Wall Street Ditutup Melemah di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Wait 5 sec.

Ilustrasi Wall Street. Foto: ShutterstockIndeks-indeks utama saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada Kamis (5/3), seiring konflik di Timur Tengah memasuki hari keenam yang mendorong harga minyak lebih tinggi. Selain itu, pasar khawatir terhadap inflasi dan prospek penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).Berdasarkan data awal, indeks S&P 500 turun 39,37 poin atau 0,57 persen menjadi 6.830,13. Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 58,18 poin atau 0,25 persen ke level 22.749,31. Adapun Dow Jones Industrial Average merosot 790,63 poin atau 1,62 persen menjadi 47.948,78, seperti dikutip dari Reuters.Meluasnya konflik ke lebih banyak negara memicu kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz, jalur energi strategis dunia, di mana ancaman rudal dan drone telah secara drastis mengurangi lalu lintas kapal tanker.Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah AS melonjak sekitar 8,5 persen menjadi USD81 per barel, tertinggi sejak Juli 2024. Sementara itu, patokan global Brent naik 4,9 persen menjadi USD 85,41 per barel. Para pelaku pasar khawatir gangguan berkepanjangan dapat memicu inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.“Lihat saja harga minyak hari ini, itu sudah menjelaskan mengapa pasar saham turun. Pasar sedang mencoba memahami berapa lama konflik ini akan berlangsung,” ujar Market Strategist di Baird Private Wealth Management, Michael Antonelli.Penurunan di Wall Street dipimpin oleh saham-saham di sektor industri, material, dan kesehatan yang tercermin dalam indeks S&P 500. Sementara itu, subsektor maskapai penumpang mengalami penurunan tajam.Di sisi lain, pelemahan pasar sedikit tertahan oleh proyeksi kuat dari perusahaan perancang chip Broadcom yang memperkirakan pendapatan dari chip kecerdasan buatan akan melampaui USD 100 miliar tahun depan. Saham perusahaan tersebut naik 3,2 persen.Di tengah meningkatnya konflik udara antara AS dan Israel melawan Iran, kinerja Wall Street sepanjang pekan ini masih lebih baik dibandingkan pasar saham Eropa dan Asia, terutama berkat penguatan saham-saham teknologi yang sebelumnya terpukul pada aksi jual Februari.Namun, para investor menilai harga minyak yang berpotensi menembus USD 100 per barel akan menjadi sinyal yang mengkhawatirkan. Pasar pun mencermati berbagai laporan yang dapat mengindikasikan kemungkinan berakhirnya konflik tersebut.Kepala ekonom di Mizuho Securities, Steve Ricchiuto, menyataka. data manufaktur dan jasa dari Institute for Supply Management (ISM) lebih kuat dari perkiraan, ditambah data klaim pengangguran yang lebih solid, mendorong ekspektasi investor terhadap data ketenagakerjaan menjadi lebih tinggi. Hal ini menunjukkan pasar tenaga kerja kemungkinan masih lebih ketat dari perkiraan sebelumnya.Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun LSEG, investor kini memperkirakan tekanan harga akan menunda pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed menjadi Oktober dari sebelumnya diperkirakan pada Juli.Penurunan saham sektor keuangan, seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs, juga turut menekan indeks Dow. Data terbaru juga menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan klaim baru tunjangan pengangguran tidak berubah pada pekan lalu.