahun 2025,” jelasnya.