Perpustakaan sebagai mesin perubahan perilaku menempatkan persoalan kemiskinan ekstrem pada akar yang sering diabaikan, yakni kegagalan membangun kapasitas berpikir. Selama ini, pengentasan kemiskinan lebih banyak didekati melalui bantuan tunai dan pangan, sementara pembentukan cara berpikir dan pola perilaku belum menjadi perhatian utama.Perlu ditegaskan sejak awal bahwa perpustakaan di Sekolah Rakyat masih berada pada tahap awal pelaksanaan. Buku baru tersedia dan layanan belum sepenuhnya tersusun. Tulisan ini tidak berangkat dari klaim keberhasilan, melainkan dari pembacaan arah kebijakan: bagaimana perpustakaan mulai ditempatkan dalam desain pembinaan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.Perpustakaan Sekolah Rakyat berbasis digital dan konvensional masih dalam tahap awal implementasi. Koleksi dan layanan sedang disiapkan sebagai bagian dari desain pembinaan untuk membangun kapasitas berpikir dan perubahan perilaku. (Gambar koleksi Perpusnas)Saya pernah menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup diselesaikan melalui bantuan tunai atau pangan semata (Kolom Kompas, 22/12/25). Selama kapasitas berpikir tidak dibangun, kemiskinan ekstrem akan terus berulang antar generasi. Bantuan dapat mengurangi beban sesaat, tetapi tidak mengubah kemampuan individu dalam memahami pilihan dan menentukan keputusan hidup.Kapasitas berpikir mencakup kemampuan memahami informasi, mengelola pilihan, dan mengambil keputusan secara sadar. Kapasitas ini tidak terbentuk secara instan. Ia dibangun melalui proses literasi yang berulang dan terstruktur, bukan melalui aktivitas membaca yang bersifat sporadis.Sekolah Rakyat dan Pengakuan NegaraPemahaman ini kembali terlihat saat saya menghadiri pra-launching Sekolah Rakyat di Bekasi. Dalam forum tersebut, Menteri Sosial menyampaikan bahwa ketimpangan kemampuan dasar anak-anak Indonesia masih sangat besar. Bahkan pada usia sekolah menengah, masih ditemukan anak yang belum mampu membaca dengan baik.Pernyataan agar tidak ada anak putus sekolah tidak dapat dipahami hanya sebagai seruan moral. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata akses pendidikan, tetapi kemampuan anak untuk bertahan dan berkembang di dalam sistem pendidikan itu sendiri. Kesaksian siswa dan orang tua memperlihatkan bahwa perubahan yang dibutuhkan tidak hanya terkait capaian akademik, tetapi juga keteraturan hidup.Perubahan yang Terlihat di LapanganPerubahan tersebut tercermin dalam pengalaman sejumlah siswa. Nazriel, yang sebelumnya belum mampu membaca, menunjukkan kemajuan akademik sekaligus perubahan disiplin harian dalam beberapa bulan. Jumaroh, yang nyaris berhenti sekolah, kembali mengikuti proses belajar secara utuh setelah masuk Sekolah Rakyat. Seorang wali murid juga menyampaikan bahwa anaknya yang berprestasi, tetapi lama terhambat biaya, kembali dapat mengikuti kompetisi dan meraih penghargaan.Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan bahwa perubahan tidak semata dihasilkan oleh kurikulum. Perubahan terjadi karena adanya struktur perilaku yang jelas, meliputi aturan, ritme kegiatan, dan pendampingan yang konsisten.Dialog Menteri Sosial dengan Nazriel dan Jumaroh pada pra-launching Sekolah Rakyat di Bekasi. Percakapan ini menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya akses pendidikan, tetapi kemampuan anak bertahan dan berkembang melalui struktur pembinaan yang konsisten. (Gambar Koleksi Perpusnas)Perpustakaan dalam Desain PembinaanPemahaman tentang pentingnya struktur perilaku semakin jelas ketika saya mendampingi Kepala Perpustakaan Nasional RI, Aminuddin Azis, berdialog dengan Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 70 Kendari, Yeni Alexander. Percakapan tersebut tidak diarahkan untuk mengevaluasi capaian, tetapi untuk memahami bagaimana literasi dapat dimasukkan ke dalam desain pembinaan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem desil 1 dan desil 2.Dari dialog tersebut terlihat bahwa perpustakaan memiliki fungsi strategis jika ditempatkan secara tepat. Fungsi itu tidak bergantung pada jumlah koleksi, yang masih terbatas, tetapi pada cara literasi diintegrasikan ke dalam kegiatan sehari-hari.Dialog di perpustakaan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 70 Kendari. Pembahasan difokuskan pada bagaimana literasi dimasukkan ke dalam desain pembinaan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, bukan pada capaian. Perpustakaan diposisikan strategis melalui integrasi literasi dalam kegiatan sehari-hari, meski koleksi dan layanan masih terbatas. (Gambar Koleksi Perpusnas)Literasi sebagai Proses Pembentukan PerilakuKepala Perpustakaan Nasional menegaskan bahwa literasi di Sekolah Rakyat tidak berhenti pada kegiatan membaca. Anak-anak membaca buku, kemudian mendiskusikan dan mengolahnya menjadi aktivitas lanjutan. Buku dibaca bersama, dibahas, dan dijadikan bahan kegiatan kreatif yang terarah.Pendekatan ini membentuk kebiasaan berpikir dan perilaku sosial. Anak-anak belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, bekerja bersama, dan menyelesaikan tugas secara bertanggung jawab. Literasi diposisikan sebagai proses aktif yang berlangsung terus-menerus.Anak-Anak dengan Latar Belakang Tanpa KeteraturanKerangka pembinaan ini menjadi penting karena latar belakang anak-anak Sekolah Rakyat. Banyak dari mereka berasal dari lingkungan yang tidak memiliki keteraturan dasar. Pola makan, waktu istirahat, dan aturan hidup bersama tidak terbentuk dengan baik.Cara menyelesaikan konflik kerap berlangsung keras karena itulah pola yang mereka kenal. Kepala Sekolah menyebut mereka sebagai “anak-anak ajaib” untuk menggambarkan besarnya energi yang dimiliki, tetapi belum pernah diarahkan melalui struktur perilaku yang jelas.Perpustakaan sebagai Inti PembinaanDalam kondisi tersebut, perpustakaan berperan sebagai ruang pembentukan perilaku. Anak-anak tidak hanya menggunakan buku, tetapi juga dilibatkan dalam pengelolaan ruang baca, penataan koleksi, dan pelaksanaan kegiatan literasi.Pelibatan ini bukan untuk menambah beban, melainkan untuk memberi pengalaman bertanggung jawab. Anak-anak belajar dipercaya, menjalankan tugas, dan berkontribusi dalam kegiatan bersama. Proses ini membentuk perilaku secara bertahap dan konsisten.PenutupPerpustakaan di Sekolah Rakyat belum berjalan optimal. Koleksi baru tersedia dan layanan masih dalam tahap penataan. Namun kondisi ini justru menunjukkan bahwa peran perpustakaan masih berada pada fase pembentukan.Jika perpustakaan ditempatkan sebagai mesin perubahan perilaku, literasi tidak lagi dipahami sebagai aktivitas tambahan. Literasi menjadi bagian dari desain pembinaan untuk membangun kapasitas berpikir dan memutus kemiskinan ekstrem antar generasi.