Pemerintah Thailand Pangkas Subsidi BBM Usai Defisit Anggaran Melebar

Wait 5 sec.

Para pengemudi mengantre dalam kemacetan lalu lintas sambil menunggu untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka di luar sebuah SPBU di pinggiran Bangkok, Thailand (16/3/2026). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERSJutaan pengendara di seluruh Thailand bakal terkejut pada Kamis 2 April pagi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak yang paling tajam dalam beberapa dekade terakhir. Situasi ini diambil pemerintah setelah memutuskan untuk membatasi subsidi yang tertekan oleh lonjakan biaya minyak global.Pengumuman harga yang dilakukan secara mendadak pada Rabu malam mengungkapkan kenaikan sebesar 6 Baht per liter yang mulai berlaku pada hari Kamis. Keputusan ini menyebabkan harga bensin melonjak antara 14-22 persen pada Kamis pagi. Harga solar yang merupakan tulang punggung sektor transportasi, pertanian, dan industri Thailand naik 18 persen."Memperparah beban bagi rumah tangga dan bisnis yang sudah menghadapi kenaikan biaya hidup," tulis laporan Bloomberg seperti yang dikutip kumparan, Rabu (1/4).Dampaknya terasa seketika. Antrean panjang kendaraan yang mengular di stasiun pengisian bahan bakar sepanjang malam.Kekhawatiran akan kelangkaan dan kenaikan biaya sebenarnya telah meningkat selama beberapa minggu terakhir.Subsidi Sejak 1970-anKendaraan mengisi bensin di SPBU PTT di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di pinggiran Bangkok, Thailand (16/3/2026). Foto: Athit Perawongmetha/REUTERSKenaikan ini menandai titik balik bagi rezim subsidi bahan bakar Thailand yang telah berlangsung lama sejak guncangan minyak tahun 1970-an. Anggaran BBM dirancang untuk menstabilkan dan mensubsidi harga domestik. Namun melihat defisitnya semakin melebar seiring kenaikan biaya minyak mentah global setelah perang di Iran memaksa pemerintah untuk mengurangi dukungan fiskal.Per tanggal 22 Maret, Thailand mengalami defisit sebesar 28,1 miliar baht atau sekitar USD 857 juta.Pemerintah Perdana Menteri, Anutin Charnvirakul, terpaksa mencabut batas harga solar minggu ini guna membendung tekanan fiskal yang meningkat. Hal ini menunjukkan batas kemampuan intervensi negara saat pasar energi global semakin mengetat."Kenaikan harga bahan bakar ini diperkirakan akan berdampak luas ke seluruh sektor ekonomi, meningkatkan biaya transportasi serta produksi, dan menambah tekanan inflasi pada bahan pangan serta kebutuhan pokok lainnya," tulis Bloomberg.Rapat Darurat KabinetPemimpin Partai Bhumjaithai, Anutin Charnvirakul saat para anggota parlemen memilih perdana menteri Thailand di ruang sidang parlemen di Bangkok, Thailand, Jumat (5/9/2025). Foto: CHANAKARN LAOSARAKHAM/AFPAnutin mengadakan rapat kabinet darurat pada hari Kamis untuk mengatasi lonjakan harga tersebut dan menginstruksikan para menteri guna mengusulkan langkah-langkah dalam meringankan biaya energi dan biaya hidup.Kabinet telah menyetujui rencana untuk memotong pajak cukai bahan bakar guna membantu menurunkan harga eceran. Pemerintah juga akan meningkatkan tunjangan bagi pemegang kartu kesejahteraan, mensubsidi pupuk bagi petani dan bahan bakar bagi sektor perikanan, serta memberlakukan pengendalian harga pada barang-barang kebutuhan pokok.Secara terpisah, Bank Sentral Thailand merilis surat terbuka dari Gubernur Vitai Ratanakorn kepada Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa "harga minyak yang lebih tinggi dapat membawa inflasi kembali ke dalam kisaran target bank sentral lebih cepat dari yang diperkirakan," tulis Vitai.Inflasi utama, yang telah berada di wilayah negatif selama hampir satu tahun, dapat kembali ke kisaran target satu persen hingga tiga persen lebih awal dari antisipasi sebelumnya. Hal ini didorong oleh kenaikan biaya energi serta potensi gangguan pada produksi global, transportasi, dan rantai pasokan yang terkait dengan konflik di Timur Tengah, tulis Vitai.