Aku Lelah, Mencintaimu adalah Tindakan Masokis

Wait 5 sec.

Ilustrasi putus cinta. Foto: Shutter StockMencintaimu adalah ibadah paling melelahkan yang pernah aku jalani. Ia bukan doa yang hening, melainkan ritus panjang yang memaksa lutut aku bersentuhan dengan batu dan duri, sementara kening ditekan agar terus bersujud pada satu nama yang sama: Indonesia. Engkau aku agungkan seperti kekasih purba yang tak boleh dipertanyakan, bahkan ketika tanganmu berlumur luka yang kau samarkan di balik senyum upacara dan pidato kenegaraan. Aku mencintaimu dalam letih—dan barangkali justru karena itulah cinta ini terasa paling jujur, karena ia lahir bukan dari kemenangan, melainkan dari kelelahan yang tak pernah diberi jeda.​Engkau indah, Indonesia, dan keindahanmu adalah kutukan yang diwariskan lintas generasi. Tubuhmu terbentang seperti puisi geografi yang nyaris sempurna: punggung pegunungan menantang langit dengan kesombongan batu purba, hutan-hutanmu adalah rambut hijau yang dibiarkan terurai angin khatulistiwa, dan lautmu—ah, lautmu—sepasang mata yang mampu menenggelamkan kesedihan sekaligus menyimpan terlalu banyak rahasia. Rempah-rempahmu adalah aroma kulit yang sejak berabad silam membuat dunia kehilangan nalar, menukar kemanusiaan dengan kerakusan. Engkau adalah perwujudan agung yang membuat bangsa-bangsa lain iri: sebuah kemolekan geopolitik yang memesona sekaligus mematikan.​Namun, justru dari pesona itulah tragedi bermula. Di balik simetri yang memikat, engkau menjelma kekasih yang beracun. Aku jatuh cinta pada wajahmu, lalu perlahan diracun oleh caramu memperlakukan anak-anakmu sendiri. Setiap hari engkau menyodorkan piala kebanggaan nasional, tetapi isinya empedu yang harus aku telan sambil tersenyum. Kesetiaan ditagih sebagai kewajiban moral, bahkan ketika tubuh aku mulai keropos oleh ketidakadilan yang kaubiarkan tumbuh subur seperti jamur di dinding rumah sendiri.​Keletihan aku menemukan bentuknya, ketika aku menyadari bahwa kecantikanmu hanyalah topeng porselen yang menutupi pembusukan sistematis. Di ranjang peradaban yang katanya merdeka ini, aku dipaksa memeluk kemiskinan seperti pasangan tidur yang tak pernah diusir, sementara engkau memamerkan perhiasan pembangunan yang dicuri dari keringat aku sendiri. Ketidakadilan tak lagi datang sebagai tamu; ia telah menjadi penghuni tetap, pemilik sertifikat rumah yang menentukan siapa yang boleh hidup layak dan siapa yang cukup bertahan dari sisa-sisa.​Dalam lanskap itu, para elite tampil sebagai filantrops: suara berat, dahi berkerut penuh kepedulian dari hasil menjarah harta rakyat dengan tangan mereka cekatan merogoh kantong rakyat yang telah lama berlubang. Mereka adalah selingkuhan kekuasaan yang kau biarkan meniduri hukum di kamar-kamar hotel berpendingin udara, sementara aku—anak-anakmu yang setia—menunggu di luar dengan perut kosong dan harapan yang memucat. Negara berubah menjadi pesta tertutup; rakyat hanya diundang sebagai penonton yang diminta bertepuk tangan.​Hukum, yang seharusnya menjadi tulang punggung keadilan, turut kehilangan martabatnya.Ia menjelma komoditas: setajam silet bagi mereka yang hidup tanpa perlindungan, namun tumpul dan selembut beludru ketika menyentuh kulit para pemilik kuasa danupeti. Aparat yang seharusnya melindungi justru berubah menjadi tangan dingin yang mencekik kebenaran. Seragam kebanggaan dikenakan seperti zirah, tetapi di baliknya bersembunyi hasrat purba untuk menguasai, menundukkan, dan menagih. Mereka menjadi Bandit berseragam negara.​Bersamaan dengan itu, moralitas dijual laksana bala-bala jahanan pinggir jalan di pasar kekuasaan. Kejujuran dicibir sebagai kebodohan, integritas dianggap gangguan mental, sementara keculasan dipuja sebagai kecerdikan.Aku lelah memuja bayang-bayangmu yang agung, sebab realitas yang aku sentuh saban hari hanyalah duri. Mencintaimu terasa seperti memeluk kaktus: semakin erat aku mendekap atas nama nasionalisme, semakin dalam duri-duri korupsi menghujam jantungku.​Akupun kembali mengingat lagu yang dulu aku nyanyikan dengan suara bergetar dibawah terik matahari upacara: Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku.Kalimat itu pernah terdengar sakral, seperti janji abadi antara anak dan ibu.Namun, bagaimana aku bisa berdiri tegak menjadi pandu bagimu, jika tanah yang aku pijak dijual petak demi petak oleh mereka yang bersumpah setia di atas kitab suci? Darah yang tumpah kini bukan lagi darah pahlawan, melainkan darah harapan yang tercecer di lantai birokrasi yang licin oleh intrik.​Aku menjadi pandu bagi kapal yang nakhodanya sibuk melubangi lambung bahteranya sendiri. Kapal itu, kata mereka, tetap berlayar karena grafik ekonomi terus menanjak. Namun aku tahu, di bawah garis air, kebocoran telah merendam ruang-ruang kehidupan. Setiap tepuk tangan di forum internasional dibayar dengan kesunyian desa-desa yang kehilangan tanah, laut, dan masa depan.​Di tengah itu semua, aku diajari berdoa agar Indonesia bahagia—sebuah doa yang kini terdengar seperti satire getir. Bagaimana mungkin kebahagiaan tumbuh di tanah yang kesuburannya hanya dinikmati segelintir tuan tanah yang bersembunyi di balik pasal-pasal regulasi? Kebahagiaan telah menjadi barang mewah, hanya terjangkau oleh mereka yang memiliki akses ke lingkaran kekuasaan. Rakyat diminta bersabar, seolah kesabaran bisa menggantikan makan malam.​Janji tentang Indonesia yang mulia perlahan berubah menjadi mimpi buruk di siang bolong. Kita bersumpah menjaga tanah yang sakti dan jaya, tetapi kesaktian itu runtuh ketika hukum bisa dibeli seperti kudapan murah. Kejayaan terdengar kosong saat anak-anak belajar di ruang kelas yang nyaris roboh, sementara para pejabat membangun dinasti dari tumpukan suap. Putra-putramu yang paling berani dibungkam; rakyatmu yang paling jujur disingkirkan, agar panggung tetap lapang bagi para penjilat kekuasaan.​Keletihanku memuncak ketika menatap wajah pemimpin yang aku beri amanah. Ia aktor sempurna: tahu kapan harus tersenyum, kapan suara harus bergetar saat berkata siap mati demi rakyat. Kata-kata itu dulu membuat aku terharu. Kini, ia terdengar seperti dialog usang dari drama yang terlalu lama dipentaskan. Sebab ketika rakyat benar-benar mati—di stadion, di tambang, di jalan-jalan yang dipenuhi gas dan ketakutan—ia tidak sedang bersiap mati. Ia sedang menyusun alibi.​Dengan dingin, nyawa disebut sebagai risiko pembangunan. Sebuah kalimat yang mereduksi manusia menjadi angka, dan darah menjadi pelumas mesin ekonomi. Pemimpin yang mengaku siap mati itu ternyata hanya siap membiarkan rakyatnya mati, selama proyek berjalan dan kekuasaan tetap lestari. Infrastruktur fisik dibangun megah, sementara infrastruktur moral bangsa diruntuhkan secara sistematis.​Aku benar-benar lelah, Indonesia. Engkau tetap cantik dalam kehancuranmu, tetap memesona dalam toksisitasmu. Aku ingin pergi, tetapi akar aku telah terhunjam terlampau dalam. Aku terjebak dalam hubungan yang abusif: dipukul oleh kebijakan, lalu diminta mencium tangan saat lagu kebangsaan dikumandangkan.Engkau terus mengingatkan aku pada kejayaan masa lalu, seolah nostalgia bisa mengenyangkan perut hari ini.​Mencintaimu telah menjadi tindakan masokis yang dilembagakan. Aku menyerahkan hidupku, namun hanya diingat saat suara aku dibutuhkan. Selebihnya, aku disingkirkan dengan rapi oleh ujung pena kebijakan.​Indonesia, engkau adalah rumah yang aku sayangi. Namun mengapa aku dibiarkan menggigil di teras, sementara para pencuri tidur nyenyak di kamarmu sendiri?Saat beranjak ke peraduan ada gumam yang lirih."Aku bisa menulis bait paling letih tentangmu malam ini: bahwa aku mencintaimu dengan seluruh luka yang kau berikan, dan justru karena cinta itulah aku ingin menamparmu bukan karena rasa sakitku, namun untuk menyadarkanmu. Demikianlah rasa sakit itu"