Kenapa Overthinking Tidak Menghasilkan Solusi?

Wait 5 sec.

Ilustrasi Overthinking. Foto: ShutterstockPernah nggak sih kamu merasa sesak napas hanya karena melihat tumpukan tugas dan deadline datang bersamaan? Saya pernah ada di posisi itu. Rasanya dunia berhenti sejenak, air mata jatuh begitu saja, dan pikiran langsung dipenuhi skenario buruk: tugas nggak selesai, nilai anjlok, bahkan ada yang terlewat.Fenomena ini disebut overthinking. Banyak dari kita—terutama Gen Z—menganggap bahwa dengan overthinking, kita sedang “menemukan” jalan keluar. Faktanya, semakin kita tenggelam dalam pikiran itu, solusinya justru menjauh. Masalah utama overthinking adalah ketiadaan struktur dalam berpikir. Saat saya menangis melihat tumpukan tugas, saya sebenarnya sedang melakukan kesalahan logika: menyimpulkan “saya nggak mampu” hanya berdasarkan rasa cemas sesaat.Dalam kacamata filsafat ilmu, Jujun S. Suriasumantri menjelaskan bahwa penalaran adalah proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar valid, pengetahuan harus melalui jalan yang logis dan analitik (Suriasumantri, 2009). Overthinking bukanlah proses analitik karena ia tidak punya arah; hanya perulangan tanpa sintesis. Setelah saya coba refleksi, ternyata begitu saya berhenti menangis dan mulai mengerjakan, hasilnya justru berbanding terbalik dengan kecemasan saya. Tugas selesai lebih cepat, bahkan lebih unggul dibanding teman-teman lain.Daniel Kahneman (2011) menyebut manusia punya dua sistem berpikir. Sistem 1 cepat dan emosional, sering mengambil alih saat kita stres. Sistem 2 lambat dan logis, justru yang kita butuhkan untuk menyelesaikan masalah. Ketakutan saya waktu itu hanyalah hasil dari Sistem 1 yang panik.Lalu bagaimana caranya agar pikiran yang berputar-putar bisa berubah jadi solusi?1. Cari bukti, bukan alasanAlih-alih mencari alasan kenapa kamu gagal, lihat bukti yang bisa menyangkal kecemasanmu. Ingat apa yang sudah berhasil kamu kerjakan sebelumnya.2. Uji dengan tindakanKebenaran nggak bisa hanya dibayangkan. Kamu harus menguji dengan langkah nyata, meski kecil.Kita perlu sadar bahwa tidak semua yang kita pikirkan adalah kebenaran. Jangan biarkan diri jadi tawanan skenario buruk yang dibuat otak saat lelah. Validasi perasaan memang penting, tapi untuk maju, kita butuh logika yang tepat. Ambil napas, tenang, dan mulai bertindak. Karena pada kenyataannya, satu tugas yang selesai lebih berharga daripada seribu pikiran yang hanya berputar tanpa hasil.