Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparanPemerintah menargetkan tak lagi impor solar tahun ini dan avtur pada 2027. Niat tersebut setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1). Proyek bernilai USD 7,4 miliar atau sekitar Rp 123 triliun ini dinilai menjadi tonggak penting penguatan ketahanan energi nasional, sekaligus penopang target untuk menghentikan impor solar dan avtur.Dengan diresmikannya RDMP Balikpapan, kapasitas pengolahan kilang milik PT Pertamina (Persero) tersebut meningkat dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Kilang Balikpapan kini menjadi kilang terbesar di Indonesia."Tentunya saya menyambut bahagia dan sangat bangga atas peresmian hari ini, dan saya ucapkan terima kasih kepada seluruh unsur, pihak, dan jajaran personalia sehingga kita berhasil mencapai hari ini. Ini prestasi yang sangat penting bagi bangsa," kata Prabowo saat peresmian.Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, RDMP Balikpapan merupakan proyek terintegrasi dalam satu ekosistem dengan jaringan infrastruktur Terminal Minyak Lawe-lawe melalui Pipa Gas Senipah-Balikpapan sepanjang 78 kilometer."Total investasinya sekitar 7,4 miliar US dollar, dan ini adalah RDMP terbesar dalam sepanjang sejarah kita yang dibangun di Indonesia," ujar Bahlil.Menurut Bahlil, RDMP Balikpapan jadi proyek RDMP pertama yang diresmikan sejak 32 tahun lalu, setelah terakhir kali Pertamina menyelesaikan RDMP di Kilang Balongan pada 1994.Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang akan diresmikan Presiden Prabowo Subianto hari ini, Senin (12/1/2026). Foto: Fariza/kumparan"RDMP mempunyai makna tersendiri dalam konteks kedaulatan energi, karena sejak 32 tahun lalu terakhir kita meresmikan RDMP, tepatnya pada tahun 1994 di Jawa Barat, Balongan," jelasnya.Bahlil menyebut, beroperasinya RDMP Balikpapan bakal langsung berdampak pada kebijakan impor bahan bakar minyak, khususnya solar."Begitu diresmikan, maka insyaallah kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar. Ini dalam rangka mendorong kedaulatan energi," sebut dia.Ia juga memastikan takkan mengeluarkan izin impor solar CN 48 mulai awal 2026 dan solar CN 51 pada semester II 2026.Bahlil juga merinci kebutuhan solar nasional yang mencapai sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan tersebut telah ditopang oleh implementasi program biodiesel B40 dan B60, serta tambahan produksi hampir 5 juta kiloliter.Dengan kondisi itu, sisa impor solar yang sebelumnya sekitar 5 juta kiloliter dinilai telah tertutupi, bahkan menciptakan surplus sekitar 1,4 juta kiloliter untuk C48. Adapun impor jenis C51 disebut tinggal sekitar 600 ribu kiloliter."Nanti di semester kedua Pertamina saya minta untuk membangun (kapasitas) agar kita tidak impor (solar lagi)," lanjut Bahlil.Selain solar, pemerintah pun menargetkan penghentian impor avtur pada 2027."Jadi avtur juga 2027 insyaallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude (minyak mentah) saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis," tuturnya.Dia melanjutkan, melalui RDMP Balikpapan, kapasitas produksi berbagai jenis BBM akan ditingkatkan, termasuk RON 92, RON 95, dan RON 98. Tujuannya agar kebutuhan dalam negeri dipenuhi dari produksi nasional.RDMP Balikpapan merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun sejak 2019. Proyek ini mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh.Dengan peningkatan kapasitas Crude Distillation Unit (CDU), Kilang Balikpapan kini mampu mengolah minyak mentah hingga 360 ribu barel per hari.Salah satu elemen utama proyek ini ialah fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex yang meningkatkan kualitas produksi bahan bakar dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur 10 ppm.Lewat RFCC Complex, kilang tak hanya memproduksi bensin dan solar, tapi juga menambah produksi LPG hingga sekitar 336 ribu ton per tahun, serta memungkinkan pengolahan minyak residu menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene.