Dua buah kapal melakukan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (13/2/2023). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal HidayatBadan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 terjadi surplus sebesar USD 1,27 miliar. Surplus neraca perdagangan ini terjadi selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.Surplus neraca perdagangan ini didorong oleh komoditas nonmigas yang menyumbang surplus USD 2,19 miliar yakni lemak dan minyak hewan/nabati. Sementara itu, neraca perdagangan komoditas migas defisit sebesar USD 0,92 miliar dengan beberapa komoditas penyumbang yaitu minyak mentah, hasil minyak, dan gas.Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan sepanjang Januari-Februari 2026, surplus neraca perdagangan kumulatif mencapai USD 2,23 miliar, turun USD 4,36 miliar dari periode yang sama tahun lalu."Surplus sepanjang periode Januari-Februari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 5,42 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 3,19 miliar,” ungkap Ateng pada konferensi pers, Rabu (1/4).Ateng menjelaskan, nilai ekspor kumulatif naik 2,19 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencatat nilai ekspor sebesar USD 37,06 miliar atau naik 6,69 persen.Tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia adalah China, Amerika Serikat (AS), dan India. Kontribusi ketiga negara ini sekitar 43,85 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Februari 2026.China masih menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD 10,46 miliar (24,69 persen), disusul AS sebesar USD 5,00 miliar (11,81 persen), dan India sebesar USD 3,11 miliar (7,35 persen).Ilustrasi bongkar muat peti kemas Foto: ANTARA/Sigid KurniawanEkspor nonmigas ke China pada periode Januari-Februari 2026 didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke AS didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, pakaian dan aksesorisnya (rajutan).Sementara itu, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga Februari 2026 mencapai USD 42,09 miliar, atau naik 14,44 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor USD 36,93 miliar, naik 17,49 persen. Sedangkan impor migas mengalami penurunan 3,50 persen menjadi USD 5,16 miliar.Dari sisi penggunaan, peningkatan impor periode Januari-Februari 2026 secara kumulatif terjadi baik pada barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor barang modal mencapai USD 9,10 miliar atau naik 34,44 persen. Sedangkan nilai impor bahan baku/penolong mencapai USD 29,40 miliar atau naik 9,27 persen.Sepanjang periode Januari-Februari 2026, China menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai USD 15,68 miliar (42,46 persen), diikuti Australia dengan nilai USD 2,07 miliar (5,60 persen), dan Singapura sebesar USD 2,00 miliar (5,41 persen).Surplus perdagangan nonmigas hingga Februari 2026 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan/nabati (USD 6,49 miliar), bahan bakar mineral (USD 4,01 miliar), besi dan baja (USD 2,70 miliar), nikel dan barang daripadanya (USD 1,97 miliar), serta alas kaki (USD0,99 miliar).