Ilustrasi media sosial X. Foto: Michele Ursi/ShutterstockBeberapa tahun terakhir, saya semakin merasa bahwa perdebatan politik di media sosial tidak lagi soal mencari kebenaran. Ia lebih sering menjadi ajang pembuktian siapa yang paling keras suaranya. Ruang komentar berubah menjadi arena pertarungan identitas. Dan yang lebih mengkhawatirkan, banyak dari kita merasa itu sesuatu yang normal.Ini bukan sekadar perubahan budaya diskusi. Ini adalah konsekuensi dari cara media sosial bekerja. Algoritma dirancang untuk menampilkan konten yang paling banyak memancing reaksi.Konten yang membuat orang marah, tersinggung, atau merasa terancam cenderung mendapat lebih banyak interaksi. Akibatnya, narasi yang paling emosional justru yang paling sering muncul di beranda kita.Saya melihat pola yang sama setiap kali isu politik memanas. Video dipotong tanpa konteks. Judul dibuat provokatif. Kutipan disebarkan tanpa klarifikasi. Orang langsung membagikan sebelum memeriksa. Dalam hitungan jam, opini publik terbentuk. Bukan karena diskusi mendalam, melainkan karena repetisi yang masif.Ilustrasi informasi digital. Foto: ShutterstockYang membuat saya resah adalah bagaimana kita perlahan terbiasa hidup dalam gelembung informasi. Kita mengikuti akun yang sejalan dengan pandangan kita. Kita menyukai konten yang menguatkan keyakinan pribadi.Tanpa sadar, kita jarang terpapar sudut pandang berbeda. Akhirnya, ketika bertemu opini yang bertolak belakang. Reaksi pertama bukanlah ingin memahami, melainkan ingin menyerang.Dalam konteks hubungan internasional, hal ini menjadi lebih kompleks. Negara dan aktor politik tidak lagi hanya bersaing melalui diplomasi formal, tetapi juga melalui narasi digital.Opini publik global bisa dibentuk lewat kampanye daring, influencer, bahkan bot. Persepsi terhadap suatu konflik atau kebijakan luar negeri dapat diarahkan secara sistematis. Artinya, masyarakat bukan hanya penonton, melainkan juga target.Ilustrasi masyarakat. Foto: Djem/ShutterstockPersoalannya bukan pada perbedaan pendapat. Demokrasi memang membutuhkan perbedaan. Masalahnya adalah ketika perbedaan itu sengaja dipertajam demi kepentingan politik atau ekonomi. Polarisasi menjadi alat mobilisasi. Emosi menjadi komoditas.Sebagai mahasiswa yang belajar tentang propaganda dan persuasi, saya semakin sadar bahwa media sosial bukan ruang netral. Ia adalah arena yang penuh kepentingan. Setiap narasi memiliki tujuan. Setiap framing memiliki arah. Jika kita tidak kritis, kita mudah sekali diarahkan tanpa merasa sedang diarahkan.Saya tidak mengatakan kita harus berhenti berdiskusi atau menghindari politik. Justru sebaliknya. Kita perlu lebih sadar, lebih reflektif, dan lebih bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi. Bertanya sebelum membagikan. Memeriksa sebelum mempercayai. Mendengar sebelum menghakimi.Karena jika ruang digital terus dikuasai oleh kemarahan dan manipulasi, yang hilang bukan hanya kualitas diskusi. Yang hilang adalah kemampuan kita untuk berpikir jernih sebagai warga negara.