Presiden Prabowo Subianto blusukan ke permukiman di bantaran rel dekat Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (25/3/2026). Foto: Cahyo - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat PresidenPemerintah menargetkan pembangunan hunian layak bagi warga bantaran rel di kawasan Senen dan Tanah Abang, Jakarta, selesai pada 15 Juni 2026.Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menitikberatkan pada target penyelesaian proyek dibanding waktu dimulainya pembangunan."Kita enggak bicara mulainya, kita bicara selesainya. Selesainya tanggal 15 Juni di Tanah Abang, di Senen, di Kramat, itu tanahnya Angkasa Pura tanggal 15 Juni [2026]," jelas Menteri yang akrab disapa Ara itu di Kantor BP BUMN, Rabu (1/4).Kata Ara, sebanyak 300 unit hunian akan dibangun di lahan milik Angkasa Pura di kawasan Kramat, Senen. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembangunan 500 unit hunian di Tanah Abang di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI)."Jadi kita bicara selesainya aja. Kemudian tadi atas arahan Pak Dony dengan sangat cepat Pak Dirut Kereta Api juga nanti ada di Tanah Abang ada 500 unit [hunian] yang selesainya juga 15 Juni 2026," kata dia.Ara menyebut pendekatan yang digunakan dalam proyek ini merupakan pola kerja baru yang lebih menekankan kepastian hasil akhir."Jadi ini adalah model pekerjaan baru yang saya rasa diinisiasi oleh Pak Dony Oskaria yang bukan bicara mulainya kapan, tapi selesainya kapan. Jadi ini suatu kepastian yang luar biasa," ucap Ara.Konferensi pers tindak lanjut pembangunan hunian layak untuk warga bantaran Rel KA Senen-Tanah Abang, di Kantor BP BUMN, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparanAdapun, pembangunan fisik hunian di kawasan Senen dipastikan mulai berjalan pada 2 April 2026.Di luar proyek yang dikerjakan BUMN, Ara juga membuka peluang kolaborasi dengan sektor swasta. Katanya, pembangunan hunian di lahan milik KAI nantinya melibatkan perusahaan swasta melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR)."Jadi hari Minggu [5 April] jam 3 saya akan hadir bersama Pak Dirut kereta api di lokasi yang tentukan untuk kita juga membangun rumah kolaborasi antara kereta api dan juga swasta dalam konteksnya tanahnya tetap punya kereta api nanti yang bangun adalah CSR dari swasta," tutur Ara.Sementara itu, Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN Dony Oskaria mengatakan pemanfaatan aset-aset BUMN yang selama ini belum optimal akan diarahkan untuk kepentingan masyarakat sekitar, termasuk pembangunan hunian.Dony juga sedang memetakan aset-aset BUMN lain yang berada di kota-kota besar dan dinilai potensial untuk dijadikan lokasi pembangunan perumahan."Sehingga kita berharap program ini berjalan dengan cukup baik dan kita sedang melakukan mapping juga seluruh aset-aset kita yang ada di terutama sekali di kota-kota yang memang dibutuhkan pembangunan perumahan dengan secepat mungkin," jelas Dony.Untuk pengerjaan proyek, Dony memastikan pembangunan hunian di lahan milik Angkasa Pura akan melibatkan perusahaan BUMN Karya milik negara. Meski begitu, dia tak menyebut nama pasti BUMN apa yang bakal garap."Jadi nanti Angkasa Pura dengan [BUMN] Karya-Karya yang akan megerjakan," ucap Dony.Program pembangunan hunian ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto usai meninjau langsung permukiman warga di bantaran rel kawasan Senen, Jakarta Pusat, pada Kamis (25/3) lalu.Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Prabowo memerintahkan sejumlah kementerian dan BUMN untuk segera menyiapkan hunian bagi warga yang tinggal di pinggir rel kereta."Presiden Prabowo langsung memerintahkan Menteri Perumahan melalui telepon karena sedang di Toba (diwakili Sekjen Menteri), Menteri Pekerjaan Umum, Dirut Perumnas, dan KAI (Kereta Api Indonesia), serta beberapa pejabat terkait untuk membangun rumah hunian bagi warga yang masih tinggal di pinggir rel kereta api," kata Seskab Teddy Indra Wijaya lewat Instagram @sekretariat.kabinet, Jumat (27/3)."Hari ini juga tim sudah bergerak untuk menyiapkan proses pembangunan hunian baru yang letaknya tidak jauh dari kawasan asli tinggal mereka," ucap Teddy.Menurut Teddy, pembangunan hunian ini merupakan hasil dari menyerap aspirasi warga. Sebab, warga sudah tinggal dalam rumah yang tak layak di bantaran rel selama puluhan tahun.