Harga Pangan Naik Jelang Ramadan: Negara Terlambat atau Sistem yang Belum Beres?

Wait 5 sec.

Lonjakan harga bahan pokok kembali terjadi menjelang Ramadan 2026. Operasi pasar digelar, inflasi diklaim terkendali, tetapi pola lama terus berulang setiap tahun.Suasana buka bersama Ramadan 2026 dan dampak kenaikan harga. Foto: UnsplashRamadan Datang, Harga Kembali BergerakMenjelang Ramadan 2026, berita yang akrab kembali muncul di ruang publik: harga pangan merangkak naik. Kementerian Perdagangan mencatat kenaikan sejumlah komoditas utama seperti beras, gula pasir, hingga bawang putih menjelang bulan puasa tahun ini. Fenomena tersebut bukan anomali, melainkan pola tahunan yang hampir selalu terjadi setiap memasuki periode konsumsi tinggi masyarakat.Pemerintah merespons cepat. Operasi pasar digelar di berbagai daerah, pengawasan distribusi diperketat, dan masyarakat diminta tidak panik karena stok nasional disebut aman. Badan Pangan Nasional bahkan memastikan ketersediaan pangan strategis mencukupi untuk menghadapi Ramadan dan Idulfitri 2026.Namun, pertanyaan mendasarnya bukan "Apakah stok aman?" melainkan "Mengapa setiap Ramadan negara selalu berada dalam mode darurat yang sama?"Inflasi Musiman yang Sudah Bisa DiprediksiLonjakan harga pangan menjelang Ramadan sebenarnya sudah dapat diperkirakan jauh hari. Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Ramadan 2026 tetap berada dalam kisaran target nasional 2,5 persen ±1 persen, atau sekitar 1,5–3,5 persen. Artinya, tekanan harga musiman telah menjadi variabel ekonomi yang sepenuhnya dikenali oleh negara.Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan pola serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Pada awal Ramadan 2021, inflasi tercatat 0,13 persen, lalu melonjak menjadi 0,95 persen pada Ramadan 2022. Kenaikan konsumsi rumah tangga selalu menjadi pendorong utama inflasi musiman.Dengan kata lain, kenaikan harga bukan kejadian tak terduga. Ia adalah siklus ekonomi tahunan.Jika fenomenanya dapat diprediksi, seharusnya kebijakan stabilisasi bersifat preventif. Namun yang terjadi justru sebaliknya: intervensi baru dilakukan setelah harga mulai naik.Operasi Pasar: Solusi atau Penahan Sementara?Warga membeli kebutuhan pokok di Pasar Murah Ramadhan di Kantor Kecamatan Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (26/2/2026). Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTOPemerintah tahun ini kembali menggelar operasi pasar murah di 34 provinsi sebagai langkah menjaga stabilitas harga pangan. Inflasi pangan Ramadan 1447 H tercatat sekitar 3,2 persen, angka yang disebut relatif terkendali dibanding tahun-tahun sebelumnya.Langkah ini memang membantu masyarakat dalam jangka pendek. Harga dapat ditekan sementara, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah. Namun, operasi pasar pada dasarnya adalah intervensi reaktif—bukan reformasi struktural.Ia bekerja seperti obat pereda nyeri: mengurangi gejala, tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya.Jika stabilisasi harga selalu bergantung pada intervensi langsung negara setiap tahun, masalah sesungguhnya berada pada sistem distribusi dan tata niaga pangan.Masalah Utama Ada pada DistribusiBadan Pangan Nasional menegaskan bahwa stok pangan nasional sebenarnya berada dalam kondisi cukup menjelang Ramadan 2026. Namun, beberapa komoditas tetap mengalami kenaikan harga akibat peningkatan permintaan dan gangguan distribusi, termasuk faktor cuaca dan biaya produksi.Di banyak daerah, kenaikan harga dipicu ketergantungan pasokan dari wilayah lain. Bahkan, laporan pemerintah daerah menunjukkan beberapa komoditas pangan masih bergantung pada suplai luar daerah hingga lebih dari 70 persen kebutuhan lokal.Artinya, persoalan utama bukan produksi nasional, melainkan rantai pasok yang panjang dan rentan.Ketika permintaan meningkat secara serentak selama Ramadan, sistem distribusi yang tidak efisien langsung menciptakan tekanan harga di tingkat konsumen.Beban Paling Berat Ditanggung Rumah Tangga MiskinTim Satgas Pangan melakukan sidak meninjau harga bawang putih di Pasar Tanjung Jember. Foto: Seno/ANTARAKenaikan harga pangan memiliki dampak sosial yang tidak merata. Kelompok berpendapatan rendah paling rentan karena sebagian besar pengeluaran mereka digunakan untuk kebutuhan makanan.Setiap kenaikan harga cabai, beras, atau ayam langsung mengurangi daya beli sebelum intervensi pemerintah berjalan efektif. Dalam praktiknya, masyarakat sering merasakan dampak inflasi lebih dulu dibandingkan bantuan stabilisasi.Di sinilah persoalan stabilitas pangan berubah menjadi persoalan keadilan sosial.Negara yang Selalu ReaktifPola kebijakan yang muncul hampir identik setiap tahun: harga naik, operasi pasar dilakukan, sidak digelar, lalu harga perlahan stabil hingga siklus berikutnya datang.Pendekatan ini mungkin efektif secara politik karena menunjukkan respons cepat pemerintah. Namun secara ekonomi, ia menciptakan ketergantungan pada kebijakan darurat.Pasar tidak diperkuat secara struktural. Sistem logistik tidak sepenuhnya dibenahi. Data distribusi belum sepenuhnya transparan.Akibatnya, Ramadan berikutnya kembali membawa persoalan yang sama.Dari Manajemen Krisis ke Reformasi SistemIlustrasi Logistik. Foto: ShutterstockIndonesia membutuhkan pendekatan stabilisasi pangan yang lebih jangka panjang. Penguatan logistik antarwilayah, digitalisasi data stok real-time, modernisasi gudang penyimpanan, dan integrasi distribusi nasional harus menjadi prioritas utama.Operasi pasar tetap diperlukan, tetapi sebagai instrumen darurat—bukan strategi tahunan.Jika Ramadan selalu datang dengan pola harga yang sama, masalahnya bukan pada pasar yang sulit dikendalikan, melainkan pada sistem kebijakan yang belum berubah.Mengelola Ramadan Tanpa Kepanikan TahunanRamadan seharusnya menjadi momentum spiritual dan sosial, bukan periode kekhawatiran ekonomi tahunan. Stabilitas harga pangan adalah fondasi stabilitas sosial, terutama di negara dengan tingkat konsumsi domestik tinggi seperti Indonesia.Pemerintah telah menunjukkan kemampuan menjaga inflasi tetap dalam target. Namun, tantangan berikutnya lebih besar: memastikan stabilitas harga terjadi karena sistem bekerja dengan baik, bukan karena intervensi darurat berulang.Mungkin sudah waktunya negara berhenti sekadar menurunkan harga hari ini dan mulai memastikan harga tidak melonjak tahun depan.Sebab, jika setiap Ramadan kita selalu membicarakan persoalan yang sama, yang perlu diperbaiki bukan musimnya, melainkan cara kita mengelola pangan sebagai sistem nasional.