Presiden AS, Donald Trump terkait serangannya ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Foto: Truth/ Donald TrumpPresiden Amerika Serikat sekaligus pemimpin Board of Peace, Donald Trump, adalah pendukung berat Israel dan Benjamin Netanyahu. Banyak dari kita tahu, di bawah kepemimpinan Netanyahu, Israel bercita-cita mendirikan negara Israel Raya yang meliputi Palestina, Yordania, Suriah, Lebanon, dan sebagian dari Irak, Arab Saudi, serta Mesir.Impian itu bukan sekadar mimpi di atas kertas, namun sudah direalisasikan dengan menguasai wilayah Palestina yang sudah direbut dan diduduki. Meski tindakan Israel tersebut diprotes masyarakat internasional, namun mereka tetap tak mau mengembalikan wilayah yang direbut ke rakyat Palestina dengan alasan "keamanan dalam negeri".Misalnya saja di Gaza yang nyaris seluruh wilayahnya sudah ada dalam cengkeraman Israel. Masalah berdirinya Israel Raya kini sudah tinggal menunggu waktu saja. Lalu apa yang bisa diharapkan dari Board of Peace buatan Trump?Saya rasa jawabannya adalah tidak ada. BoP sebagai sebuah lembaga, menurut saya, sudah tidak bisa dipercaya. Karena itu, untuk menjaga harkat dan martabat serta nilai-nilai luhur bangsa, sebaiknya Indonesia keluar dari lembaga tersebut.Presiden AS Donald Trump mengangkat dokumen resolusi yang ditandatanganinya selama pertemuan perdana "Dewan Perdamaian" di Institut Perdamaian AS di Washington, DC, pada 19 Februari 2026. Foto: Saul Loeb/AFPAda beberapa hal yang jadi pertimbangan dasar mengapa kita harus keluar dari organisasi tersebut. Pertama, ketuanya, Trump, adalah pendukung Netanyahu yang merupakan Perdana Menteri Israel saat ini. Israel dilibatkan sebagai anggota, sementara tak ada satu pun perwakilan dari Palestina yang dilibatkan.Jika melihat dari komposisi anggota BoP, ditambah banyak negara anggotanya punya ketergantungan atau ketakutan terhadap Amerika Serikat, maka tak mustahil jika Donald Trump bisa berbuat semuanya. Bila itu terjadi, titah Trump akan jadi hukum, dan itulah yang kita tak mau.Kedua, Donald Trump adalah pemimpin dengan sejarah moralitas dan perangai yang kurang baik. Coba bayangkan, dia menculik Nicolas Maduro, seorang presiden dari sebuah negara yang merdeka dan berdaulat: Venezuela. Ia juga menyerang Iran dan membunuh pemimpin spiritual tertinggi mereka, Ali Khamenei.Muncul sebuah pertanyaan, apakah kita masih bisa percaya Donald Trump akan menciptakan kedamaian sementara apa yang ia lakukan selama ini adalah menciptakan konflik, permusuhan, dan peperangan?Ketiga, kita sudah diperintahkan oleh konstitusi untuk menentang dan menghapus segala bentuk penjajahan. Sementara itu, Donald Trump, sebagai ketua BoP, malah mendukung praktik penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina.Keempat, kita menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan; namun justru nilai-nilai itu pula yang dilanggar oleh Netanyahu dan Trump. Kelima, tujuan Trump membangun kembali Gaza bukan dalam rangka diserahkan kembali kepada Palestina, melainkan untuk disulap menjadi kawasan bisnis yang diurus oleh Amerika Serikat atau Israel, bukan rakyat Palestina. Karena itu, daripada kita "dikelabui" oleh Trump, dan agar tidak menyesal di kemudian hari, lebih baik kita mundur dari sekarang. Dilihat dari segi kepentingan perjuangan rakyat Palestina dan kepentingan kita sebagai bangsa, kehadiran BoP nyaris tak ada.