Sugianto penjual koran di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (3/3). Foto: Arfiansyah Panji/kumparanSaya suka cerita ini. Sederhana, tapi menampar. Bukan soal uang, melainkan soal ukuran “cukup”. Suatu hari, orang sekaya Bill Gates ditanya: Adakah yang lebih kaya darinya? Jawabannya tidak panjang. Tidak pakai grafik kekayaan. Tidak pakai laporan keuangan.“Hanya satu orang.”Menarik. Orang terkaya di dunia—setidaknya pada zamannya—mengaku kalah. Bukan oleh konglomerat lain dan bukan oleh raja minyak, melainkan oleh penjual koran.Ceritanya terjadi jauh sebelum Microsoft menjadi raksasa. Jauh sebelum dunia mengenal Windows. Seorang anak muda kurus—mungkin tampak biasa saja—berdiri di bandara New York. Ia ingin membeli koran, tetapi tidak punya cukup uang. Di titik itu, hidup sering kali terasa kejam, bahkan untuk hal sekecil koran.Kemudian, datang seorang anak penjual koran. Ia tidak menawarkan diskon. Tidak menawar. Tidak juga menghardik. Ia hanya berkata sederhana,“Ambil saja. Gratis.”Ilustrasi penjual koran. Foto: Nugroho Sejati/kumparanGratis—dari seseorang yang bahkan hidup dari recehan. Itu bukan transaksi. Itu keputusan. Keputusan untuk memberi ketika dirinya sendiri belum selesai dengan kekurangan.Tiga bulan kemudian, kejadian yang sama terulang. Dan jawabannya masih sama.“Aku memberimu dari keuntungan kecilku.”Kalimat itu tampak ringan. Namun jika dipikir, justru di situlah beratnya. Karena memberi dari kelebihan itu mudah. Memberi dari kelapangan itu biasa. Namun memberi dari “keuntungan kecil”—itu berbeda. Itu bukan soal nominal. Itu soal keberanian mengurangi diri sendiri.Waktu berjalan, 19 tahun. Anak itu mungkin tidak pernah berpikir bahwa orang yang ia beri koran gratis akan menjadi salah satu manusia terkaya di planet ini. Sementara Gates—yang kini punya segalanya—justru tidak bisa melupakan dua lembar koran itu. Ia mencari, menemukan, lalu menawarkan balasan, “Minta apa saja.” Kalimat yang, bagi banyak orang, adalah pintu menuju hidup baru. Namun, jawaban pemuda itu justru menutup pintu itu dengan halus.“Anda tidak akan pernah bisa mengimbangiku.”Bukan sombong. Bukan menolak. Namun jujur.Karena ukuran memberi memang bukan pada jumlahnya, melainkan pada kondisinya. Ia memberi saat ia miskin. Gates ingin memberi saat ia sudah kaya. Di situ letak jurangnya. Yang satu memberi ketika dunia belum berpihak padanya. Yang satu memberi ketika dunia sudah bertekuk lutut. Bagaimana mungkin itu setara?Ilustrasi memberi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparanKita sering salah paham soal kaya. Kita kira kaya itu soal angka. Soal aset. Soal rekening. Soal grafik yang terus naik. Padahal, ada jenis kekayaan lain yang tidak tercatat di mana-mana, sebuah kekayaan yang tidak bisa diaudit: kemampuan memberi tanpa menunggu cukup.Banyak orang menunda kebaikan. “Nanti saja kalau sudah mapan.” “Nanti kalau sudah sukses.” “Nanti kalau sudah longgar.” Padahal, “nanti” itu sering kali tidak pernah datang. Atau kalau datang pun, maknanya sudah berbeda. Karena memberi saat berlebih itu terasa seperti membuang sisa, bukan lagi sebuah pengorbanan.Anak penjual koran itu mungkin tidak pernah punya perusahaan. Tidak punya saham. Tidak punya nama besar. Namun ia punya sesuatu yang bahkan tidak bisa dibeli oleh orang sekaya Bill Gates sekalipun: Ketulusan yang lahir dari kekurangan. Dan di titik itulah, ia menjadi lebih kaya. Bukan di dompetnya, melainkan di dalam dirinya.Jadi, siapa yang lebih kaya? Jawabannya sederhana. Bukan yang paling banyak memiliki, melainkan yang paling dulu berani memberi, bahkan saat belum memiliki apa-apa.