Merianti berada di rumah panggung kecil di tepi rawa kawasan Lebak Permai, Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Foto: Dok. Bakom RIDi rumah panggung kecil di tepi rawa kawasan Lebak Permai, Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Merianti membesarkan dua anaknya yang masing-masing berusia enam tahun dan empat tahun di tengah segala keterbatasan. Ada masa ketika makanan yang bisa ia sajikan untuk mereka hanyalah nasi dengan garam.Ketika ditanya bagaimana kondisi makan anak-anaknya sebelum mengenal program Makan Bergizi Gratis (MBG), Merianti menjawab dengan suara pelan.“Nasi dengan garam, Pak. Kadang-kadang mau ada duit bapaknya boleh duit. Ibaratnya lembur bolehlah duit, kadang 50 ya, kadang beli sayur, beli tempe tahu, baru makan. Iya, minyak,” ujarnya sambil menahan tangis saat ditemui di rumahnya, Kamis (5/3).Merianti hidup bersama suami dan dua anaknya dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Suaminya bekerja serabutan. Kadang menjadi buruh bangunan, kadang bekerja di kebun sawit, kadang mencari ikan di sungai pada malam hari. Sesekali ia juga membantu menggarap sawah orang lain.Penghasilan yang diperoleh tidak menentu. Yang penting bagi keluarga ini adalah punya beras untuk dimasak. Jika ada uang lebih, barulah bisa membeli sayur atau tempe dan tahu sebagai lauk. Untuk membantu kebutuhan sehari-hari, Merianti juga sesekali bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangganya.Rumah yang mereka tempati pun jauh dari kata layak. Bangunan rumah panggung berukuran sekitar 4 x 4 meter itu berdinding papan dengan atap rumbia yang sudah bolong di beberapa bagian, terutama di sisi utara. Saat hujan turun, air dengan mudah menetes dari celah-celah atap.“Kalau hujan tuh, Pak, kami nyelip ke sana,” kata Merianti sambil menunjuk ke arah dekat beranda. “Jadi asal hujan reda baru kami tidur," ucapnya.Merianti pemilik rumah panggung kecil di tepi rawa kawasan Lebak Permai, Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Foto: Dok. Bakom RIDi dalam rumah kecil itu tidak ada sekat kamar maupun dapur. Sebuah kompor gas diletakkan di pojok ruangan, berdampingan dengan jerigen besar untuk menyimpan air minum. Di sudut lain ruangan, teronggok gulungan kasur kusam yang menjadi tempat tidur keluarga tersebut.Gubuk sederhana itu berdiri di pinggir rawa, untuk mandi dan mencuci, Merianti memanfaatkan endapan air rawa yang berada di samping rumahnya.Di tengah kondisi hidup yang serba terbatas itu, Merianti juga harus merawat dua anak yang sering sakit-sakitan.Namun kondisi tersebut mulai berubah ketika keluarganya menerima manfaat program MBG melalui posyandu. Menurut Merianti, makanan yang dibagikan melalui program itu membuat anak-anaknya bisa menikmati makanan yang sebelumnya jarang mereka dapatkan.“Sejak dapat MBG ni, Pak, ibaratnya tuh kadang anak nggak bisa makan buah, ibaratnya nggak bisa makan susu tuh bisa makan susu lah, bisa makan buah, bisa makan bolu,” ungkapnya.Ia juga merasakan perubahan pada kondisi kesehatan anak-anaknya. “Iya, ada perkembangan, Pak. Iyalah ibaratnya tuh lancar, ibaratnya tuh badannya ini kan sehat,” urainya. “Selama punya MBG nih ya pintar lah, Pak. Aktif yang ini aktif, ini aktif,” imbuh Merianti sambil menunjuk ke dua anaknya yang berada di pangkuannya.Meski sempat berhenti mengambil MBG selama hampir dua bulan karena banjir dan harus mengungsi ke rumah orang tuanya di Celika, Merianti kembali rutin mengambil makanan dari posyandu sejak Januari. Ia mengatakan, berat badan anak-anaknya sempat kembali menurun selama sekitar dua bulan tidak mengambil MBG dari Posyandu Teratai 2.Kini ia kembali mengambil MBG agar anak-anaknya tetap mendapatkan asupan makanan yang lebih baik.“Cuma kami ini merasa bersyukur lah, Pak. Walaupun dikit banyaknya kami terima, ya bersyukur. Kami nak dapat MBG ini kan makasih banyak. Kadang dari Perigi dipindah ke Kayu Agung. Mak itu nah tapi nggak susah lagi berjalan, mak itu nak kepanasan,” katanya.Rumah panggung kecil di tepi rawa kawasan Lebak Permai, Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan milik Merianti. Foto: Dok. Bakom RISebelumnya, kedua anak Merianti terdaftar di Posyandu Perigi sehingga ia harus berjalan kaki sekitar 30 menit hingga satu jam untuk mengambil MBG dari rumahnya. Sejak September lalu, penerima manfaat MBG dialihkan ke Posyandu Teratai 2 di Lebak Permai.Di rumah kecil di tepi rawa itu, bantuan makanan sederhana telah menghadirkan perubahan kecil, namun sangat berarti, bagi kehidupan Merianti dan anak-anaknya.Kesehatan Bumil dan Balita MeningkatPembagian MBG Ramadan di Posyandu Terantai 2, OKI, Sumsel, Kamis (5/3/2026). Foto: Dok. Bakom RIProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak positif bagi kesehatan ibu dan anak di sejumlah posyandu di OKI, Sumatera Selatan. Tenaga kesehatan setempat menilai program ini membantu meningkatkan kondisi gizi ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.Bidan Kelurahan Kayu Agung, Elbano Perli, mengatakan perkembangan kesehatan penerima manfaat di posyandu terlihat membaik sejak program MBG berjalan.“Selama saya di sini, perkembangannya semenjak menerima manfaat tiga B ini cukup signifikan. Untuk anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui sudah mendapatkan manfaatnya. Penimbangan berat badan sudah naik. Untuk ibu hamil juga kesehatannya bagus, dan ibu menyusui kualitas ASI-nya juga baik,” katanya saat pembagian MBG Ramadan di Posyandu Terantai 2.Menurut Bu Bidan, pemantauan kesehatan dilakukan rutin melalui kegiatan posyandu setiap bulan, mulai dari penimbangan balita hingga pemeriksaan ibu hamil. Sejauh ini, kondisi gizi di wilayah tersebut relatif baik.“Kalau khususnya di kelurahan kami itu tidak ada,” katanya.Hal serupa disampaikan kader Posyandu Teratai 2, Lilis Riyani. Ia menyebut sejak adanya MBG, ibu hamil, ibu menyusui, dan orang tua balita lebih aktif datang ke posyandu untuk memantau kesehatan.“Semenjak mendapatkan MBG, ibu-ibu sekarang, baik ibu hamil, ibu menyusui, maupun ibu dengan balita, semuanya merasakan manfaatnya. Anak-anak balita bertambah berat badannya, begitu juga ibu hamil dan ibu menyusui. Secara umum berat badan mereka meningkat,” ujarnya.Pembagian MBG Ramadan di Posyandu Terantai 2, OKI, Sumsel, Kamis (5/3/2026). Foto: Dok. Bakom RIIa juga melihat perubahan pada keaktifan masyarakat dalam mengikuti kegiatan posyandu. “Alhamdulillah, semenjak ada MBG ini, ibu-ibu hamil dan yang memiliki balita jadi lebih rajin dan aktif datang ke posyandu untuk penimbangan,” kata Lilis.Manfaat program ini juga dirasakan langsung oleh penerima. Oktavandari, ibu hamil yang menerima MBG di Posyandu Teratai 2, mengaku kondisi kesehatannya selama kehamilan tetap terjaga sejak mendapatkan bantuan makanan bergizi tersebut.“MBG saya dari awal hamil sampai sekarang saya mendapatkan MBG. Alhamdulillah perkembangan janin saya baik, berat badan naik, hingga sekarang saya sehat,” tuturnya.Ia menilai makanan yang diberikan melalui program tersebut cukup lengkap dan bergizi. “MBG ini enak, banyak, dan bergizi,” katanya.Pintu Lapangan bagi Eks NapiSuasana di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ucu Jaya, Kecamatan Lempuing, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Kamis (5/3/2026). Foto: Dok. Bakom RIBagi banyak mantan narapidana, mencari pekerjaan setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan bukan perkara mudah. Status sebagai eks napi kerap membuat pintu kerja tertutup, bahkan sebelum mereka sempat membuktikan diri. Hal itulah yang pernah dialami Bayu Susanto.Setelah bebas dari penjara pada awal 2019, ia harus menghadapi kenyataan pahit ketika berusaha memulai hidup baru. “Susah, Pak, nyari kerjaan. Di mana-mana susah,” kata Bayu di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ucu Jaya, Kecamatan Lempuing, OKI, Sumatera Selatan, Kamis (5/3), mengenang masa-masa setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan beberapa tahun silam.Bayu sebelumnya menjalani hukuman penjara pada 2018 karena kasus kriminal. Ia divonis tiga tahun penjara, namun menjalani masa tahanan sekitar satu tahun delapan bulan setelah mendapat remisi. “Divonis tiga tahun, menjalani satu tahun delapan bulan, potong remisi,” ujarnya.Sejak masa percobaan, Bayu sempat dipercaya menjadi driver pendamping kepala pengamanan lembaga pemasyarakatan (KPLP). Ia bertugas mengantarkan narapidana yang sakit atau tahanan yang dipindahkan. Namun setelah benar-benar bebas dari lingkungan lapas, kehidupannya tidak langsung berjalan mudah. Ia mencoba berbagai pekerjaan, termasuk menjadi sopir, tetapi pekerjaan tersebut tidak selalu bertahan lama.Suasana di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ucu Jaya, Kecamatan Lempuing, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Kamis (5/3/2026). Foto: Dok. Bakom RIKesempatan baru datang ketika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdiri di wilayahnya. Bayu kemudian bergabung sebagai sopir distribusi makanan.Kini setiap pagi sekitar pukul 05.30 ia sudah memulai pekerjaannya. “Kita mulai kerja di shift berangkat dari jam setengah 6. Kita mulai pengecekan mobil, lalu kita menaikkan ompreng,” katanya. Setelah semua siap, ia mulai mengantarkan makanan MBG ke sekolah-sekolah dan posyandu.“Standby ompreng jam 8.00, kita berangkat ke sekolahan untuk anak-anak,” ujarnya.Bayu merupakan salah satu dari empat sopir yang bertugas mendistribusikan makanan MBG di wilayah tersebut. Ia mengantarkan makanan ke beberapa titik sekolah dan posyandu.“Pengantaran saya ada 4 titik, yaitu di Sindangsari, sama Kepayang, sama TK Al Amin, sama TK PAUD. Ada juga posyandu dua titik untuk di Sindang sama Desa Kepayang,” katanya.Dalam menjalankan tugasnya, Bayu mengaku tidak selalu menghadapi kondisi yang mudah.“Kalau dibilang enak ya suka duka, Pak. Kadang makan kita terlambat karena masih di sekolah. Kadang dimarahin guru karena telat. Di jalan ngebut juga dimarahin orang. Banyak rintangan, Pak,” ujarnya.Suasana di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ucu Jaya, Kecamatan Lempuing, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Kamis (5/3/2026). Foto: Dok. Bakom RIMeski begitu, ia tetap bersyukur atas kesempatan kerja yang ia dapatkan saat ini. “Alhamdulillah adanya MBG ini saya bisa kerja, bisa untuk makan sehari-hari,” kata Bayu.Kini ia juga telah berkeluarga dan memiliki seorang anak yang masih bayi. “Sudah, satu anak, baru umur 4 bulan,” ujarnya.Bagi Bayu, pekerjaan sebagai sopir MBG bukan hanya sekadar pekerjaan. Program tersebut memberinya kesempatan untuk membangun kembali kehidupan setelah masa lalu yang sulit. Ia berharap program MBG dapat terus berjalan dan membuka peluang kerja bagi lebih banyak masyarakat.“Harapan saya ke depan semoga MBG terus berlanjut dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat, khususnya bagi kami para mantan narapidana,” kata Bayu.Di balik distribusi makanan bergizi untuk anak-anak sekolah, program MBG juga menghadirkan cerita tentang kesempatan kedua, seperti yang kini dijalani Bayu Susanto.