Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara selama Debat Umum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di markas besar PBB di Kota New York pada 24 September 2025. Foto: Angela Weiss/AFPPresiden Iran Masoud Pezeshkian merilis surat terbuka berbahasa Inggris yang ditujukan langsung kepada rakyat Amerika Serikat (AS) pada Kamis (2/4) melalui platform X. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa Iran tak pernah memusuhi masyarakat Amerika dalam konflik yang berlangsung dan mempertanyakan alasan di balik aksi militer Washington."Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, dan negara tetangga lainnya," tulisnya.Ia juga menekankan bahwa masyarakat Iran selalu membedakan antara pemerintah dan rakyat suatu negara, dan prinsip itu disebut sebagai bagian dari budaya yang sudah mengakar.Pertanyakan Alasan Perang ASPezeshkian secara terbuka mempertanyakan dasar tindakan militer AS terhadap Iran.Ia menyinggung apakah benar ada ancaman nyata dari Iran yang bisa membenarkan serangan tersebut, serta menyoroti dampak terhadap warga sipil dan infrastruktur."Apakah benar ada ancaman objektif dari Iran untuk membenarkan tindakan ini?" tulisnya dalam surat tersebut.Dalam surat itu, ia juga menyinggung akar ketegangan Iran-AS, termasuk kudeta tahun 1953 yang didukung AS, sanksi ekonomi, hingga konflik militer di masa lalu.Menurutnya, peristiwa-peristiwa tersebut membentuk ketidakpercayaan Iran terhadap Washington hingga saat ini.Dalam suratnya, ia juga mengkritik keras kebijakan AS yang dinilai memberikan dukungan terhadap operasi militer Israel, termasuk di wilayah yang berdampak pada warga sipil.“Dukungan tanpa syarat terhadap tindakan Israel telah berkontribusi pada penderitaan manusia dan memperburuk instabilitas di kawasan,” tulisnya.Klaim Tak Pernah Memulai PerangPezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai konflik dalam sejarah modernnya."Iran tidak pernah memilih jalan agresi, tetapi selalu membela diri dengan langkah terukur saat diserang," tulisnya.Ia juga menyebut bahwa tindakan militer Iran selama ini merupakan bentuk pertahanan diri, bukan agresi.Dalam suratnya, Pezeshkian juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang dianggapnya mendasar. Ia menyoroti kepentingan rakyat AS yang mana yang benar-benar dilayani oleh perang ini."Apakah ada ancaman nyata dari Iran yang bisa membenarkan tindakan seperti ini?" tulisnya.Pezeshkian pun menyebutkan serangan AS ke Iran berdampak langsung pada warga sipil, seperti ke sekolah anak-anak dan fasilitas farmasi untuk pengobatan kanker. Ia juga menyindir komentar Presiden AS Donald Trump tentang "mengembalikan Iran ke zaman batu". "Apakah kebanggaan membombardir suatu negara hingga 'kembali ke zaman batu' memiliki tujuan lain selain semakin merusak posisi AS di mata dunia?" tulis Pezeshkian.Seruan: Pilih Dialog, Bukan KonfrontasiDi bagian akhir, Pezeshkian menggambarkan situasi global saat ini sebagai titik krusial."Dunia berada di persimpangan jalan," tulisnya, seraya memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan akan membawa dampak besar bagi generasi mendatang.Ia pun mengajak publik AS untuk mempertanyakan narasi yang berkembang dan mempertimbangkan jalur dialog dibanding konfrontasi.Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara selama Debat Umum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di markas besar PBB di Kota New York pada 24 September 2025. Foto: Angela Weiss/AFPSurat terbuka ini dinilai sebagai langkah diplomasi publik Iran untuk memengaruhi opini masyarakat Amerika di tengah konflik yang terus memanas, sekaligus menekan pemerintah AS agar mempertimbangkan deeskalasi.Meskipun surat tersebut terdengar membuka ruang dialog, belum jelas seberapa besar pengaruhnya. Dalam sistem politik Iran, Presiden Masoud Pezeshkian tidak memiliki keputusan akhir. Kekuasaan itu berada di tangan Pemimpin Tertinggi, Mojtaba Khamenei, yang menentukan isu-isu besar seperti pembicaraan dengan AS atau keputusan untuk mengakhiri perang.