Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutter StockBanyak orang tua mengira setiap anak yang bertubuh pendek pasti mengalami stunting. Padahal, tidak semua kondisi tersebut sama. Dalam dunia medis, ada dua istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan anak dengan tinggi badan di bawah rata-rata, yaitu stunting dan stunted.Meski terdengar mirip, keduanya memiliki penyebab yang berbeda. Dokter menjelaskan bahwa stunting berkaitan dengan masalah nutrisi jangka panjang, sedangkan stunted lebih berkaitan dengan faktor genetik atau kondisi medis tertentu.Perbedaan Stunting dan Stunted pada AnakDokter spesialis anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, menjelaskan stunting terjadi karena ada nutrisi yang tidak tercukupi dengan baik, Moms."Kalau stunting itu karena problem nutrisi. Jadi mungkin anaknya makan enggak banyak, nutrisinya nggak cukup, atau ada penyakit-penyakit yang enggak ketahuan, sehingga menyebabkan nutrisinya itu bukan buat naikin berat badan dan tinggi badan," kata dr. Ian dalam acara peluncuran kampanye 'Pejuang Berat Badan Anak' yang diinisiasi Sarihusada di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (6/3).Dalam beberapa kasus, energi yang masuk ke tubuh anak tidak digunakan untuk pertumbuhan, melainkan untuk melawan penyakit yang dialami. Akibatnya, pertumbuhan tinggi dan berat badan anak menjadi terhambat.Sedangkan stunted itu berhubungan sama mungkin genetik."Orang tuanya keduanya pendek, mungkin ada gangguan hormon, mungkin ada sindrom-sindrom terbentuk. Itu yang bikin dia (anak) pendek, tapi itu tidak berhubungan dengan nutrisi. Nah itu disebut stunted.Stunting Masih Menjadi Masalah di IndonesiaNah Moms, di Indonesia saat ini yang masih menjadi tantangan adalah stunting. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memantau pertumbuhan anak secara rutin. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan kurva pertumbuhan anak.Dokter menyarankan agar orang tua membawa anak ke dokter anak secara rutin, terutama selama tahun pertama kehidupan. Selain untuk imunisasi, kunjungan ini juga penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh."Setiap bulan tetap harus ke dokter anak sampai 1 tahun. Ya, sekalian vaksin, sekalian tumbuh kembangnya dicek semuanya ya. Kurva-kurvanya dilihat, apakah tumbuhnya naik atau enggak ya, sesuai atau enggak," jelas dr. Ian.Jika kenaikan berat badan mulai melandai atau tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan, kondisi ini perlu segera diperhatikan. Penurunan pertumbuhan dalam satu bulan mungkin masih bisa terjadi, tetapi jika berlangsung hingga dua bulan atau lebih, biasanya menandakan adanya masalah yang perlu segera ditangani."Mungkin satu bulan enggak bagus, enggak apa-apa. Tapi kalau dua bulan enggak bagus, pasti ada masalah. Jadi kalau enggak naik terus, baru itu jadi stunting," kata dia.Sarihusada Luncurkan Kampanye “Pejuang Berat Badan Anak”Sarihusada meluncurkan kampanye "Pejuang Berat Badan Anak" di momentum Hari Gizi Nasional 2026. Foto: Nabilla Fatiara/kumparanDemi mengatasi permasalahan kesehatan anak di Indonesia, Sarihusada meluncurkan kampanye “Pejuang Berat Badan Anak” yang bertujuan untuk mengajak para orang tua pejuang berat badan anak agar lebih memahami pentingnya nutrisi seimbang, deteksi dini, dan pemantauan rutin agar anak mencapai berat badan ideal serta terhindar dari gangguan pertumbuhan. Kampanye ini juga merupakan keberlanjutan dari komitmen dan upaya Sarihusada yang telah berhasil dilakukan pada tahun 2025 melalui gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) dan kampanye aksi “3 Langkah Maju”, yang telah meraih Rekor MURI skrining pertumbuhan anak terbanyak dengan menjangkau 1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia."Sarihusada memiliki gerakan bernama ‘Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS)’ yang pada 2025 lalu telah memecahkan dua Rekor MURI. Untuk Rekor MURI pertama yang dicatat adalah ‘Skrining Stunting secara Daring kepada Peserta Terbanyak' dengan 1.155.524 peserta. Sedangkan Rekor MURI kedua adalah ‘Penyuluhan dan Skrining Stunting secara Luring kepada Peserta Terbanyak, yaitu sebanyak 10.195 peserta," ujar CEO PT. Sarihusada Generasi Mahardika (“Sarihusada”), Joris Bernard.Sementara itu, Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director, Sarihusada, Angelia Susanto, mengungkapkan kampanye ini bisa meningkatkan kesadaran tentang pentingnya deteksi sejak dini risiko gangguan pertumbuhan si kecil. Salah satunya adalah melakukan Growth Checker untuk #PejuangBBanak.Sehingga, ketika seorang anak diindikasi mengalami masalah kesehatan, maka bisa segera mendapat intervensi gizi yang tepat."Sebab, kami percaya, dengan intervensi gizi yang tepat, anak-anak Indonesia bisa tumbuh sehat dan berkembang secara optimal untuk jadi generasi maju,” tutup Angelia.