Ilustrasi batu bara Foto: Kurtdeiner/pixabayAsosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) menyambut baik kepastian tambahan pasokan batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di tengah menipisnya cadangan hingga di bawah 10 hari operasi (HOP).Dewan Pengawas APLSI, Joseph Pangalila, mengatakan PT PLN (Persero) berharap agar tambahan pasokan batu bara bisa dikirim dalam 3 pekan kemudian, atau setelah momentum hari raya Idul Fitrik 1447 H."Kami dapat info dari PLN juga begitu. Semoga setelah lebaran sudah bisa dapat tambahan supply batu bara," ungkapnya saat dihubungi kumparan, Sabtu (7/3).Joseph menjelaskan, komitmen pengiriman batu bara dari perusahaan pertambangan menuju PLTU paling tidak memerlukan waktu 2-3 minggu, sebab perusahaan perlu memesan kapal dalam 7-10 hari."Biasanya dari komitmen sampai di site bisa paling tidak 2-3 minggu karena mereka perlu booking kapal dan transportasi juga bisa 7-10 hari," jelasnya.Hanya saja, hingga pengiriman pasokan tambahan tersebut dilakukan, dia menyebutkan cadangan batu bara di PLTU masih ada yang sangat tipis di bawah 10 HOP. Idealnya, pasokan batu bara untuk pembangkit minimal 25 HOP untuk menjaga keandalan ketersediaan listrik."Masih sama, ada yang di atas 10 hari dan ada juga yang masih di bawah 10 hari," tandas Joseph.Sebelumnya, sejumlah PLTU mengalami krisis pasokan batu bara usai pemangkasan produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.Kendati sudah terjadi sejak tahun 2025, hal ini utamanya disebabkan harga batu bara Domestic Market Obligation (DMO) untuk pembangkit sangat rendah, hanya USD 70 per ton, sementara harga yang ditetapkan untuk pabrik semen lebih tinggi yakni USD 90 per ton, serta untuk kebutuhan smelter dan ekspor menggunakan harga pasar.Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, buka suara terkait isu krisis batu bara di pembangkit. Dia mengungkapkan pasokan masih aman dan terkendali."Ketersediaan batu bara kita sangat memadai, karena kami PLN baru saja mendapatkan kepastian penugasan terhadap 8 pemasok utama batu bara untuk PLN dan IPP (Independent Power Producer)," ungkap Rizal saat ditemui di kantor Kementerian ESDM.Rizal menyebutkan pemasok utama tersebut yakni PT Adaro Indonesia, PT Arutmin Indonesia, PT Berau Coal, PT Kaltim Prima Coal, PT Kideko Jaya Agung, PT Multi Harapan Utama, PT Indominco Harapan Mandiri, dan PT Bukit Asam.Kepastian pasokan ini, kata dia, dapat menopang cadangan batu bara di PLTU milik PLN hingga Agustus 2026, sehingga indikator Hari Operasi (HOP) dapat membaik. Saat ini, beberapa PLTU memiliki HOP di bawah 10 hari, dari seharusnya 25 hari."Total seluruh yang akan dipasok adalah sekitar 84 juta metrik ton. Artinya ini cukup sampai dengan Agustus akhir nanti, jadi HOP kita akan membaik di beberapa pembangkit dan kita harapkan bahwa sebelum lebaran batu bara sudah akan sampai ke seluruh pembangkit yang memerlukan, sehingga ancaman defisit ke depan bisa diatasi," jelas Rizal.Meski demikian, Rizal menyebut PLN masih membutuhkan pasokan batu bara 40 juta ton yang akan diproses kembali, sebab total kebutuhan sepanjang tahun 2026 sekitar 124 juta ton melalui mekanisme DMO.