Ruwatan Air dan Jiwa: Kearifan Lokal Yadya Kasada Menghadapi Krisis Iklim

Wait 5 sec.

Memaknai tradisi Grebeng Tirto dalam menghadapi krisis iklim di masa modernIlustrasi pencarian air suci di wilayah sungai. Sumber: pexels.comSetiap tanggal 10 Januari, publik di tanah air memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Momen tersebut menjadi pengingat tahunan betapa rapuhnya kondisi bumi akibat pemanasan global. Namun ditengah krisis iklim yang makin nyata dan bencana hidrometeorologi yang mengintai, seremonial menanam pohon saja rasanya tidak cukup. Manusia perlu menengok kembali kearifan leluhur di kawasan Bromo dan Ponorogo yang memiliki cara pandang berbeda terhadap alam. Terdapat sebuah filosofi mendalam dari ritual Grebeg Tirto Aji serta Yadya Kasada yang dijalankan masyarakat Tengger. Ritual tersebut bukan sekadar atraksi budaya, melainkan sebuah manifestasi etika lingkungan hidup yang sering kali luput dari kacamata manusia modern.Masyarakat urban sering kali terjebak pada solusi teknis dalam menangani kerusakan lingkungan, namun lupa pada aspek spiritualitas hubungan antara manusia dan semesta. Alam dianggap objek mati yang bisa dieksploitasi, atau diperbaiki layaknya mesin rusak. Padahal bagi masyarakat adat Tengger, alam merupakan subjek yang hidup. Gunung Bromo bukan sekadar tumpukan pasir dan batu, melainkan entitas yang bernapas. Air di Sendang Widodaren bukan sekadar H2O, melainkan darah peradaban yang harus disucikan. Perspektif inilah yang semestinya diadopsi ulang.Sakralitas Air dalam Grebeg Tirto AjiIlustrasi ritual di sumber mata air. Sumber: pexels.comAir merupakan elemen vital yang sering kali diperlakukan secara tidak adil di era industri. Sungai dianggap sebagai saluran pembuangan raksasa sehingga mata air dimatikan demi pembangunan beton. Kontras dengan perilaku destruktif tersebut, tradisi Grebeg Tirto Aji menawarkan antitesis yang menohok kesadaran. Ritual pengambilan air suci yang dilaksanakan di Sendang Widodaren, Wendit, Kabupaten Malang, menjadi bukti otentik bagaimana air ditempatkan pada posisi terhormat. Sendang Widodaren diyakini sebagai lokasi pertemuan spiritual para leluhur, bahkan narasi tutur menyebutkan lokasi tersebut memiliki kaitan erat dengan kisah asmara Raden Wijaya.Keyakinan akan kesucian lokasi tersebut secara otomatis menciptakan mekanisme konservasi alam berbasis adat. Warga tidak berani mengotori sumber air, apalagi merusaknya, karena takut akan konsekuensi spiritual atau kualat. Rasa takut yang didasari penghormatan tersebut jauh lebih efektif menjaga kelestarian mata air dibandingkan papan larangan buatan pemerintah yang sering kali diabaikan. Ketika air dianggap memiliki jiwa, perilaku manusia terhadapnya akan berubah drastis menjadi lebih santun.Prosesi arak-arakan tumpeng hasil bumi dalam ritual tersebut juga menyiratkan pesan ekologis kuat. Sayur-mayur dan buah-buahan yang dibawa kirab merupakan bukti bahwa tanah yang subur sangat bergantung pada ketersediaan air yang terjaga. Jika sumber air di hulu seperti Sendang Widodaren rusak, maka pertanian di hilir akan mati. Logika sederhana namun fundamental tersebut sering kali hilang dalam kalkulasi ekonomi modern yang rakus. Grebeg Tirto Aji mengajarkan bahwa merawat air bukan sekadar menjaga debit aliran, melainkan menjaga keberlangsungan hidup seluruh ekosistem yang bergantung padanya.Etika Timbal Balik dalam Yadya KasadaMelangkah lebih jauh ke dataran tinggi Bromo, upacara Yadya Kasada memberikan pelajaran tingkat lanjut mengenai konsep memberi kembali. Manusia modern terbiasa dengan konsep ekstraksi yaitu mengambil mineral, mengambil kayu, dan mengambil energi dari bumi tanpa memikirkan cara mengembalikannya. Yadya Kasada memutarbalikkan logika tersebut. Pada tanggal 14 atau 15 bulan Kasada, ribuan masyarakat Tengger mendaki kawah Bromo bukan untuk mengambil sesuatu, melainkan untuk mempersembahkan sesuatu.Berbagai hasil ternak, palawija, hingga uang dilarung ke dalam kawah aktif Gunung Bromo. Bagi kacamata orang awam atau wisatawan yang tidak paham, tindakan tersebut mungkin terlihat seperti membuang-buang makanan atau menciptakan sampah. Namun secara filosofis, tindakan tersebut merupakan simbol pembayaran pajak ekologis kepada semesta. Kisah Roro Anteng dan Joko Seger yang rela mengorbankan anak bungsu bernama Raden Kusuma menjadi landasan moral ritual tersebut. Janji suci yang diucapkan leluhur harus ditepati.Pesan moral dari legenda tersebut sangat relevan dengan situasi krisis iklim saat ini. Bencana alam yang terjadi silih berganti sebenarnya merupakan tagihan dari alam karena manusia ingkar janji. Manusia terus mengambil keuntungan dari bumi namun lupa memberikan waktu bagi alam untuk memulihkan diri. Yadya Kasada mengajarkan bahwa hidup merupakan suatu siklus memberi dan menerima. Tidak boleh ada eksploitasi satu arah. Jika manusia ingin terus menikmati kesuburan tanah vulkanis dan keindahan panorama Bromo, manusia harus rela menyisihkan sebagian harta untuk dikembalikan ke alam sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan.Meruwat Jiwa untuk Menyelamatkan BumiIlustrasi dalam menyelamatkan bumi. Sumber: pexels.comIstilah "merawat air" dan "meruwat jiwa" memiliki keterikatan yang tidak bisa dipisahkan. Krisis iklim pada dasarnya merupakan krisis spiritual. Kerusakan hutan dan pencemaran sungai hanyalah gejala fisik dari jiwa manusia yang kotor oleh keserakahan. Dengan demikian, solusi teknis seperti penanaman pohon harus dibarengi dengan ruwatan atau penyucian pola pikir.Masyarakat Tengger melakukan ritual ngelukat atau penyucian diri menggunakan air suci sebelum melangsungkan ibadah utama di Poten lautan pasir. Air yang diambil dari sumber suci seperti Gua Widodaren digunakan untuk membersihkan fisik dan batin dari energi negatif. Filosofi ini menyiratkan bahwa seseorang tidak bisa berbuat baik kepada alam jika batinnya masih dipenuhi nafsu merusak. Perubahan perilaku ekologis harus dimulai dari pembersihan mental. Seseorang yang merasa dirinya bagian dari alam tidak akan tega menyakiti alam.Kearifan lokal seperti yang ada di Tengger sering kali dianggap kuno atau mistis belaka. Padahal dibalik mantra dan sesajen, tersimpan sains kehidupan yang presisi. Sistem sosial yang dibangun atas dasar rasa takut dan hormat kepada Sang Hyang Widhi dan alam semesta terbukti mampu menjaga kelestarian lingkungan Bromo selama berabad-abad. Bandingkan dengan masyarakat kota yang mengagungkan rasionalitas namun justru menjadi penyumbang emisi karbon terbesar.Refleksi di Hari Gerakan Satu Juta PohonMomentum Hari Gerakan Satu Juta Pohon semestinya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan menanam bibit tanaman di lahan kritis. Lebih dari itu, momen ini harus menjadi titik balik kesadaran kolektif untuk mengadopsi nilai-nilai luhur Nusantara dalam berinteraksi dengan lingkungan. Menanam pohon tanpa merawat sumber air sama saja dengan pekerjaan sia-sia. Maka, masyarakat Indonesia perlu belajar dari keteguhan warga Tengger yang konsisten menjaga tradisi di tengah gempuran modernisasi dan pariwisata massal. Wisatawan yang datang ke Bromo atau menyaksikan Grebeg Tirto Aji hendaknya tidak hanya sibuk berburu konten media sosial.Keberlanjutan hidup di masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi energi terbarukan yang ditemukan, tetapi seberapa rendah hati manusia memperlakukan tempat tinggalnya. Grebeg Tirto Aji dan Yadya Kasada bukan sekadar warisan masa lalu, namun petunjuk arah bagi masa depan bumi yang lebih lestari. Melalui ritual tersebut, leluhur menitipkan pesan bahwa air menjadi darah bumi dan gunung menjadi paku buminya. Menjaga keduanya berarti menjaga nyawa peradaban manusia itu sendiri.Maka, sudah waktunya publik berhenti sejenak dari hiruk-pikuk ambisi ekonomi dan mulai merenung. Sudahkah manusia modern memberi kembali kepada alam seperti masyarakat Tengger melarung sesaji? Ataukah manusia hanya datang sebagai perampok yang menghabiskan sumber daya hingga tidak tersisa? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan nasib bumi puluhan tahun mendatang. Gerakan menanam pohon harus dimulai dari menanam benih kesadaran bahwa merawat alam merupakan ibadah dan merusaknya merupakan dosa kemanusiaan yang tidak terampuni. Mari belajar menjadi manusia yang memanusiakan alam.