Melonjak di Desember 2025, Penjualan Mobil Awal 2026 Berpotensi Terkuras

Wait 5 sec.

Chery Tiggo Cross CSH Hybrid di GIIAS 2025. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparanGempita akhir tahun turut menyapa industri otomotif nasional. Penjualan meningkat hampir 27 persen di bulan terakhir, sukses dongkrak torehan penjualan keseluruhan hingga melampaui 800 ribu unit sepanjang 2025.Namun, pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu, menaruh kecemasan performa penjualan mobil di kuartal pertama 2026. Terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri.”Kita lihat nanti sales di Januari hingga Februari 2026. Kalau sales turun tajam, berarti sales Desember sudah memakan jatah sales awal tahun 2026, terutama untuk event tahunan Lebaran di bulan Maret nanti” ungkap Yannes kepada kumparan akhir pekan lalu.Suasana booth BYD di GIIAS saat akhir pekan, Minggu (27/7/2025). Foto: Fitra Andrianto/kumparanKemudian, kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga memasuki tahun 2026 turut memicu panic buying. Khususnya produk mobil listrik yang sebelumnya memanfaatkan insentif khusus kendaraan Completely Built Up (CBU).”Kenaikan Desember 2025 merupakan dampak dari strategi pemasaran musiman yang sukses, bukan sinyal pemulihan,” katanya.“Dipicu oleh strategi stuffing dealer dan panic buying konsumen yang memajukan pembelian demi menghindari kenaikan harga akibat hilangnya insentif CBU di 2026 serta aturan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) barunya,” jelas Yannes.Adapun strategi stuffing dealer yang dimaksud merupakan cara pabrikan meningkatkan angka penjualan wholesales (distribusi dari pabrik ke diler) menjelang akhir tahun atau tutup buku. Hal ini dilakukan agar capaian angka penjualan tampak tinggi, namun belum tentu diiringi penjualan ritel (penjualan dari diler ke konsumen).Toyota Calya dan Avanza di GIIAS 2023. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanKekhawatiran industri otomotif kian intens, lantaran ekonomi nasional menekan daya beli kelas menengah sebagai pasar utama. Bahkan, penurunan segmen tersebut mencapai 16-17 persen.“Middle class Indonesia turun ke kisaran 17 persen dalam beberapa tahun terakhir, sehingga segmen mass market semakin melemah,” pungkasnya.Catatan Desember 2026Mobil Rocky hybrid ditampilkan saat Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanBerdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Indonesia (Gaikindo), total penjualan wholesales pada bulan terakhir 2025 tercatat sebanyak 94.100 unit, turun 0,3 persen secara year on year dibandingkan Desember 2024.Kemudian, secara bulanan terekam kenaikan 19.969 unit atau sekitar 26,9 persen dari 74.131 unit di periode November 2025.Penjualan ritel juga mencatat tren serupa. Pada Desember 2025, penjualan ritel mencapai 93.833 unit, meningkat 18,3 persen dibandingkan November yang tercatat sebanyak 79.348 unit. Lonjakan tersebut mencerminkan upaya diler dan pabrikan mendorong penjualan melalui berbagai program promosi akhir tahun.Honda CR-V Turbo di GIIAS 2023 di ICE BSD. Foto: Aditia Noviansyah/kumparanBicara keseluruhan, sepanjang tahun 2025 asosiasi mencatat wholesales sebanyak 803.687 unit. Angka tersebut turun 7,2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai 865.723 unit.Kondisi serupa juga tercermin pada penjualan ritel. Sepanjang 2025, penjualan dari diler ke konsumen tercatat sebanyak 833.692 unit. Capaian tersebut turun 6,3 persen dibandingkan penjualan ritel 2024 yang berada di level 889.680 unit.Pelemahan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja pasar.