Momen Langka Kelahiran Paus Sperma di Laut Terekam, Libatkan 'Paus Bidan'

Wait 5 sec.

Ilustrasi paus sperma berenang di laut. Foto: MuMa Museo del Mare di Milazzo/Handout via REUTERSKelahiran paus sperma di perairan Karibia timur, lepas pantai Dominika, terekam kamera penelitian. Menariknya, dokumentasi itu juga menunjukkan bagaimana induk paus sperma dibantu oleh kelompoknya, yang menjadi 'bidan' dadakan.Tim ilmuwan dari Project CETI merekam peristiwa tersebut pada 8 Juli 2023 menggunakan drone, auido bawah laut, dan fotografi dari kapal. Mereka menyajikan laporan paling rinci sejauh ini tentang proses kelahiran pada paus sperma, bahkan untuk seluruh kelompok cetacea, seperti paus, lumba-lumba, dan pesut.Sebanyak 11 paus sperma terlibat dalam momen ini, terdiri dari 10 betina, termasuk induk, dan satu jantan remaja yang berada di pinggiran kelompok. Peran utama dipegang oleh paus-paus betina dewasa yang secara aktif membantu proses kelahiran layaknya 'bidan'.Induk paus sepanjang sekitar 10 meter dikelilingi rapat oleh anggota kelompoknya. Setelah bayi paus lahir, individu-individu ini bergantian menopang dan mengangkat tubuh bayi ke permukaan laut.Proses tersebut krusial karena paus adalah mamalia yang bernapas dengan paru-paru. Bayi harus segera mencapai permukaan untuk mengambil napas pertama.Pengamatan menunjukkan bayi paus berhasil diangkat ke permukaan dalam waktu kurang dari satu menit setelah lahir. Proses kelahiran sendiri berlangsung sekitar 34 menit, dihitung sejak bagian ekor bayi mulai keluar hingga seluruh tubuh lahir.Perilaku mengangkat ini tidak berhenti setelah kelahiran. Para paus betina terus menopang dan mendorong bayi ke permukaan selama beberapa jam. Mereka juga tampak sering menyentuh tubuh bayi, membentuk kelompok rapat yang berfungsi sebagai perlindungan sekaligus dukungan fisik.Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science dan Scientific Reports. Peneliti dari Project CETI, Alaa Maalouf, menyebut perilaku ini sebagai bentuk kerja sama tingkat tinggi yang menunjukkan kompleksitas sosial paus sperma."Kami mengamati periode perawatan yang sangat kooperatif segera setelah kelahiran. Paus-paus tersebut membentuk kelompok yang sangat rapat di sekitar bayi yang baru lahir, berulang kali menyentuhnya, menopangnya dengan tubuh mereka, serta bergantian mengangkat dan mendorongnya ke permukaan. Perilaku mengangkat ini berlangsung selama beberapa jam," kata Maalouf, anggota tim robotika dan machine learning Project CETI, sekaligus penulis utama studi, mengutip Reuters.Ahli biologi kelautan dan Presiden Project CETI sekaligus penulis pendamping riset, David Gruber, menjelaskan risiko saat kelahiran tergolong tinggi karena bayi paus belum mampu berenang atau bergerak secara mandiri. Tanpa bantuan, bayi berisiko tenggelam sebelum sempat bernapas.Fenomena kerja sama seperti ini sebelumnya juga diamati pada paus pembunuh, paus pembunuh palsu, dan beluga. Para peneliti memperkirakan perilaku ini sudah ada sejak nenek moyang bersama spesies tersebut lebih dari 30 juta tahun lalu.Ilustrasi paus sperma berenang di laut. Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTOMenariknya, paus-paus yang terlibat berasal dari dua kelompok keluarga yang biasanya terpisah. Dalam kondisi normal, paus sperma hidup dalam unit keluarga matrilineal berisi sekitar 10 hingga 12 individu. Namun saat kelahiran, batas kelompok tampak melebur."Paus sperma jantan meninggalkan kelompok kelahirannya saat memasuki masa remaja awal. Nenek, induk, dan anak betina akan hidup bersama seumur hidup sebagai satu kelompok," kata Shane Gero, ahli biologi utama Project CETI. "Paus betina hidup dalam kelompok ini untuk saling bekerja sama dalam melindungi dan membesarkan anak, sementara paus jantan dewasa umumnya hidup menyendiri dan menjelajah antar-samudra untuk mencari pasangan.”Kehadiran paus jantan remaja dalam peristiwa ini menjadi temuan yang tidak biasa. Hal ini memperkuat dugaan bahwa struktur sosial paus sperma lebih kompleks daripada sekadar hubungan keluarga dekat.Paus sperma dikenal sebagai paus bergigi terbesar, dengan panjang jantan bisa mencapai 18 meter. Mereka juga memiliki otak terbesar di dunia hewan, dengan berat sekitar 8 kilogram. Kemampuan kognitif mereka mencakup komunikasi, perencanaan, hingga respons emosional seperti empati.Perubahan vokalisasi juga terdeteksi selama proses kelahiran, termasuk saat awal kontraksi dan ketika kelompok paus lain mendekat. Setelah beberapa jam, kelompok besar ini kembali terpecah menjadi unit-unit kecil untuk mencari makan.Catatan ilmiah terakhir tentang kelahiran paus sperma di alam liar sebelumnya terjadi pada 1986, dan hanya berupa deskripsi tertulis. Dokumentasi terbaru membuka perspektif baru tentang kecerdasan dan kerja sama sosial mamalia laut ini.