Pemandangan indah dengan hamparan laut biru, deretan kapal, dan permukiman warga di Bajo Pulau, Kecamatan Sape, Bima. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)Bima, wilayah di timur Pulau Sumbawa, harus menjadi magnet pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur. Daerah ini memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah dan menjadi kekuatan utama bagi kesejahteraan masyarakatnya. Hamparan sawah yang ditanami padi menjadi sumber pangan yang menghidupkan ribuan jiwa masyarakatnya. Di wilayah perbukitan dan pegunungan, jagung dan berbagai tanaman palawija tumbuh subur, menggerakkan ekonomi sekaligus menjadi harapan bagi kesejahteraan rakyat. Selain itu, potensi peternakan juga tidak dapat dilupakan. Bima memiliki sumber daya peternakan yang melimpah, didukung oleh kondisi alam dan hamparan rerumputan hijau yang menjadi sumber penghidupan bagi sektor peternakan.Hamparan padi dan pemandangan alam yang memukau di Desa Nggembe, Kecamatan Bolo, Bima. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)Tidak hanya itu, laut Bima menyimpan kekayaan ikan yang melimpah. Gugusan pulau-pulau yang indah di sekitarnya juga memiliki potensi wisata yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik, sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata dapat menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi daerah.Hamparan laut biru dengan latar Gunung Sangiang Api yang tampak dari kejauhan. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)Untuk mewujudkan Bima sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur, diperlukan kesadaran bersama tentang pentingnya cinta tanah air, semangat membangun daerah, serta komitmen menghadirkan keadilan sosial dan pemerataan infrastruktur hingga ke pelosok Nusantara.Ke depan, pembangunan Bima harus diarahkan pada penguatan sektor pertanian modern, pengembangan industri pengolahan hasil laut dan pertanian, serta peningkatan konektivitas wilayah melalui infrastruktur yang merata. Dengan langkah tersebut, Bima tidak hanya menjadi daerah penghasil, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Saya merasa kagum dan sumringah melihat keindahan Bima. Ternyata tempat saya dilahirkan tidak kalah indah dengan berbagai tempat lain di Indonesia. Perasaan itu semakin kuat ketika saya menyadari bahwa di balik keindahannya, Bima juga menyimpan harapan besar untuk masa depan.Saya menulis secercah harapan ini di atas kapal ferry KMP Cakalang dengan rute penyeberangan Sape menuju Labuan Bajo pada Minggu, 29 Maret 2026. Di tengah birunya laut dan aktivitas para penumpang, pandangan saya tertuju pada pulau-pulau indah di ujung timur Nusa Tenggara Barat, diantaranya Pulau Sangiang, Pulau Banta, hingga Pulau Komodo yang masuk wilayah Nusa Tenggara Timur. Pemandangan itu seolah mengingatkan bahwa Bima memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan layak menjadi perhatian dalam pembangunan nasional.Saya tidak menyangka perjalanan yang serba mendadak ini justru menakdirkan saya menempuh rute perjalanan yang begitu eksotik. Dari perjalanan ini, saya semakin yakin bahwa masa depan Bima sangat bergantung pada bagaimana kita semua menjaga, mengelola, dan mengembangkan potensi daerah dengan baik.Semoga ke depan Bima semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, dan generasi mudanya menjadi bagian dari perubahan menuju masa depan yang lebih baik.