Seni Memahami Pesan Teks, Agar Tidak Baper dalam Berkomunikasi atau PDKT

Wait 5 sec.

GeminiManusia merupakan makhluk sosial yang keberadaannya sangat bergantung dengan sebuah interaksi dan komunikasi. Apabila faktor komunikasi ini terputus dari seorang manusia, maka imbas yang bisa dirasakan adalah kegagalannya menjalani fungsi sebagai seorang manusia yang merupakan makhluk sosial. Maka dari itu selayaknya mahkluk sosial yang sangat bergantung dengan komunikasi, maka berkomunikasi itu sendiri juga merupakan seni yang harus diperhatikan.Namun di tengah kemajuan teknologi, komunikasi tak lagi sebatas pada percakapan antar dua atau lebih dalam sebuah pertemuan langsung semata, namun telah berevolusi dengan beraneka bentuknya, salah satunya melalui teks secara rill time. Apabila dahulu, pendekatan dengan sang kekasih, jono harus memulai percakapan ataupun lewat tulisan surat yang terkadang tertunda disebabkan karena situasi tertentu. Namun berkat perkembangan internet, pdkt semakin mudah dan cepat tanpa ada hambatan ruang dan waktu.Mereka yang LDR tak perlu lagi menunggu surat cinta dari doi terkasih, karena isi hati pun mudah sampai dalam hitungan detik. Saking mudahnya, bahkan tata cara penyampaian isi hati pun tak lagi dengan menggunakan pesan teks semata, namun ia bisa berubah melalui pesan suara, video, hingga tren terkini lewat cuplikan konten.Tentunya fenomena model PDKT atau interaksi romantis melalui pesan chat, baik itu melalui whatsapp, maupun direct message saat ini sangat mafhum di sekitar kita. Selain karena memberikan jeda waktu berpikir, mengirimkan pesan teks juga dapat memberikan ruang untuk membaca atau menganalisa respons dari target.Bahkan setali 3 uang, pesan berupa teks ini juga digunakan oleh para marketing-marketing pinjol, atau bahkan judi sl*ot hingga para penipu. “Butuh dana darurat? Rupiah lambat kasih pinjaman tanpa jaminan sampai 100 juta. Klaim kupon Gratis. Cek limit www.wwwww” begitulah kiranya, para marketing pinjol melakukan pendekatan dengan calon nasabahnya. Hal ini bahkan ampuh menggaet para peminjam, manakala dipertemukan dengan target nasabah yang baru saja mengalami kekalahan melawan “kakek zeus” dalam judi sl*ot.Walaupun memang, interaksi melalui pesan teks tersebut nyatanya memiliki beberapa hambatannya tersendiri. Salah satunya adalah proses penangkapan pesan lewat aspek emosi, gesture tubuh yang biasanya bisa dilakukan saat komunikasi tatap muka secara langsung, tidak bisa dilakukan secara online. Bahkan jika pesan online dibekali aneka emoticon yang menggambarkan perasaan sekalipun.Memahami Pesan Teks, Agar Tidak Baper dalam Berkomunikasi atau PDKTPenambahan emoticon mungkin sedikit banyaknya membantu dalam proses penyempurnaan pesan, akan tetapi mengobrol atau berkomunikasi secara langsung memiliki kedalaman dalam aspek psikologis dan biologis yang mana hal ini tak dapat direplikasikan sepenuhnya oleh teknologi digital. Walaupun chatting menawarkan efisiensi, akan tetapi interaksi tatap muka melibatkan seluruh sistem sensorik yang lebih kompleks.Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sherman,L.E., et al (2013) berjudul The power of the next generation: Adolescent communication and the bonds of friendship mengungkapkan bahwa teknologi merupakan alat yang hebat untuk menjaga hubungan, akan tetapi tidak semua interaksi digital mampu menciptakan kesetaraan seperti selayaknya interaksi secara langsung. Semakin “manusiawi” medianya, semakin kuat ikatan yang dirasakan. Hal ini disebabkan karena banyak isyarat manusiawi yang hilang seperti nada bicara, kontak mata, atau sentuhan. Hal ini menjadi sebab tidak maksimalnya ikatan emosional yang mendalam selayaknya komunikasi tatap muka.Dalam penelitian tersebut juga mengungkapkan terdapat hierarki komunikasi dalam interaksi digital di antaranya adalah, video chat dan panggilan telepon memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dibandingkan hanya sekadar pesan teks.Mungkin barangkali kita bisa melakukan analisis dari salah satu interaksi antar dua insan yang mungkin bisa jadi tidak seimbang. Misalnya saja si joni telah panjang lebar memulai chating dengan si doi yang mana tujuannya adalah terjadinya timbal balik komunikasi dengan tujuan akhir adalah hubungan romantis. Namun si Vani hanya menjawab “hahaha”Karena saling mengirim chat tidak mampu membaca aspek emosi, atau gesture layaknya komunikasi secara langsung, akhirnya rentan terjadinya miss persepsi di antara keduanya. Si joni menganggap chat yang ia kirim menarik minat si Vani, ia akan semakin membom-bardir Vani dengan chat yang makin intens. Sedangkan si Vani semakin bosan menanggapi, isi chat Vani yang mungkin saja semirip dengan pria-pria yang mendekatinya.Sejatinya hal ini juga bisa kita bedah terkait komunikasi yang terjadi antara Joni dan Vani tersebut. Tentunya agar tidak terjadi rasa Ke-PD an atau sok “laku” yang biasanya seringkali menjangkiti para pria-pria kesepian bin haus validasi kegantengan.Effort To Value RatioDalam jurnal komunikasi digital, terdapat konsep yang namanya investasi sosial. Apabila seorang lawan bicara hanya membalas singkat “hahaha” sedangkan anda telah panjang lebar mengetik pesan, bisa jadi secara algoritma perilaku, lawan bicara anda sedang melakukan minimal effort response.Hal ini disebabkan adanya ketimpangan dalam proses penginputan komunikasi melalui teks yang dikirim lewat chating. Hal ini juga menjadi indikasi bahwa subjek lawan bicara tengah mengalami kondisi kelelahan secara kognitif atau kehilangan minat pada sebuah komunikasi. Ini mungkin juga berlaku untuk komunikasi secara tatap muka, di mana jika seorang mulai menanggapi singkat, sementara lawan bicara banyak mengeluarkan kalimat, maka bisa jadi terdapat indikasi ketimpangan respons.Dalam perspektif psikologi, khususnya studi tentang Phatic Communication (komunikasi yang bertujuan menjaga hubungan sosial daripada menyampaikan informasi). Seringkali, “hahaha” adalah cara sopan untuk mengakhiri pembicaraan tanpa terlihat kasar. Secara psikologis, ini disebut sebagai strategi negative politeness untuk menghindari kondisi terbebani dalam merespons atau menjawab sebuah pertanyaan atau pernyataan yang dianggap kompleks, sesuai dengan kondisi dirinya pada saat itu.Lawan bicara tersebut memberikan pesan kepada anda, bahwa pesan yang anda sampaikan menarik, lucu, atau dapat diterima, akan tetapi ia tidak perlu merasa berkontribusi lebih jauh dengan narasi tersebut, untuk selanjutnya ia dapat mengakhiri percakapan tersebut.Dari situ dapat kita simpulkan bahwa, manakala seorang hanya membalas “hahaha”, atau “wkwkwk” semata, setelah anda melemparkan pernyataan untuk memulai percakapan dan hal tersebut terjadi secara berulang kali, bisa jadi hal tersebut merupakan indikasi kecenderungan adanya lawan bicara anda tidak berminat untuk membangun jembatan komunikasi lebih jauh, pada saat itu.Tentunya dengan dunia yang semakin canggih, di mana efisiensi waktu dibutuhkan, komunikasi melalui pesan singkat seperti whatsapp atau apa pun itu merupakan salah satu jembatan dalam komunikasi. Namun, penting sekali untuk memulai menelaah respons dalam komunikasi tersebut, agar tidak terjadi miskomunikasi yang terjadi.Dan ini juga berlaku tidak hanya dalam menjalin hubungan romantis semata, namun juga pada pola komunikasi pada organisasi pemerintahan ataupun swasta dalam konteks komunikasi digitalnya. Dengan mulai melakukan analisa respons komunikasi yang ada, seyogyanya tidak ada lagi miss komunikasi yang pada akhirnya merugikan organisasi dan secara khusus pribadi itu sendiri.